Media Bangsa – Rangkaian Evidence Based Learning (EBL) II mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Gizi FKM Universitas Hasanuddin berlanjut melalui keterlibatan dalam kegiatan Posyandu di Desa Batara, Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep). Posyandu dilaksanakan secara rutin setiap bulan sebagai bagian dari pelayanan kesehatan masyarakat. Pada kegiatan kali ini, mahasiswa turut membantu pelayanan bagi baduta, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui bersama kader Posyandu. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk pembelajaran langsung mahasiswa dalam memahami pelayanan kesehatan dan gizi di masyarakat.

Mahasiswa membantu melakukan pengukuran antropometri pada baduta dan balita yang hadir, meliputi berat badan, panjang badan atau tinggi badan, lingkar lengan atas (LiLA), dan lingkar kepala. Pengukuran tersebut dilakukan untuk mendukung pemantauan pertumbuhan dan kondisi gizi anak. Kegiatan ini juga sejalan dengan instrumen EBL II yang mencakup pengukuran antropometri pada baduta dan balita.

Selain pelayanan kepada anak, mahasiswa turut mengikuti pelayanan bagi ibu hamil dan ibu menyusui yang hadir di Posyandu. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung pelayanan kesehatan dan gizi pada kelompok sasaran EBL II. Berdasarkan informasi dari pihak Posyandu, kegiatan ini memiliki sasaran sebanyak 37 orang dan dilaksanakan secara rutin setiap bulan. Keterlibatan tersebut memperkuat penerapan prinsip learning by doing dalam rangkaian EBL II.

Pada kegiatan tersebut, pihak Posyandu juga memberikan imunisasi, obat cacing, dan vitamin A kepada sasaran yang sesuai. Berdasarkan informasi dari pihak Posyandu, pemberian vitamin A dan obat cacing dilaksanakan pada bulan Februari dan Agustus. Mahasiswa dapat mengamati secara langsung pelaksanaan berbagai pelayanan kesehatan dalam satu kegiatan Posyandu. Pengalaman ini memberikan gambaran nyata mengenai pelayanan kesehatan yang diterima masyarakat di tingkat desa.

Keterlibatan mahasiswa dalam Posyandu menjadi bagian dari proses EBL II dalam mengumpulkan informasi dan memahami kondisi kesehatan serta gizi masyarakat secara langsung. Data dan pengalaman yang diperoleh di lapangan dapat membantu mahasiswa melihat permasalahan gizi tidak hanya dari sisi pengukuran, tetapi juga dari konteks pelayanan kesehatan masyarakat. Hal ini memperkuat proses pembelajaran berbasis bukti yang menjadi dasar pelaksanaan EBL II. Posyandu menjadi salah satu ruang bagi mahasiswa untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan kondisi nyata di lapangan.

Secara keseluruhan, pelaksanaan EBL II di Desa Batara memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Zero Hunger dan SDG 3: Good Health and Well-being. Melalui pengumpulan data kesehatan dan gizi, pengukuran antropometri, serta keterlibatan dalam pelayanan kesehatan masyarakat, mahasiswa berupaya memperoleh gambaran permasalahan yang dapat menjadi dasar penyusunan intervensi gizi berbasis kebutuhan. Pendekatan tersebut mendukung upaya memahami dan menangani permasalahan gizi serta kesehatan secara lebih tepat di tingkat masyarakat. Dengan demikian, EBL II tidak hanya menjadi proses pembelajaran mahasiswa, tetapi juga diarahkan untuk berkontribusi terhadap upaya peningkatan kesehatan dan gizi masyarakat.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, mahasiswa EBL II memperoleh pengalaman untuk menerapkan ilmu gizi sekaligus memahami kondisi masyarakat secara langsung. Keterlibatan dalam Posyandu menjadi salah satu pengalaman lapangan yang memperkaya proses pengumpulan dan pemahaman data dalam EBL II. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi dasar bagi mahasiswa dalam menganalisis permasalahan dan merumuskan rekomendasi intervensi yang sesuai dengan kebutuhan Desa Batara. Dengan pendekatan evidence-based, community-based, dan learning by doing, EBL II menjadi ruang pembelajaran yang menghubungkan pendidikan gizi dengan kebutuhan nyata masyarakat.