Media Bangsa – BEKASI — Dalam upaya memperkuat layanan pendidikan inklusif di tingkat sekolah dasar, sebuah langkah inovatif dihadirkan oleh tim peneliti yang diketuai oleh Neddyana Pahlawaty, M.Pd. Melalui pengembangan platform digital bernama CHILDSEE, penelitian ini hadir untuk memberikan solusi praktis bagi para pendidik dan orang tua dalam memetakan serta mendeteksi dini karakteristik Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK).
Rangkaian implementasi dan uji coba lapangan ini dilaksanakan di SD Negeri Bantargebang III, melibatkan kolaborasi solid dari tim dosen (Ibu Anastasia dan Bapak Prince pada hari pertama), tim mahasiswa (Hanina Maraya dan Ahasya Insaini Karim pada hari kedua), serta tim IT (Muhammad Ramdhan Syakiri).

Pelatihan Guru dan Tingkat Antusiasme Pendidik
Tahap awal implementasi diawali dengan pelatihan karakteristik anak berkebutuhan khusus yang menghadirkan Ibu Agustini Pamungkas, M.Pd. sebagai pembicara tamu. Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari pihak sekolah dengan tingkat partisipasi guru mencapai 83,3% (15 dari 18 guru hadir).
Para guru tampil aktif membagikan tantangan nyata di ruang kelas, mulai dari kesulitan belajar, anak yang belum lancar membaca di kelas besar, kendala latar belakang keluarga (broken home), hingga hambatan fisik dan motorik. Pelatihan ini berhasil membuka wawasan para pendidik untuk mengenali berbagai jenis PDBK berdasarkan karakteristik khasnya.
Sesi dilanjutkan dengan uji coba dan sosialisasi penggunaan website CHILDSEE. Meskipun sempat terjadi kendala teknis login pada salah satu akun guru yang langsung ditangani tim IT dan peneliti, antusiasme pendidik dalam mencoba platform tetap tinggi.
Efisiensi dan Validasi Ahli
Berdasarkan hasil angket evaluasi, keberadaan website CHILDSEE terbukti memberikan dampak signifikan bagi kinerja profesional guru:
- 75% guru menyatakan website ini mempercepat durasi waktu yang dibutuhkan dalam proses identifikasi PDBK.
- 62,5% guru mengonfirmasi bahwa platform ini sangat membantu tugas profesional mereka sebagai pendidik di sekolah inklusif.
- 96,8% guru menilai panduan digital mudah dipahami, alur logika konsisten, antarmuka (interface) nyaman di berbagai perangkat (responsive), serta fitur rekomendasi Program Pembelajaran Individual (PPI) sangat relevan.
Tingkat keandalan platform ini juga diperkuat oleh penilaian Validasi Ahli yang mencatatkan skor tinggi, yaitu 92% dari Ibu Mayasari Manar, M.Pd. (Dosen Pendidikan Khusus FIP UNJ) dan 96% dari Bapak Al Shaffaat Ronvy, M.Pd. (Dosen Pendidikan Khusus FIP Universitas Adzkia).

Tantangan Kesadaran Orang Tua dan Solusi Berkelanjutan
Di sisi lain, sesi sosialisasi kepada orang tua murid memberikan gambaran dan tantangan tersendiri. Partisipasi orang tua masih tergolong pasif dan canggung. Banyak di antaranya yang enggan mencoba akibat keterbatasan kuota, kurang familar dengan pemindaian barcode, hingga anggapan bahwa isu kebutuhan khusus masih merupakan hal yang sensitif untuk didiskusikan secara terbuka.
Meski demikian, beberapa orang tua menunjukkan iktikad positif dengan berkonsultasi secara personal seusai acara. Peneliti menemukan kasus murid kelas 1 serta murid dari kelas lain yang terindikasi mengalami hambatan belajar (slow learner) dan hambatan fisik/motorik, yang kemudian diarahkan untuk mengikuti asesmen lanjutan guna penyusunan PPI.

Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti menegaskan bahwa pengembangan teknologi inklusif tidak hanya berfokus pada sistem, tetapi juga aksesibilitas informasi.
“Membuat website bukan sekadar menghadirkan teknologinya, melainkan bagaimana menyediakan fitur yang memudahkan orang tua mendapatkan bantuan secara fleksibel,” ungkap Neddyana.
Sebagai langkah penyempurnaan menuju rilis CHILDSEE v1.0 pada akhir tahun 2026, platform ini akan terus dikembangkan dengan menambahkan video panduan, materi edukatif interaktif, layanan konsultasi online, serta optimasi visualisasi data agar semakin ramah pengguna bagi guru maupun orang tua.

Tinggalkan Balasan