Media Bangsa – Para penari muda di Dusun Tempursari, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman kembali menggelar pertunjukan budaya. Lewat kelembutan gerak Sanggar Banyu Bening, mereka membawakan Tari Riris Mangenjali sebagai bentuk pesan puitis tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Pementasan karya seni ini menjadi bagian utama dari agenda puncak Kenduri Banyu Udan XI yang berlangsung meriah pada Rabu (9/9/2026).
Keunikan karya seni ini terletak pada jadwal pertunjukannya yang sangat khusus dan penuh aturan tradisi. Sebab, para seniman menggelar tarian sakral ini hanya satu kali dalam setahun, yakni tepat setiap tanggal sembilan bulan sembilan. Selain itu, jumlah penarinya selalu berjumlah ganjil sebagai wujud simbol keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Langkah ini menegaskan komitmen komunitas dalam merawat seni tradisi tempatan agar tetap lestari.
Makna Tiga Babak Tari Riris Mangenjali
Struktur pertunjukan tarian indah ini terbagi secara rapi ke dalam tiga babak utama yang sarat akan nilai edukasi. Saat ini, babak pertama menggambarkan proses awal warga desa dalam menyambut serta mengolah air hujan secara bijak. Kemudian, babak kedua menghadirkan suasana khusyuk lewat olah gerak doa, keheningan, dan ungkapan rasa syukur mendalam atas limpahan rahmat Pencipta.
Sementara itu, babak ketiga memperlihatkan manfaat air hujan yang warga olah untuk menopang kebutuhan hidup harian. Guru Sanggar Banyu Bening Ludtina Pangestu menjelaskan bahwa tarian ini menjadi wadah edukasi yang sangat efektif bagi generasi muda. Oleh karena itu, para pengajar membimbing anak-anak agar memahami pentingnya air hujan. Anak-anak belajar memanen dan menjaga berkah alam tersebut sejak dini.
Edukasi Kelestarian Air Lewat Seni Tradisi
Pertunjukan ini terasa makin berkesan karena mengusung tema besar bertajuk Ngrumat Banyu Udan, Ngrumat Panguripan. Di samping itu, ungkapan bahasa Jawa tersebut bermakna mendalam. Merawat air hujan berarti merawat kehidupan manusia itu sendiri. Ketua Komunitas Banyu Bening Sri Wahyuningsih merasa terharu menyaksikan anak-anak sanggar membawakan setiap gerakan dengan penuh penghayatan.
Perjalanan sebelas tahun komunitas ini menjadi bukti ikhtiar panjang untuk mengubah pola pikir masyarakat secara konsisten. Dengan begitu, komunitas tidak lagi menyampaikan edukasi konservasi air melalui imbauan kaku, melainkan lewat pendekatan budaya yang anggun. Pada akhirnya, aksi ini menegaskan bahwa setiap tetes air hujan membawa harapan besar bagi masa depan lingkungan hidup.

Tinggalkan Balasan