Media Bangsa – Palembang, September 2026, Sekelompok mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (FK Unsri) yang beranggotakan Fahri Habib Al Azka, Muhammad Chaidar, Inez Shafa Damhudi, Aliya Shafa Kahirunnisa, dan Yusram Praja Hamidi dengan bimbingan Dr. Rahmat Hidayat , M.Sc., Ph.D. berhasil menyelesaikan Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) yang mengangkat isu penyakit Alzheimer. Penelitian tersebut mengembangkan kajian mengenai fraksi eksosomal dari faktor pertumbuhan platelet yang diberikan melalui rute intranasal pada model hewan Alzheimer. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam mengembangkan penelitian kesehatan sekaligus memperkenalkan isu Alzheimer kepada masyarakat melalui sosial media.

Penelitian yang berlangsung di Laboratorium Biomolekuler dan Laboratorium Patologi Anatomi Eureka Research Laboratory, Palembang, menggunakan model tikus Wistar untuk mempelajari perubahan memori dan gambaran patologis yang berkaitan dengan Alzheimer. Tim membandingkan beberapa kelompok perlakuan, termasuk kelompok pembanding dan kelompok yang mendapatkan sediaan faktor pertumbuhan platelet dalam bentuk utuh maupun fraksi eksosomal. Seluruh rangkaian penelitian dilakukan setelah memperoleh persetujuan etik penelitian dari Komite Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya serta menerapkan prinsip 3R dalam penggunaan hewan coba.

Secara umum, penelitian ini diarahkan untuk melihat apakah pendekatan tersebut dapat memberikan perubahan pada fungsi memori spasial serta gambaran deposisi amiloid-β pada otak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuan eksperimental yang telah ditetapkan oleh tim dapat dijawab melalui pengamatan terhadap kedua aspek tersebut. Penelitian ini menjadi tahap awal untuk memahami potensi pendekatan berbasis fraksi eksosomal dalam konteks Alzheimer.

Alzheimer sendiri merupakan penyakit yang tidak hanya berdampak pada kemampuan mengingat, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan berpikir, berkomunikasi, dan menjalani aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut pada akhirnya juga memberikan beban bagi keluarga dan orang yang merawat. Karena itu, mengenali tanda-tanda gangguan kognitif sejak dini menjadi hal yang penting. Keluhan mudah lupa yang semakin sering, kesulitan menjalankan aktivitas yang sebelumnya biasa dilakukan, kebingungan terhadap waktu atau tempat, hingga perubahan perilaku yang tidak biasa perlu mendapat perhatian, terutama apabila keluhan semakin mengganggu kehidupan sehari-hari.

Bagi tim mahasiswa, perjalanan PKM-RE ini bukan hanya tentang menghasilkan sebuah penelitian, tetapi juga tentang bagaimana ilmu kedokteran dapat dikembangkan sejak bangku perkuliahan untuk menjawab persoalan kesehatan yang nyata di masyarakat. Melalui penelitian dan edukasi media sosial, mahasiswa berharap isu Alzheimer tidak hanya dipahami sebagai persoalan “lupa pada usia lanjut”, tetapi sebagai kondisi kesehatan yang perlu dikenali, dipahami, dan diperhatikan bersama.

Penulis: Inez Shafa Damhudi