Media Bangsa – Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengajak masyarakat menjadikan keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai pegangan dalam menghadapi tantangan moral di era digital.
Di tengah perkembangan teknologi dan algoritma yang semakin memengaruhi kehidupan masyarakat, penguatan akhlak menjadi kunci untuk memastikan transformasi digital memberikan manfaat bagi manusia.
Menurutnya, peringatan Maulid Nabi tidak semestinya hanya dimaknai sebagai peringatan atas kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga momentum untuk memahami kembali keteladanan Rasulullah dalam menjawab berbagai krisis moral yang muncul pada setiap zaman.
“Krisis moral tidak terjadi hanya ketika Rasulullah dilahirkan, tapi berlanjut terus setiap zamannya dengan tantangan dan model krisis yang berbeda-beda,” ujar Meutya dalam kegiatan Santunan Yatim dan Kajian Islami dalam Rangka Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Masjid At-Taqwa, Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Rabu (26/8/2026).
Meutya mengatakan tantangan moral pada era digital memiliki bentuk yang berbeda dibandingkan masa-masa sebelumnya.
Perkembangan teknologi dan algoritma telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan dapat memengaruhi cara masyarakat memperoleh informasi, berinteraksi, serta mengambil keputusan.
Karena itu, kemajuan teknologi perlu berjalan bersama penguatan nilai dan akhlak.
“Bagaimana caranya kita menang melawan krisis moral yang terjadi ditopang oleh algoritma di dunia digital yang mengganggu dan berdampak kepada warga se-Indonesia bahkan secara global? Jawabannya sudah ada, memperkuat akhlak,” tegas Meutya.
Menurut Meutya, prinsip akhlak dapat menjadi pijakan sederhana dalam melihat berbagai aktivitas di ruang digital.
Baik masyarakat, pelaku industri, maupun pemerintah perlu memastikan bahwa teknologi yang dikembangkan dan digunakan mendukung kebaikan serta tidak menghasilkan dampak yang merugikan.
“Ketika kita beraktivitas ataupun kita mengawasi ranah digital, yang paling utama kita lihat adalah apakah berakhlak atau tidak, melakukannya mendukung akhlak yang baik atau tidak,” ungkapnya.
Dalam konteks ranah Kementerian Komdigi, Meutya menekankan bahwa pembangunan konektivitas digital juga harus memiliki orientasi yang jelas, yakni menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Karena konektivitas bukan sekadar membuat masyarakat terhubung, melainkan harus mendorong pertumbuhan dan memastikan manfaatnya tetap terjaga.
“Ujungnya tentu harus berdampak. Kalau kita bangun tapi yang ada adalah hasil yang mudarat, jangan-jangan perlu di-rem saja. Kita tidak ada kewajiban harus membangun kalau ujungnya mudarat. Kita wajib membangun untuk kebaikan,” tandasnya.
Meutya juga menegaskan bahwa hak masyarakat atas informasi harus diarahkan untuk menghasilkan kebaikan.
Pembangunan ekosistem digital tidak boleh justru menciptakan dampak yang berpotensi memecah persatuan masyarakat.
Meutya kemudian mengajak seluruh jajaran Komdigi memaknai pembangunan digital melalui tiga prinsip, yaitu terhubung, tumbuh, dan terjaga.
Dalam hal ini, konektivitas yang dibangun harus mampu menghubungkan masyarakat, mendorong pertumbuhan yang positif, sekaligus menjaga agar manfaat teknologi dapat dirasakan secara berkelanjutan.
“Dari terhubung harus ada tumbuh. Kemudian memastikan bahwa dampaknya positif. Jadi terhubung, tumbuh, terjaga,” tuturnya.
Melalui momentum Maulid Nabi Muhammad SAW, Meutya mengajak jajaran Komdigi menjadikan empat sifat utama Rasulullah sebagai pedoman dalam menjalankan tugas.
“Yakni siddiq jujur, amanah dipercaya, tabligh menyampaikan ajaran, fathanah cerdas. Tidak usah terlalu banyak menghafal. Kerja harus cerdas, kerja harus jujur, kerja harus amanah, kerja harus menyampaikan ajaran,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan