UMKM perlu bergerak dari sekadar mempunyai akun menuju strategi yang mampu membuat produk ditemukan, dipercaya, dibeli, dan kembali dipilih oleh pelanggan.

Media Bangsa – BEKASI, 26 Agustus 2026 — Pelaku usaha mikro Kabupaten Bekasi diajak melihat e-commerce sebagai perjalanan pelanggan, bukan sekadar aktivitas mengunggah produk, dalam Bimbingan Teknis E-Commerce bagi Usaha Mikro, Rabu, 26 Agustus 2026, di Universitas Pelita Bangsa Kalimalang.

Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Bekasi tersebut menghadirkan Ahmad Madani, praktisi pemasaran dan vokasi.

Mengapa Banyak Toko Online Sudah Aktif tetapi Penjualannya Belum Bertumbuh?

Sebagian pelaku usaha telah memiliki marketplace, Instagram, TikTok, dan WhatsApp. Produk rutin diunggah, tetapi transaksi belum berkembang dan pelanggan jarang kembali membeli.

Menurut Ahmad, masalahnya sering bukan karena kurangnya platform. Bisnis belum memiliki strategi yang menghubungkan setiap kanal dengan tahapan perjalanan pelanggan.

“Strategi bukan melakukan semuanya. Strategi adalah memilih apa yang paling penting,” ujar Ahmad Madani.

Setiap Kanal Memiliki Peran Berbeda

Media sosial dapat membantu produk ditemukan dan menarik perhatian. Marketplace membantu pelanggan membandingkan produk dan melakukan transaksi. WhatsApp membantu komunikasi dan hubungan, sedangkan website serta Google dapat membangun visibilitas dan kredibilitas.

UMKM tidak harus mengelola semua platform sekaligus. Pemilihan kanal perlu disesuaikan dengan tempat pelanggan mencari informasi dan melakukan pembelian.

Kerangka customer journey yang digunakan dalam bimtek adalah:

Dilihat → Tertarik → Percaya → Beli → Puas → Beli Lagi

Produk yang Sama Membutuhkan Pesan yang Berbeda

Dalam materi, peserta melihat contoh sambal kemasan. Apabila komunikasinya hanya berbunyi “jual sambal pedas”, produk tersebut bersaing dengan banyak penjual lain tanpa konteks yang kuat.

Pesannya dapat diubah untuk anak kos menjadi sambal praktis yang membuat nasi dan telur lebih nikmat. Untuk pekerja kantoran, sambal dapat ditawarkan sebagai pelengkap makan siang tanpa perlu keluar kantor. Untuk pasar oleh-oleh, sambal dapat dikomunikasikan sebagai rasa khas lokal yang mudah dibawa.

Produknya sama, tetapi relevansi pesannya berbeda.

“Ketika pelanggan merasa sebuah pesan berbicara langsung kepada kebutuhannya, peluang untuk memperoleh perhatian menjadi lebih besar,” jelas Ahmad.

Dari Transaksi menuju Loyalitas

Peserta mempelajari lima pertanyaan dasar: siapa pelanggan, masalah apa yang dihadapi, manfaat apa yang dicari, di mana mereka mencari informasi, dan faktor apa yang mendorong pembelian.

Pemahaman tersebut kemudian digunakan untuk menyusun value proposition, konten, pemilihan kanal, proses transaksi, serta pelayanan setelah pembelian.

Ahmad menegaskan bahwa produk adalah jawaban, sedangkan masalah pelanggan adalah pertanyaannya. Pelaku usaha sebaiknya tidak membuat jawaban sebelum memahami pertanyaan.

Setelah transaksi, hubungan perlu dilanjutkan melalui pelayanan, database, follow-up yang relevan, dan pengalaman yang konsisten. Pelanggan lama sudah memiliki trust sehingga berpotensi melakukan pembelian ulang apabila bisnis memberikan alasan yang tepat.

Bimtek juga mendorong peserta memilih satu perubahan yang dapat dilakukan dalam 24 jam, seperti memperbaiki foto produk, menyusun persona pelanggan, mengubah deskripsi berdasarkan value, membuat konten cerita, mencoba prompt AI, mulai menyimpan database, atau memperbaiki cara follow-up.

Pemerintah Kabupaten Bekasi Dorong Transformasi yang Berkelanjutan

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Bekasi, Drs. H. Hasan Basri, M.M., menegaskan bahwa transformasi digital perlu menghasilkan perbaikan pada pengelolaan usaha, akses pasar, dan keberlanjutan bisnis.

“Kami ingin pelaku usaha mikro tidak hanya hadir di ruang digital, tetapi mampu mengelolanya secara produktif sehingga memberikan dampak nyata terhadap perkembangan usaha,” ujar Hasan Basri.

Analis Kebijakan Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro Kabupaten Bekasi, Abdul Yasin, S.Pd., M.MT., menjelaskan bahwa pemilihan kanal digital perlu disesuaikan dengan perilaku pelanggan dan kemampuan usaha dalam mengelolanya.

“Tidak semua platform harus digunakan sekaligus. Pelaku usaha perlu menentukan prioritas agar waktu, tenaga, dan biaya dapat diarahkan pada kanal yang paling relevan,” kata Abdul Yasin.

Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro Kabupaten Bekasi, Agus Dwi Riyanto, S.T., M.Si., berharap peserta menindaklanjuti bimtek dengan perubahan sederhana yang dapat diukur.

“Peningkatan kapasitas akan terasa manfaatnya ketika pengetahuan diterapkan. Mulailah dari satu perbaikan, evaluasi hasilnya, lalu lanjutkan secara konsisten,” jelas Agus Dwi Riyanto.

UMKM Naik Kelas Dimulai dari Tindakan

Transformasi digital tidak selalu dimulai dari teknologi mahal. Telepon pintar, WhatsApp, marketplace, media sosial, spreadsheet, dan AI yang tersedia dapat menjadi titik awal.

Namun, teknologi hanya menjadi alat. Fondasinya tetap kemampuan memahami manusia, membangun kepercayaan, memberikan nilai, dan menjaga pengalaman pelanggan.

“Bisnis tidak berubah setelah seminar. Bisnis berubah ketika pemiliknya melakukan sesuatu secara berbeda. Jangan hanya go online, naikkan kelas bisnisnya,” pungkas Ahmad Madani.

Tentang Ahmad Madani

Ahmad Madani merupakan praktisi pemasaran dan vokasi, Co-Founder AGMARI, Sekretaris Jenderal KOMISI, Guru & Narasumber Tamu SMK Pemasaran terbaik di Indonesia, serta juri bidang Pemasaran Digital dalam Lomba Kompetensi Siswa sejak 2019. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui ahmadmadani.id.