Media Bangsa – SIDOARJO — Desa Wage, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, terus mengembangkan berbagai potensi lokal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain dikenal memiliki sentra batik, wisata religi, kampung telur asin, hidroponik, dan kebun tanaman obat keluarga (TOGA), Desa Wage kini mulai mengembangkan budidaya lele sebagai salah satu produk unggulan desa.

Pengembangan tersebut dilakukan melalui Kelompok Masyarakat (Pokmas) Tsadewa yang kini tidak lagi hanya berfokus pada penjualan lele segar. Bersama Pemerintah Desa Wage dan perguruan tinggi, Pokmas Tsadewa mengembangkan budidaya lele menjadi berbagai produk olahan bernilai ekonomi sekaligus kawasan edukasi bagi masyarakat, khususnya kalangan pelajar.

Program pengembangan Budidaya Lele Pokmas Tsadewa merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat – Skema Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) yang mendapatkan support pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek)

Program tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi multidisiplin antara Universitas Surabaya (UBAYA) dan Universitas Dr. Soetomo (UNITOMO). Tim pelaksana terdiri atas Dr. Finna Setiawan, M.Si. selaku Ketua tim, dengan anggota Amanda Putri Nahumury, Faizal Susilo Hadi, M.SM., serta Ir. Achmad Kusyairi, M.Si.

Menurut Ketua PDB Ubaya di Desa Wage, Dr. Finna Setiawan, M.Si. menjelaskan kolaborasi perguruan tinggi dan Pemerintah Desa Wage tersebut diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan sekaligus mendukung kesehatan masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal secara berkelanjutan.

Selama ini, hasil budidaya Pokmas Tsadewa sebagian besar dijual dalam bentuk lele segar kepada tengkulak. Kondisi tersebut membuat nilai ekonomi yang diterima pembudidaya relatif rendah. Melalui program pendampingan dan transfer teknologi, lele mulai dikembangkan menjadi berbagai produk olahan sehingga memiliki nilai tambah dan peluang pasar yang lebih luas.

Sejumlah inovasi telah diterapkan, antara lain sistem akuaponik, pengolahan limbah lele menjadi pupuk cair, pembuatan pakan alternatif, wisata petik sayur, serta pengembangan berbagai produk olahan berbahan dasar lele.

Diversifikasi produk tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai jual hasil budidaya sekaligus memperbesar keuntungan yang diterima masyarakat. Dengan demikian, lele tidak lagi hanya dipandang sebagai komoditas segar, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk pangan dengan nilai ekonomi dan daya tarik tersendiri.

Tidak berhenti pada pengolahan produk, Pokmas Tsadewa juga tengah memfinalisasi pengembangan kawasan budidaya sebagai destinasi wisata edukasi. Kawasan tersebut dirancang sebagai ruang belajar yang memperkenalkan proses budidaya, pengolahan, hingga pemanfaatan limbah lele secara produktif.

Sejumlah fasilitas edukasi yang disiapkan antara lain kolam pancing anak, pelatihan pembuatan pupuk cair, pelatihan pembuatan pakan alternatif, wisata petik sayur, serta pengenalan berbagai produk olahan lele yang memiliki nilai gizi.

Untuk menunjang kegiatan pembelajaran, Pokmas Tsadewa juga telah memiliki media edukasi berupa flipchart yang berisi informasi mengenai budidaya dan pengolahan lele. Media tersebut dikembangkan oleh tim yang melibatkan mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Surabaya.

Ketua Pokmas Tsadewa, Khoirul Anam, mengapresiasi pendampingan yang diberikan melalui program tersebut.

“Terima kasih kepada UBAYA, UNITOMO, dan Kemdiktisaintek atas dukungan dan pendampingannya sehingga budidaya yang sebelumnya hanya berupa kolam biasa telah berkembang menjadi eduwisata dan menghasilkan berbagai produk inovasi yang siap dipasarkan.”

Menurutnya, kolaborasi antara masyarakat, perguruan tinggi, pemerintah desa, dan Kemdiktisaintek menjadi modal penting untuk mengembangkan potensi Desa Wage.

“Dengan inovasi dan kolaborasi yang terus dibangun antara perguruan tinggi, Pemerintah Desa, dan Kemdiktisaintek, Pokmas Tsadewa memiliki peluang untuk menjadikan lele bukan sekadar komoditas hasil kolam, tetapi sebagai produk unggulan Desa Wage yang memiliki nilai ekonomi, edukasi, dan wisata,” ujarnya.

Pengembangan Pokmas Tsadewa menunjukkan bahwa potensi desa dapat memiliki nilai lebih ketika didukung inovasi, teknologi, dan kolaborasi. Dari kolam budidaya sederhana, lele Desa Wage kini diarahkan menjadi ekosistem usaha yang menggabungkan produksi pangan, diversifikasi produk, pemanfaatan limbah, edukasi, dan wisata.

Dengan konsep tersebut, Pokmas Tsadewa diharapkan dapat menjadi salah satu ikon potensi lokal Desa Wage sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.

Kolam Budidaya Lele Pokmas Tsadewa

Sistem akuaponik di Budidaya Lele Pokmas Tsadewa

Wisata edukasi Budidaya Lele Pokmas Tsadewa