Media Bangsa – Universitas Negeri Jakarta (UNJ) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan desa yang berkelanjutan melalui pelaksanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat Wilayah Binaan Universitas. Salah satu implementasi komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan bertajuk “Model Pengembangan Cenderamata Berkelanjutan Berbasis Limbah Kayu dan Bambu untuk Penguatan Identitas Desa Wisata Sukaharja” yang diselenggarakan pada Rabu, 3 Juni 2026, di Desa Sukaharja, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor.

Kegiatan ini diinisiasi oleh tim dosen Fakultas Teknik (FT) UNJ yang terdiri atas Jafar Sodik, S.Pd., M.Ds. dan Prof. Dr. Wesnina, M.Sn. Program tersebut bertujuan memperkuat identitas Desa Sukaharja sebagai desa wisata melalui pengembangan produk cenderamata berbasis potensi lokal yang ramah lingkungan, memiliki nilai ekonomi, serta berorientasi pada prinsip keberlanjutan. Selain itu, kegiatan ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDGs 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), serta SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).

Sebagai salah satu desa yang tengah mengembangkan sektor pariwisata, Desa Sukaharja memiliki potensi sumber daya alam berupa limbah kayu dan bambu yang melimpah. Material tersebut selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, padahal memiliki peluang besar untuk diolah menjadi produk kreatif yang bernilai jual. Melalui kegiatan pengabdian ini, masyarakat diajak memanfaatkan limbah tersebut menjadi berbagai produk cenderamata yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga mampu merepresentasikan karakter dan identitas khas desa wisata.

Selama kegiatan berlangsung, peserta memperoleh materi mengenai konsep desain produk berkelanjutan, strategi pengembangan cenderamata desa wisata, serta praktik langsung mengolah limbah kayu dan bambu menjadi aneka produk kreatif. Beberapa produk yang diperkenalkan antara lain gantungan kunci, gantungan tas, aksesori berbentuk kipas, ornamen anyaman, rumbai bambu, hingga berbagai elemen dekoratif yang dibuat dari bilah bambu kering.

Jafar Sodik menjelaskan bahwa pengembangan ekonomi kreatif desa dapat dimulai dari pemanfaatan potensi yang tersedia di lingkungan sekitar. Menurutnya, limbah kayu dan bambu memiliki karakter visual yang khas sehingga berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah melalui pendekatan desain yang tepat.

“Cenderamata desa wisata tidak harus menggunakan bahan yang mahal. Justru daya tariknya terletak pada keaslian material, kekayaan cerita budaya, serta keterampilan masyarakat dalam mengolahnya. Limbah kayu dan bambu dapat menjadi media kreatif yang memperkuat identitas Desa Sukaharja sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Prof. Dr. Wesnina menekankan bahwa peningkatan kapasitas masyarakat melalui penguatan keterampilan kreatif merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan desa yang berkelanjutan. Menurutnya, kebutuhan pasar terhadap produk ramah lingkungan, berbasis kerajinan tangan, dan memiliki nilai budaya lokal terus mengalami peningkatan.

“Cenderamata yang berkualitas bukan hanya menarik dari sisi visual, tetapi juga mampu menyampaikan cerita. Ketika limbah kayu dan bambu diolah menjadi produk kreatif, masyarakat tidak sekadar menghasilkan kerajinan, tetapi juga menghadirkan pesan mengenai kepedulian terhadap lingkungan, kreativitas, dan identitas Desa Sukaharja sebagai desa wisata,” jelasnya.

Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara partisipatif melalui sesi pemaparan materi, diskusi interaktif, demonstrasi, serta praktik langsung. Pendekatan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk memahami setiap tahapan produksi secara sederhana sehingga dapat diterapkan secara mandiri dan berkelanjutan setelah kegiatan selesai.

Selain keterampilan produksi, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai teknik finishing, pengendalian kualitas produk, pengembangan desain yang menarik, hingga strategi pengemasan sederhana agar produk memiliki daya saing yang lebih baik di pasar wisata. Bekal tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk sekaligus memperluas peluang pemasaran bagi masyarakat Desa Sukaharja.

Melalui program ini, UNJ tidak hanya mendorong pemanfaatan limbah kayu dan bambu menjadi produk kreatif, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi kreatif berbasis potensi lokal. Inisiatif tersebut diharapkan mampu menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat (SDGs 8), memperkuat identitas Desa Sukaharja sebagai desa wisata yang berkelanjutan (SDGs 11), serta mendorong praktik produksi yang lebih bertanggung jawab melalui pemanfaatan kembali limbah sebagai bahan baku produk kreatif (SDGs 12).

Ke depan, hasil kegiatan ini diharapkan dapat menjadi embrio pengembangan katalog produk unggulan Desa Sukaharja, pelaksanaan pelatihan lanjutan, serta model pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi kreatif yang dapat direplikasi di berbagai desa wisata di Indonesia. Melalui pemanfaatan potensi lokal yang inovatif dan berkelanjutan, UNJ terus mempertegas perannya sebagai perguruan tinggi yang menghadirkan pengabdian kepada masyarakat dengan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.