Media Bangsa- Sebuah jembatan di Jalur empat Kawasan Transmigrasi Werianggi-Werabur, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, kini kembali berfungsi setelah diperbaiki melalui gotong royong Universitas Indonesia (UI), pemerintah, dan masyarakat setempat. Infrastruktur yang diberi nama Jembatan Patriot UI Wondama itu menjadi penghubung penting bagi mobilitas warga sekaligus akses distribusi dan aktivitas sosial antarkawasan.
Perbaikan jembatan dilakukan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) UI bersama UPT Kawasan Transmigrasi Werianggi-Werabur dan masyarakat pada 15–16 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pengabdian masyarakat UI sekaligus rangkaian menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sebanyak 22 anggota TEP UI terlibat langsung dalam pengerjaan bersama Kepala UPT Kawasan Transmigrasi dan warga. Kolaborasi tersebut tidak hanya menyelesaikan persoalan infrastruktur, tetapi juga mengembalikan akses yang dibutuhkan masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Jembatan tersebut dirancang dengan mempertimbangkan kondisi geografis dan kebutuhan warga. Anggota TEP UI, Joshua Vincent Gerar Yametis menangani perancangan teknis berdasarkan analisis kebutuhan masyarakat di lapangan.
Setelah desain selesai, proses pembangunan dilakukan secara partisipatif. Pembersihan area, penyediaan material, hingga pengerjaan struktur akhir dilaksanakan secara bahu-membahu antara tim UI dan warga. Pendekatan ini membuat pembangunan tidak berhenti pada hasil fisik. Masyarakat turut terlibat dalam proses pengerjaan sehingga infrastruktur yang dibangun lebih sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kawasan.
Bertemunya Akademik dan Kebutuhan Masyarakat
Perwakilan Ketua Tim Ekspedisi Patriot UI, Assoc. Hendra Kaprisma, mengatakan Jembatan Patriot UI Wondama merepresentasikan pertemuan antara pengetahuan akademik dan kebutuhan nyata masyarakat.
“Hadirnya jembatan ini bukan hanya soal memperbaiki sebuah akses yang rusak. Ini adalah simbol bahwa pembangunan akan menjadi lebih kuat ketika dilakukan bersama, dengan semangat sinergi pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat lokal,” ujar Hendra, dalam keterangan tertulis yang diterima Infopublik, Kamis (20/8/2026).
Menurutnya, penamaan Jembatan Patriot UI Wondama juga memiliki makna sebagai bentuk pengabdian perguruan tinggi yang menghadirkan ilmu pengetahuan untuk menjawab persoalan masyarakat. “Jembatan Patriot UI Wondama mencerminkan titik temu antara ilmu pengetahuan, kepedulian akademis, dan kebutuhan riil dari masyarakat setempat,” katanya.
Kehadiran jembatan ini diharapkan memberikan dampak langsung terhadap mobilitas warga Kawasan Transmigrasi Werianggi-Werabur. Akses yang kembali berfungsi juga dapat mendukung kelancaran distribusi serta aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat.
Perbaikan jembatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Semarak Harmoni Kebersamaan yang digelar dalam suasana peringatan kemerdekaan. Ketua Panitia, Muhammad Yusril Ikhtiar Muhammad, mengatakan kegiatan dirancang bukan sekadar untuk memperingati hari kemerdekaan, tetapi juga memperkuat hubungan antarelemen masyarakat melalui kegiatan yang memberikan manfaat langsung.
Semangat tersebut memperlihatkan bahwa patriotisme tidak selalu diwujudkan melalui kegiatan seremonial. Di kawasan transmigrasi Werianggi-Werabur, nilai tersebut hadir melalui kerja bersama untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Keterlibatan 22 personel TEP UI menjadi bagian dari pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Mereka terdiri atas Yohanes Cahyo Haryono, Stanley Raranta, Bobby Indra Yoga, Samuel Hotasi Sinaga, Joshua Vincent Gerar Yametis, Jody Manggalaningwang, Sal Bintang Alwasi, Muhammad Ulummudin, Muh. Abdul Aziz, Muh Imaduddin B, Naufal Irbah Rabbani, Jefry Anggara, Johan Rio Pamungkas, Roufan Naqib, M. Mujiburrahman, dr. Keliopas Maniagasi, Sarifudin Daeng, Melkias Kedepa, Rahmad Refaldo, Yusril Ikhtiar Muhammad, Maulana Rizqi, dan Rahmad Pasca Try Valent.
Melalui Jembatan Patriot UI Wondama, UI menunjukkan bahwa peran perguruan tinggi dalam pembangunan nasional dapat diwujudkan hingga wilayah 3T. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat menjadi modal penting untuk menghadirkan solusi yang sesuai kebutuhan lokal sekaligus memperkuat akses dan konektivitas masyarakat di pelosok Papua Barat.

Tinggalkan Balasan