Media Bangsa – Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi (AKPT) Angkatan 1 Tahun 2026 tidak dirancang sekadar sebagai pelatihan bagi pimpinan perguruan tinggi. Peserta diwajibkan menerapkan hasil pembelajaran melalui Action Learning Project atau proyek transformasi institusi di kampus masing-masing.

Direktur Sumber Daya Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Sri Suning Kusumawardani mengatakan pendekatan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan pembelajaran kepemimpinan menghasilkan perubahan nyata di perguruan tinggi.

“Keberhasilan AKPT sejatinya tercapai jika para peserta dapat melakukan transformasi perguruan tingginya menjadi lebih akuntabel, transparan, dalam pengambilan keputusan strategis berbasis data dan bukti, serta memastikan perguruan tinggi berdampak langsung bagi pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Suning saat Peluncuran AKPT di Graha Diktisaintek, Jakarta, Senin (7/9/2026).

Menurut Suning, keberhasilan program tidak diukur dari banyaknya modul, kelengkapan presensi, ataupun sertifikat yang diterima peserta. Ukuran utamanya adalah kemampuan peserta menerjemahkan pengetahuan kepemimpinan menjadi perubahan di lingkungan perguruan tinggi. Pendekatan tersebut sekaligus menempatkan AKPT sebagai ekosistem pengembangan dan regenerasi kepemimpinan pendidikan tinggi, bukan pelatihan teknis yang berhenti setelah kegiatan selesai.

AKPT Angkatan 1 Tahun 2026 diikuti pemimpin dan calon pemimpin perguruan tinggi negeri dari berbagai wilayah Indonesia. Kelas pimpinan melibatkan 34 perguruan tinggi negeri dengan 34 peserta, sedangkan kelas future leader diikuti 34 perguruan tinggi negeri dengan 61 peserta. Program dikembangkan dengan empat pilar, yaitu Evidence Based Leadership Development, Contextually Grounded Leadership, Peer Accelerated Learning, dan Impact Oriented Development.

Keempat pilar tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam sembilan dimensi kompetensi, meliputi kepemimpinan strategis, tata kelola perguruan tinggi yang baik, kepemimpinan akademik, kepemimpinan keuangan, pengembangan sumber daya manusia dan budaya organisasi, transformasi digital dan kecerdasan artifisial (AI), diplomasi dan jejaring global, kepemimpinan berbasis nilai, serta pengembangan talenta unggul.  “AKPT hadir bukan hanya sebagai pelatihan teknis kepemimpinan biasa, melainkan sebagai sebuah ekosistem transformasi dan regenerasi kepemimpinan pendidikan tinggi di Indonesia,” kata Suning.

Rangkaian pembelajaran disusun dalam lima tahap yang melibatkan sejumlah perguruan tinggi sebagai mitra penyelenggara. Tahap pertama, Foundation of Higher Education Leadership, dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Universitas Bina Nusantara. Selanjutnya, Strategic University Leadership direncanakan berkolaborasi dengan Universitas Gadjah Mada pada September 2026.

Tahap ketiga, Institutional Transformation and Innovation, akan berkolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung pada Oktober 2026. Tahap keempat, Global Engagement and Future University, direncanakan bersama Universitas Indonesia pada Oktober 2026. Tahap terakhir, Capstone Project and Leadership Residency, direncanakan berlangsung di Universitas Airlangga dan dilanjutkan dengan rangkaian penutupan yang direncanakan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember pada 10 November 2026.

Di antara setiap tahapan tersebut, peserta diwajibkan menyusun dan menjalankan Action Learning Project. Dengan mekanisme ini, materi yang diperoleh dalam pembelajaran tidak berhenti sebagai konsep, tetapi diuji melalui persoalan dan kebutuhan nyata di institusi masing-masing.

Suning menilai tuntutan terhadap pemimpin perguruan tinggi semakin kompleks seiring perubahan lanskap pendidikan tinggi. Pimpinan kampus tidak hanya dituntut mampu mengelola sumber daya, tetapi juga harus dapat mengubah sumber daya tersebut menjadi kinerja institusi yang berkelanjutan.

Karena itu, kompetensi kepemimpinan dalam AKPT mencakup aspek akademik dan tata kelola sekaligus kemampuan menghadapi perubahan teknologi, membangun jejaring global, mengembangkan talenta, serta mengambil keputusan berdasarkan data dan bukti.

Pendekatan tersebut diharapkan memperkuat kapasitas pimpinan perguruan tinggi dalam menentukan arah strategis institusi dan merespons perubahan secara lebih terukur.

Suning menegaskan, pada akhirnya ukuran keberhasilan kepemimpinan perguruan tinggi adalah dampak yang dihasilkan. Kampus diharapkan semakin akuntabel dan transparan, memiliki proses pengambilan keputusan yang kuat, serta mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Dengan demikian, AKPT tidak hanya menyiapkan pemimpin yang memahami teori kepemimpinan, tetapi juga pemimpin yang mampu mengubah pembelajaran menjadi aksi dan aksi menjadi transformasi institusi.

Sumber