Media Bangsa –Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bersama mitra pembangunan, dunia usaha, dan organisasi kemasyarakatan menggalang bantuan untuk masyarakat terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya perempuan dan anak.
Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu (23/8/2026), dan rencananya diberangkatkan ke NTT menggunakan pesawat Hercules pada Senin (24/8/2026).
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi menyampaikan, bantuan tersebut terkumpul dalam waktu sekitar dua hari melalui gotong royong berbagai pihak. Bantuan difokuskan pada kebutuhan perempuan dan anak yang menjadi kelompok rentan dalam situasi bencana. “Dalam waktu dua hari kami sudah menerima bantuan dari teman-teman sebanyak 30 ton bantuan, yang lebih banyak spesifik untuk kebutuhan perempuan dan anak,” ujarnya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada dunia usaha dan organisasi kemasyarakatan serta keagamaan yang telah ikut berpartisipasi. Sejumlah pihak yang terlibat antara lain Aksai, Apnia, Unilever, Danone, IWAPI, Nestle, PINTI, Muslimat NU, dan Tanoto Foundation.
Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak menunjukkan semangat gotong royong untuk membantu masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan akibat bencana.
Selain membawa bantuan, Kemen PPPA juga akan hadir di NTT untuk menyiapkan layanan perlindungan bagi perempuan dan anak melalui Pos Sapa atau Pos Sahabat Anak dan Perempuan. “Kami akan bersama-sama menuju NTT dengan menggunakan pesawat Hercules dan membawa bantuan yang telah diamanatkan kepada kami. Kami hadir ke NTT untuk menyapa dan membawa bantuan sebagai amanah, sekaligus sebagai persiapan pembentukan layanan Pos Sapa, yaitu Pos Sahabat Anak dan Perempuan,” jelas Arifah Fauzi.
Ia menegaskan, penanganan dampak bencana di NTT tidak dilakukan oleh satu kementerian atau lembaga secara terpisah. Pemerintah bersama berbagai kementerian, lembaga, pemerintah daerah, relawan, organisasi masyarakat, dan mitra lainnya bergerak secara terpadu untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat ditangani. “Kita semuanya adalah bersama-sama, seluruh kementerian dan lembaga bergotong royong, bersinergi dan berkolaborasi untuk membantu saudara-saudara kita,” kata Menteri PPPA.
Kementerian PPPA juga berkoordinasi dengan berbagai pihak yang telah lebih dahulu bergerak di lapangan. Sejumlah organisasi dan relawan telah memberikan dukungan, termasuk melalui layanan pemulihan psikososial atau trauma healing bagi masyarakat terdampak.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri PPPA juga menjelaskan kondisi pelayanan kesehatan di tengah situasi bencana. Ia menyebut tenaga kesehatan telah berupaya memberikan penanganan maksimal meskipun menghadapi keterbatasan fasilitas dan kondisi lapangan yang tidak mudah.
Pemerintah, lanjutnya, terus berupaya memperluas layanan, termasuk melalui fasilitas kesehatan darurat seperti rumah sakit tenda, agar masyarakat terdampak dapat memperoleh pelayanan secepat mungkin.
Arifah Fauzi menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, termasuk mereka yang berada di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat. “Pemerintah ingin sekali memberikan layanan secepatnya, tetapi mohon juga dipahami bahwa memang kendala yang dialami tidak mudah. Namun, percayalah, kami akan memberikan yang terbaik,” ujarnya.
Oleh karena itu, Kementerian PPPA memastikan bantuan dan dukungan untuk masyarakat terdampak NTT akan terus berlanjut. Sejumlah mitra lainnya juga masih menyampaikan keinginan untuk menyalurkan bantuan melalui Kemen PPPA.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya bersama memastikan perempuan dan anak sebagai kelompok rentan tetap mendapatkan perhatian, perlindungan, serta dukungan selama masa tanggap darurat dan pemulihan bencana.

Tinggalkan Balasan