Media Bangsa – Politeknik Penerbangan (Poltekbang) Surabaya memperkuat SDM penerbangan Aviation 4.0 untuk menghadapi perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Karena itu, lembaga ini menggelar Seminar Nasional Inovasi Teknologi Penerbangan (SNITP) ke-10 dan The 5th International Conference on Advanced Transportation, Engineering and Applied Social Science (ICATEAS) 2026.
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan (BPSDMP) lewat Poltekbang Surabaya menggelar kedua forum ini. Selanjutnya, acara ini mempertemukan akademisi, praktisi, regulator, dan industri penerbangan untuk membahas penguatan kompetensi SDM di tengah transformasi menuju era Aviation 4.0.
SNITP 2026 mengangkat tema “Membangun Kesiapan Kerja SDM Penerbangan melalui Kemitraan Pendidikan Vokasi di Industri Berbasis Teknologi untuk Ekosistem Kompetensi Berkelanjutan”. Sementara itu, ICATEAS 2026 mengusung tema “Enhancing Aviation Workforce Readiness: Building Resilient and Competent Aviation Professionals for Future Challenges”.
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan (BPSDMP) lewat Poltekbang Surabaya menggelar kedua forum ini. Acara ini mempertemukan akademisi, praktisi, regulator, dan industri penerbangan untuk membahas penguatan kompetensi SDM di tengah transformasi menuju era Aviation 4.0.
SNITP 2026 mengangkat tema “Membangun Kesiapan Kerja SDM Penerbangan melalui Kemitraan Pendidikan Vokasi di Industri Berbasis Teknologi untuk Ekosistem Kompetensi Berkelanjutan”. Sementara itu, ICATEAS 2026 mengusung tema “Enhancing Aviation Workforce Readiness: Building Resilient and Competent Aviation Professionals for Future Challenges”.
Poltekbang Dorong Peningkatan Kualitas SDM Menyeluruh
Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan Udara (PPSDMPU) M. Abrar Tuntalanai membuka kegiatan ini secara resmi lewat Zoom Meeting.
Dalam siaran persnya yang diterima InfoPublik pada Kamis (10/9/2026), Abrar menekankan bahwa peningkatan kualitas pendidikan vokasi penerbangan harus mencakup taruna, instruktur, hingga tenaga pendidik secara menyeluruh.
Menurutnya, kualitas SDM menjadi faktor penting untuk menghasilkan tenaga profesional penerbangan yang punya integritas, kompetensi, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Selain penguatan kompetensi, Abrar juga mendorong lembaga pendidikan vokasi memperluas jejaring kerja sama dengan industri dan pemangku kepentingan. Ia menilai peningkatan kualitas serta publikasi jurnal ilmiah penting agar pendidikan vokasi bisa berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi penerbangan.
Kebutuhan Tenaga Profesional Penerbangan Terus Meningkat
Pembahasan dalam SNITP dan ICATEAS 2026 mengarah pada perubahan industri penerbangan global yang semakin dipengaruhi teknologi. Era Aviation 4.0 ditandai dengan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), analisis data prediktif, otomatisasi, serta Virtual Reality (VR) dalam berbagai aspek penyelenggaraan penerbangan.
Di tengah perkembangan ini, kebutuhan tenaga profesional penerbangan juga terus meningkat. Proyeksi industri menunjukkan kawasan Asia-Pasifik membutuhkan lebih dari 1,06 juta profesional penerbangan baru dalam dua dekade mendatang.
Kondisi ini menuntut pendidikan vokasi penerbangan menghasilkan lulusan yang tidak hanya memenuhi persyaratan sertifikasi formal. Lulusan juga harus memiliki kompetensi sesuai perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Meski begitu, transformasi teknologi tetap harus berjalan seiring dengan penerapan standar keselamatan penerbangan atau safety.
Pakar Industri Tekankan Pola Pikir Adaptif
Sejumlah pakar dan pimpinan industri penerbangan hadir sebagai narasumber. Di antaranya Prof. Achim I. Czerny dari The Hong Kong Polytechnic University, Capt. Kamarul Arifin Bin Othman dari Malaysia Airlines Berhad (MAB) Academy, Country Head of People Indonesia AirAsia Novretta Nursetyawati, serta Maintenance & Engineering Director Batik Air Indonesia Setyo Jarnoko.
Novretta menekankan pentingnya membangun pola pikir adaptif lewat semangat “Dare to Dream”. Menurutnya, pemanfaatan teknologi harus tetap mempertahankan nilai kemanusiaan dan kepemimpinan.
AI bisa meningkatkan efisiensi, kata dia, tetapi keputusan keselamatan tertinggi tetap membutuhkan human judgment. AirAsia Indonesia juga mendorong perubahan pola pembelajaran magang industri. Perusahaan ini mengarahkan program magang menjadi model problem-based learning, sehingga peserta didik bisa terlibat langsung menyelesaikan persoalan nyata di industri.
Kemitraan Industri dan Pendidikan Perlu Ekosistem Kolaboratif
Setyo Jarnoko menggarisbawahi pentingnya menyiapkan T-Shaped Professional, yakni tenaga profesional yang memiliki kedalaman kompetensi teknis sekaligus kemampuan profesional yang luas.
Menurutnya, pendidikan vokasi dan industri perlu mengembangkan hubungan yang melampaui pola On the Job Training (OJT). Kemitraan ideal harus berkembang menjadi ekosistem kolaboratif lewat pendekatan Co-Design, Co-Develop, Co-Train, Co-Assess, dan Co-Improve.
Pendekatan ini memungkinkan industri dan lembaga pendidikan bersama-sama merancang kebutuhan kompetensi, mengembangkan pembelajaran, dan melatih peserta didik. Kedua pihak juga bisa bersama melakukan penilaian, evaluasi, serta meningkatkan kualitas lulusan.
“Kerja sama pendidikan vokasi dan industri harus menjadi ekosistem kolaboratif,” ujar Setyo dalam forum tersebut.
119 Peserta dan 117 Paper Ilmiah Dipresentasikan
SNITP dan ICATEAS 2026 melibatkan 119 peserta dan pemakalah dari berbagai perguruan tinggi serta lembaga. Beberapa institusi yang terlibat antara lain Telkom University, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Institut Teknologi Sumatera (ITERA), dan AirNav Indonesia.
Selanjutnya, peserta mempresentasikan 117 paper ilmiah dalam kedua forum ini, dengan rincian 93 paper pada ICATEAS dan 24 paper pada SNITP.
Direktur Poltekbang Surabaya Ahmad Bahrawi berharap forum ini tidak berhenti sebagai ruang pertukaran gagasan. Ia berharap forum ini menghasilkan kolaborasi yang memberikan dampak nyata terhadap pengembangan SDM penerbangan.
“Kami berharap diskusi dan kolaborasi yang terjalin dari forum SNITP dan ICATEAS 2026 ini memberikan kontribusi nyata dalam mencetak SDM penerbangan yang unggul, adaptif, dan berkarakter, sekaligus memperkuat ekosistem kompetensi penerbangan yang berkelanjutan di Indonesia,” pungkas Ahmad.
Dengan demikian, lewat penguatan pendidikan vokasi, kolaborasi dengan industri, dan pemanfaatan teknologi, BPSDMP Perhubungan terus mendorong tersedianya SDM penerbangan yang mampu menjawab perubahan industri. Keselamatan tetap menjadi prioritas utama di tengah transformasi ini.

Tinggalkan Balasan