Media Bangsa — Singapura luncurkan pusat data biologis yang menggunakan sel saraf manusia hidup untuk memproses informasi. Teknologi inovatif ini NUS Medicine, DayOne, dan Cortical Labs kembangkan melalui kolaborasi strategis antara institusi akademik dan perusahaan infrastruktur.
Organisasi ini menggabungkan neuron biologis dengan perangkat keras berbasis silikon untuk mengeksplorasi pendekatan baru dalam komputasi. Pengembangan tersebut membuka peluang penelitian mengenai pemanfaatan jaringan saraf biologis untuk pemrosesan informasi dan pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Singapura Luncurkan Pusat Data Biologis di NUS Medicine
Prototipe pusat data biologis ini tim tempatkan di Life Sciences Institute, National University of Singapore. Sistem tersebut terdiri dari 20 unit CL1, perangkat komputasi biologis yang Cortical Labs kembangkan dengan inovasi tinggi.
Berbeda dari pusat data konvensional yang prosesor elektronik jalankan untuk komputasi, CL1 menggabungkan neuron hidup dengan chip silikon secara terintegrasi. Sistem ini dilengkapi susunan elektroda yang memungkinkan pemberian rangsangan listrik sekaligus perekaman aktivitas jaringan saraf.
Cortical Labs laksanakan demonstrasi pada 6 Agustus 2026 untuk memperlihatkan cara kerja perangkat CL1 dan Cortical Cloud. Sistem ini menghubungkan jaringan neuron dengan perangkat elektronik agar tim dapat pantau aktivitasnya secara real-time.
NUS Medicine menyebut proyek ini bagian dari upaya mengembangkan pusat data biologis di Singapura. Prototipe tersebut menyediakan lingkungan penelitian untuk eksplorasi komputasi biologis melalui beberapa unit perangkat terintegrasi.
Cara Kerja Sel Saraf Manusia dalam Komputasi Biologis
Teknologi yang Cortical Labs kembangkan memanfaatkan pendekatan biological computing atau komputasi biologis. Pendekatan ini manfaatkan jaringan neuron hidup sebagai bagian sistem pemrosesan informasi, bukan sekadar meniru cara kerja otak melalui perangkat lunak.
Pada perangkat CL1, tim kembangkan neuron manusia dari sel punca dan tempatkan pada chip silikon yang lengkapi susunan elektroda. Elektroda tersebut memungkinkan sistem berikan rangsangan listrik kepada neuron sekaligus catat respons aktivitasnya.
Jaringan neuron respons rangsangan dan tunjukkan perubahan aktivitas ketika terima masukan. Dengan dukungan perangkat keras dan perangkat lunak, aktivitas tersebut sistem gunakan dalam eksperimen komputasi.
Cortical Labs kembangkan pendekatan ini melalui konsep Synthetic Biological Intelligence (SBI), yaitu integrasi sistem biologis dengan teknologi komputasi untuk eksplorasi kemampuan pemrosesan informasi menggunakan neuron hidup.
Meski gunakan sel saraf manusia, perangkat CL1 bukanlah otak manusia utuh. Sistem ini manfaatkan jaringan neuron yang dikembangkan dalam kondisi laboratorium dan terintegrasi dengan perangkat elektronik dengan presisi tinggi.
Potensi dan Tantangan Komputasi Biologis untuk AI
Peneliti mulai eksplorasi komputasi biologis sebagai pendekatan alternatif dalam pemrosesan informasi. Jaringan saraf biologis miliki karakteristik yang berbeda dari prosesor konvensional, sehingga penelitian terhadap teknologi ini dapat membantu identifikasi jenis tugas komputasi yang manfaatkan karakteristik tersebut.
DayOne dan Cortical Labs soroti efisiensi energi sebagai salah satu potensi komputasi biologis. Penggunaan neuron hidup buka peluang pengembangan sistem yang membutuhkan energi lebih rendah untuk tugas tertentu.
Namun, potensi tersebut tidak berarti pusat data biologis sudah terbukti lebih hemat energi daripada pusat data AI konvensional. Penilaian efisiensi perlu pertimbangkan kebutuhan energi seluruh sistem, termasuk perangkat pendukung, pengendalian lingkungan, dan pemeliharaan kultur sel. Perbandingan juga perlu gunakan beban kerja dan ukuran kinerja yang sebanding.
Prototipe di Singapura sediakan lingkungan untuk eksplorasi komputasi biologis melalui beberapa unit perangkat. Kolaborasi antara perusahaan teknologi dan institusi akademik turut dukung penelitian di bidang komputasi dan ilmu saraf.
Meskipun tawarkan pendekatan baru, komputasi biologis masih hadapi sejumlah tantangan teknis yang signifikan. Neuron hidup butuh lingkungan terkontrol agar bertahan dan berfungsi optimal, termasuk pemeliharaan kondisi kultur serta pemantauan aktivitas biologisnya secara berkelanjutan.
Kebutuhan tersebut berbeda dari sistem komputasi konvensional yang sebagian besar andalkan komponen elektronik. Integrasi jaringan biologis dengan perangkat keras juga butuh sistem khusus untuk berikan rangsangan, catat respons, dan terjemahkan aktivitas neuron menjadi informasi yang dapat diproses.
Tim peneliti perlu pertimbangkan keandalan perangkat, konsistensi hasil komputasi, serta kemampuan sistem untuk tingkat skalanya. Faktor-faktor tersebut penting untuk tentukan apakah teknologi ini dapat terapkan secara praktis di luar lingkungan penelitian.
Keberhasilan pusat data biologis tidak hanya bergantung pada kemampuan neuron respons rangsangan, tetapi juga pada kinerja keseluruhan sistem dan manfaatnya untuk kebutuhan komputasi tertentu yang spesifik.
Masa Depan Komputasi Biologis dan Infrastruktur AI
Pengembangan pusat data biologis di Singapura tunjukkan upaya untuk eksplorasi penggunaan komponen biologis yang padukan dengan teknologi silikon. Melalui prototipe yang terdiri dari 20 unit CL1, NUS Medicine, DayOne, dan Cortical Labs kembangkan lingkungan penelitian untuk pelajari penerapan komputasi biologis dalam skala terintegrasi.
Teknologi ini belum dapat anggap sebagai pengganti langsung pusat data konvensional untuk aplikasi general-purpose. Kemampuan pemrosesan, efisiensi energi, dan skalabilitasnya masih perlu uji untuk ketahui jenis pekerjaan yang dapat tangani secara efektif.
Hasil penelitian dan pengujian lanjutan akan bantu tentukan potensi komputasi biologis dalam pemrosesan informasi serta kemungkinan penerapannya pada bidang AI di masa mendatang. Perkembangan ini juga jadi bagian dari eksplorasi pendekatan komputasi alternatif di tengah meningkatnya kebutuhan terhadap infrastruktur AI global.

Tinggalkan Balasan