Media Bangsa – SIDOARJO — Potongan kain yang selama ini dianggap sebagai limbah ternyata bisa menjadi pintu masuk menuju kreativitas dan peluang ekonomi. Hal inilah yang diperkenalkan Universitas Surabaya (UBAYA) kepada 27 ibu-ibu PKK di Kelompok Dasa Wisma 17 RT 03, RW 01, Kelurahan Lemahputro, Kabupaten Sidoarjo.

Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Program Pendampingan Komunitas (PPK) bertema Pemberdayaan Kreativitas Ibu Rumah Tangga pada Kelompok Dasa Wisma 17 RT 03, RW 01 Kelurahan Lemahputro, Kabupaten Sidoarjo, UBAYA mengajak para peserta melihat limbah perca bukan lagi sebagai barang sisa, melainkan sebagai material yang dapat diolah menjadi produk kreatif bernilai guna dan berpotensi memiliki nilai ekonomi.

Kegiatan ini mendapat dukungan pendanaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UBAYA).

Belajar Berani Memulai Usaha

Kegiatan tidak langsung dimulai dengan praktik. Para peserta terlebih dahulu diajak berbagi pengalaman dan membangun semangat untuk belajar berbisnis.

Dalam sesi tersebut, peserta didorong untuk mengenali potensi yang dimiliki, berani memulai usaha dari skala kecil, serta tidak berhenti belajar. Sikap jujur, rajin, terbuka terhadap pengetahuan baru, dan pantang menyerah juga menjadi bagian penting yang ditekankan sebagai bekal dalam menjalankan usaha.

Pesan yang dibangun sederhana, tetapi penting: usaha tidak selalu harus dimulai dengan modal besar. Kreativitas dan kemauan untuk belajar dapat menjadi modal awal yang tidak kalah berharga.

Dari Perca Menjadi Tote Bag yang Lebih Menarik

Setelah mendapatkan pembekalan, peserta diajak langsung mempraktikkan cara menghias tote bag dengan memanfaatkan potongan kain atau limbah perca.

Potongan kain yang sebelumnya tidak terpakai diolah menjadi elemen dekoratif sehingga menghasilkan tote bag dengan tampilan yang lebih menarik. Dari proses sederhana tersebut, peserta tidak hanya belajar keterampilan baru, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana material yang semula dianggap tidak bernilai dapat memiliki fungsi dan nilai baru.

Kegiatan ini sekaligus memperkenalkan prinsip circular economy, yaitu upaya mempertahankan nilai suatu material selama mungkin melalui penggunaan kembali, pengolahan, dan pemanfaatan ulang.

Dengan pendekatan tersebut, limbah tekstil tidak berhenti sebagai sampah. Sebaliknya, material yang masih memiliki potensi dapat kembali digunakan dan bahkan dikembangkan menjadi produk yang mempunyai nilai tambah.

Tidak Berhenti pada Pelatihan

Untuk memperkuat pengetahuan peserta, tim PPK UBAYA juga membagikan buku “Reka Daur Ulang Tekstil: Teknik-teknik Pemanfaatan Limbah Perca dan Pakaian Pascakonsumsi”.

Buku tersebut diharapkan dapat menjadi panduan bagi peserta untuk terus bereksperimen dengan limbah tekstil dan mengembangkan berbagai produk kreatif setelah kegiatan pendampingan selesai.

Dengan demikian, kegiatan tidak hanya memberikan pengalaman praktik sesaat, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk melanjutkan proses belajar secara mandiri.

Kolaborasi Lintas Fakultas untuk Dampak yang Lebih Luas

Program ini menjadi semakin kuat karena melibatkan kolaborasi dosen dari berbagai bidang keilmuan di UBAYA.

Tim PPK diketuai Dr. Ninik Juniati dari Fakultas Industri Kreatif (FIK), dengan anggota Esti Dwi Rinawiyanti, Ph.D. dari Fakultas Teknik (FT) dan Dr. Erna Andajani dari Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE). Kegiatan juga melibatkan dua mahasiswa FIK.

Kolaborasi tersebut memungkinkan masyarakat mendapatkan perspektif yang lebih beragam, mulai dari kreativitas dan pengolahan produk, pendekatan teknis, hingga wawasan bisnis.

Bagi UBAYA, keterlibatan perguruan tinggi di tengah masyarakat bukan hanya tentang memberikan pelatihan, tetapi bagaimana ilmu pengetahuan dapat diterapkan untuk menjawab persoalan nyata sekaligus membuka peluang baru bagi masyarakat.

UBAYA Dorong Kreativitas dan Kemandirian Ekonomi

Manajer Pengabdian Masyarakat LPPM UBAYA, Utomo, mengapresiasi kegiatan yang dilakukan tim UBAYA tersebut.

Menurutnya, kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat memberikan manfaat yang konkret, baik dalam aspek lingkungan maupun pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Program ini sangat menginspirasi karena menggabungkan kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan. Limbah perca yang sebelumnya tidak termanfaatkan dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan berpotensi meningkatkan ekonomi masyarakat, khususnya ibu-ibu di Kelurahan Lemahputro, Sidoarjo,” ujarnya.

Lebih dari sekadar membuat tote bag, kegiatan ini memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dari potongan kain yang tersisa, muncul kreativitas. Dari kreativitas, terbuka peluang. Dan dari peluang tersebut, masyarakat diharapkan dapat semakin percaya diri untuk mengembangkan keterampilan menjadi kegiatan produktif.

Melalui kegiatan PKM ini, UBAYA terus memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menghadirkan ilmu yang memberi manfaat dan berdampak langsung bagi masyarakat serta lingkungan.