Media Bangsa – Gelar sarjana tidak lagi cukup menjadi bekal tunggal untuk memasuki dunia kerja. Perubahan teknologi dan kebutuhan industri membuat lulusan perguruan tinggi perlu menawarkan kombinasi kompetensi yang lebih lengkap, mulai dari kemampuan inti sesuai bidang studi hingga keterampilan digital, kecerdasan artifisial (AI), komunikasi, dan pengalaman kerja.
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Yassierli mengatakan, dunia kerja kini bergerak menuju kebutuhan integrated skills, yakni kemampuan yang menggabungkan kompetensi utama dengan keterampilan pendukung yang relevan dengan perkembangan teknologi. “Core skill saja tidak cukup. Jadi tidak hanya ijazah, tidak hanya sertifikat kompetensi, tetapi sekarang trennya adalah integrated skills. Dunia kerja membutuhkan kompetensi yang terintegrasi, khususnya terintegrasi dengan digital skill dan AI,” ujar Yassierli, saat memberikan kuliah umum di Institut Agama Islam SEBI (IAI SEBI), Depok, Jawa Barat, Senin (31/8/2026).
Menurutnya, perubahan kebutuhan industri terlihat dari munculnya sejumlah profesi yang tidak secara langsung memiliki padanan dengan nama program studi di perguruan tinggi. Perusahaan kini dapat mencari big data analyst atau product developer, sementara pekerjaan tersebut membutuhkan kombinasi sejumlah kompetensi. “Sekarang dicari big data analyst, dicari product developer. Mana ada program studi product developer atau big data analyst? Karena yang diminta itu core skill dan skill yang terintegrasi,” jelasnya.
Yassierli mendorong mahasiswa tidak menunggu lulus untuk mulai membangun rekam jejak kompetensi. Masa kuliah harus dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan melalui pembelajaran, praktik, magang, sertifikasi, hingga penyusunan portofolio.
Menurutnya, setiap pengalaman tersebut akan menjadi bagian dari nilai yang ditawarkan mahasiswa ketika memasuki pasar kerja. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki gambaran mengenai kompetensi dan pengalaman yang ingin dimiliki saat menyelesaikan pendidikan. “Kalau sekarang mengambil program studi apa, sudah serius di situ. Yakini itu adalah journey yang harus dibangun. Belajar, praktik, magang, mendapatkan sertifikat, dan membangun portofolio,” kata Menaker.
Ia bahkan mendorong mahasiswa memandang curriculum vitae (CV) bukan sebagai dokumen yang baru disusun ketika hendak melamar pekerjaan, melainkan sebagai rekam jejak yang dibangun sejak awal kuliah. “CV itu bukan dibuat, tetapi CV itu dirancang dari kertas kosong. Kita ingin tiga atau empat tahun lagi CV kita isinya apa, itu harus dirancang,” tutur Menaker.
Pendekatan tersebut membuat mahasiswa perlu lebih aktif mengembangkan diri di luar ruang kuliah. Kompetensi akademik tetap menjadi fondasi, tetapi harus diperkuat dengan pengalaman nyata dan kemampuan yang dibutuhkan industri.
Menaker Yassierli berharap perguruan tinggi terus menyesuaikan pembelajaran dengan perubahan kebutuhan dunia kerja. Mahasiswa perlu dibekali kompetensi sesuai bidang keilmuan sekaligus keterampilan digital dan teknologi yang dapat digunakan untuk beradaptasi dengan perubahan pekerjaan.
Dengan kompetensi yang terintegrasi, lulusan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya membawa ijazah ketika memasuki dunia kerja, tetapi juga membawa bukti kemampuan, pengalaman, dan portofolio yang menunjukkan kesiapan mereka menghadapi kebutuhan industri yang terus berkembang.

Tinggalkan Balasan