Media Bangsa – Wamen ESDM paparkan strategi ketahanan energi Indonesia dalam forum G20 Energy Abundance Ministerial Meeting. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, menegaskan Indonesia mendukung penuh hak berdaulat setiap negara. Setiap negara berhak menentukan jalur transisi energinya sendiri berdasarkan kondisi nasional. Selain itu, dukungan ini bertujuan menghadapi gejolak energi global menuju net zero emissions atau nol emisi karbon pada 2060 atau lebih cepat.
Yuliot Paparkan Strategi Energi di Forum G20 Houston
Yuliot menyampaikan hal tersebut melalui keterangan resmi. Selanjutnya, ia menghadiri forum G20 Energy Abundance Ministerial Meeting yang berlangsung di Houston, Texas, Amerika Serikat, Rabu (16/9/2026).
Pemerintah Targetkan Produksi Minyak 1 Juta Barel per Hari
Selanjutnya, Yuliot menjelaskan konsumsi BBM nasional mencapai 1,6 juta barel per hari. Sementara itu, produksi dalam negeri baru mencapai 600 ribu barel per hari. Oleh karena itu, untuk menutup celah tersebut, pemerintah menargetkan produksi minyak hingga 1 juta barel per hari.
Selain itu, Indonesia membuka peluang investasi di 118 wilayah kerja migas. Lebih lanjut, langkah ini disertai upaya memelopori implementasi program pencampuran bahan bakar B50 di tingkat global.
Wamen ESDM Paparkan Strategi Program B50 sebagai Terobosan Global
“Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menjalankan program B50. Program ini diproyeksikan mampu menyubstitusi kebutuhan impor solar sebanyak 310 ribu barel per hari, menghemat hampir 10 miliar dolar AS per tahun, sekaligus membuka peluang bagi lebih dari 2 juta lapangan kerja,” kata Yuliot.
RUPTL 2025-2034 Targetkan 69,5 Gigawatt dari Energi Terbarukan
Di sektor ketenagalistrikan, pemerintah menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt. Target ini tertuang dalam RUPTL 2025-2034. Selain itu, sebanyak 76 persen dari kapasitas tersebut akan bersumber dari energi terbarukan.
Di saat yang sama, pemerintah terus mendorong porsi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 100 GWp. Dengan demikian, langkah ini bertujuan menggantikan diesel. Selain itu, langkah ini juga mempertahankan stabilitas pasokan nasional berbasis sumber daya lokal.
Wamen ESDM Ajak G20 Bangun Masa Depan Energi Inklusif
Selanjutnya, “G20 harus mendorong pendekatan yang seimbang yang memajukan ketahanan energi, keterjangkauan, aksesibilitas, dan keberlanjutan. Indonesia siap bekerja sama dengan seluruh anggota untuk membangun masa depan energi global yang inklusif, berkelanjutan, dan aman,” ujar Wamen ESDM, Yuliot Tanjung.

Tinggalkan Balasan