Media Bangsa – BRIN soroti potensi vulkanotsunami Anak Krakatau yang tidak serta-merta rendah. Anomali muka laut memang belum terdeteksi di sekitar gunung tersebut. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai risiko itu perlu terus dievaluasi secara dinamis selama aktivitas vulkanik masih berlangsung.
Penilaian Risiko Harus Gabungkan Data Vulkanik dan Sensor Laut
Periset Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH) BRIN Widjo Kongko mengatakan penilaian potensi vulkanotsunami harus menggabungkan perkembangan aktivitas gunung api. Penilaian ini juga membutuhkan data berbagai sensor laut dan vulkanik secara real-time.
“Hasil pemantauan pada 7 September 2026 menunjukkan 20 tsunami gauge di sekitar Selat Sunda belum mencatat anomali muka laut yang mengindikasikan tsunami. Pemantauan menggunakan HF Radar Carita–Tanjung Lesung juga belum menunjukkan indikasi tsunami yang signifikan,” ujar Widjo, dalam keterangan tertulis yang InfoPublik terima, Rabu (16/9/2026).
Menurutnya, hasil tersebut merupakan fakta berdasarkan kondisi yang pemantauan amati saat itu. Namun, kesimpulan itu berbeda dengan menyatakan potensi vulkanotsunami Anak Krakatau rendah.
Beragam Mekanisme Bisa Picu Vulkanotsunami
Vulkanotsunami dapat terbentuk melalui sejumlah mekanisme. Mekanisme ini antara lain erupsi eksplosif, runtuhan atau kolaps struktur gunung api, masuknya aliran piroklastik ke laut, proses bawah laut, maupun kombinasi berbagai mekanisme.
Karena itu, formulasi yang lebih tepat adalah belum terdapat indikasi tsunami berdasarkan hasil pemantauan multi-sensor. Kesimpulan tersebut tetap perlu pembaruan mengikuti perubahan aktivitas vulkanik dan kondisi laut.
Widjo menjelaskan aktivitas seismik dan tremor gunung api tidak secara langsung menentukan apakah tsunami akan terjadi. Data ini juga belum menentukan seberapa besar tsunami yang mungkin terbentuk. Perubahan aktivitas gunung api memang dapat memberikan informasi mengenai dinamika dan kemungkinan meningkatnya ketidakstabilan. Namun, data tersebut belum dapat memastikan apakah perpindahan massa ke laut akan terjadi. Data ini juga belum memastikan berapa volumenya, seberapa cepat material bergerak, maupun seberapa tinggi tsunami yang terbentuk.
Sensor Laut Jadi Kunci Deteksi Tsunami Nontektonik
Hal ini berbeda dengan tsunami tektonik. Magnitudo, kedalaman, lokasi, dan mekanisme gempa relatif lebih mudah menentukan parameter sumber tsunami tektonik. Atas dasar itu, pemantauan Anak Krakatau membutuhkan sistem yang menggabungkan data aktivitas vulkanik dan kondisi laut. Sensor seismik dan vulkanik memberikan informasi mengenai proses di tubuh gunung api. Sensor laut menjadi instrumen penting untuk mendeteksi perubahan muka laut secara langsung.
Tide gauge dapat mengonfirmasi perubahan muka laut. Namun, petugas umumnya menempatkannya di wilayah pantai. Karena itu, waktu deteksi terhadap sumber tsunami yang sangat dekat bisa relatif singkat. Sementara itu, HF Radar memiliki cakupan pengamatan laut yang lebih luas. Sensor tekanan atau tsunameter di laut lepas secara konsep juga dapat mendukung deteksi lebih dini.
Tsunami Selat Sunda 2018 Dorong Pengembangan Sistem InaTNT
Pengalaman tsunami Selat Sunda pada 2018 menjadi salah satu pembelajaran penting. Peristiwa ini mendorong pengembangan sistem peringatan dini tsunami nontektonik. Gempa tektonik besar tidak mendahului peristiwa tersebut. Hal ini menunjukkan keterbatasan sistem peringatan yang hanya mengandalkan parameter gempa. Kondisi ini mendorong pengembangan InaTNT sebagai sistem pemantauan tsunami nontektonik, dengan Selat Sunda menjadi salah satu kawasan percontohan.
Sistem tersebut mengintegrasikan berbagai instrumen. Instrumen ini antara lain tide gauge, buoy, HF Radar, IDSL, dan AWS water level untuk mendeteksi anomali muka laut dan mendukung pemberian peringatan awal.
Pendekatan multi-sensor menjadi penting karena sumber tsunami tidak hanya berasal dari aktivitas tektonik. Pada Anak Krakatau, kondisi tersebut semakin relevan. Karakteristik sumber vulkanotsunami dapat berubah mengikuti perkembangan aktivitas gunung api.
Status Anak Krakatau Masih Level III Siaga
Sementara itu, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level III (Siaga). Episode erupsi menerus berlangsung sekitar 25 jam pada 4–6 September 2026. Setelah episode ini berakhir, aktivitas permukaan beralih kembali ke erupsi Strombolian. Badan Geologi tetap menyatakan dinamika vulkanisme Anak Krakatau perlu dipantau dan dievaluasi. Probabilitas terjadinya letusan dalam beberapa periode berikutnya masih tinggi.
Badan Geologi juga menetapkan larangan bagi masyarakat, wisatawan, dan pendaki. Mereka dilarang memasuki wilayah dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau.
BRIN Soroti Potensi Vulkanotsunami Perlu Evaluasi Berkelanjutan
Widjo menilai perubahan karakter erupsi tersebut tidak dapat menjadi satu-satunya dasar. Dasar ini tidak cukup untuk menyimpulkan perkembangan risiko vulkanotsunami. Penilaian harus terus diperbarui berdasarkan data aktivitas gunung api sekaligus kondisi laut.
“Belum terdeteksinya tsunami merupakan kesimpulan berdasarkan kondisi yang teramati saat ini, bukan jaminan bahwa tsunami tidak dapat terjadi selama mekanisme sumber vulkanik masih berkembang,” tegasnya.
Karena itu, pendekatan multi-hazard dan multi-sensor menjadi penting. Pendekatan ini menggabungkan pemantauan aktivitas vulkanik, seismik, deformasi, morfologi gunung, serta perubahan muka laut secara real-time.
Bagi masyarakat, pihak berwenang perlu menyampaikan informasi tersebut secara tenang dan akurat. Kewaspadaan tetap diperlukan dengan mengacu pada informasi resmi dan rekomendasi otoritas kebencanaan. Masyarakat sebaiknya tidak membangun kepanikan maupun rasa aman yang keliru.

Tinggalkan Balasan