Media Bangsa – Sidoarjo – Sepuluh pelaku UMKM dari Desa Segoro Tambak, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, yang tergabung dalam Kelompok UMKM Bina Mandiri, mengikuti kegiatan Pembelajaran Lapang ke Unit Pelaksana Teknis Industri Makanan, Minuman, dan Kemasan (UPTI Mamin dan Kemasan) Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur pada Senin, 10 Agutsu 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat Universitas Surabaya (UBAYA) yang bekerjasama dengan Universitas Katolik Widya Mandala bertajuk “Perwujudan Kemandirian Ekonomi Desa Segoro Tambak Melalui Budidaya Udang Efisien dengan Kolam Microbubble”, yang didanai melalui skema Pemberdayaan Desa Berbasis (PDB) , Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek .
Berbeda dari pelatihan kelas pada umumnya, format kegiatan ini dirancang sebagai konsultasi produk satu per satu. Setiap pelaku UMKM membawa produk beserta kemasan yang selama ini digunakan, lalu dibedah langsung oleh tenaga ahli UPTI Mamin dan Kemasan. Produk yang dibawa seluruhnya merupakan olahan hasil perikanan yang merupakan komoditas utama Desa Segoro Tambak. Di antaranya Kerupuk Udang Alif Jaya, Kerupuk Ikan Ibu Muna, rolade udang merek Ichaku, udang crispy merek Mak La, seblak cilok udang Kedai “Wak nYoo”, stik kulit udang, serta penyedap rasa berbahan kulit udang.
Dari Stiker ke Kemasan Cetak Penuh
Persoalan kemasan menjadi titik yang paling banyak disorot. Sebagian besar produk UMKM Segoro Tambak masih menggunakan kemasan plastik polos yang ditempeli stiker. Cara ini murah dan mudah, tetapi menyisakan ruang yang sangat terbatas untuk mencantumkan komposisi, informasi nilai gizi, berat bersih, dan tanggal kedaluwarsa. Stiker juga mudah terkelupas bila terkena minyak atau air, sehingga produk terkesan kurang berkualitas ketika dipajang berdampingan dengan produk pabrikan.
Agus Santoso, ST. desainer grafis dan narasumber ahli dari UPTI Mamin dan Kemasan, menilai produk UMKM Segoro Tambak sebenarnya sudah punya modal kuat.
“Rasa dan bahan bakunya sudah bagus, bahkan beberapa sudah mengantongi PIRT dan sertifikat halal. Yang belum tergarap itu kemasannya. Konsumen hari ini memutuskan membeli dalam hitungan detik, dan yang pertama mereka lihat adalah kemasan. Kalau informasi wajib seperti komposisi, berat bersih, kedaluwarsa, dan nomor izin edar tidak terbaca dengan jelas, produk sebagus apa pun akan kalah di rak,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa perpindahan dari stiker ke kemasan cetak penuh tidak harus mahal jika dilakukan secara berkelompok. Agus Santoso menyarankan UMKM Segoro Tambak memesan kemasan secara kolektif agar biaya cetak per lembar turun secara signifikan, sekaligus menjaga kesamaan identitas visual sebagai produk asal satu desa.
Respons Pelaku UMKM
Bagi para pelaku usaha, kunjungan ini menjadi pengalaman pertama melihat langsung proses dan contoh kemasan standar industri. Nurul Hidayati, Ketua Kelompok Usaha Bina Mandiri sekaligus pemilik merek rolade udang Ichaku, mengaku mendapat banyak catatan konkret.
“Selama ini saya kira yang penting produknya enak dan bersih. Ternyata penempatan merek, ukuran huruf, sampai pilihan warna itu ada ilmunya. Saya diberi tahu kemasan saya terlalu penuh tulisan sehingga nama merek tenggelam. Pulang dari sini saya sudah tahu persis apa yang harus diperbaiki,” katanya.
Hal senada disampaikan Lindatul Afidah, pemilik Kerupuk Udang Alif Jaya.
“Produk saya sudah punya PIRT dan halal, tapi nomornya cuma saya tulis kecil di stiker. Kata petugas UPT, itu justru nilai jual yang harus ditonjolkan karena tidak semua UMKM punya. Saya baru sadar selama ini saya menyembunyikan kelebihan produk sendiri,” ujarnya.
Dukungan Pemerintah Desa
Kepala Desa Segoro Tambak, Anik Mahmudah, S.AP., M.M., yang turut mendampingi rombongan, menyebut kegiatan ini sebagai langkah lanjutan yang memang dibutuhkan warganya. Menurutnya, sebagian besar pelaku usaha di desanya adalah ibu rumah tangga yang selama ini belajar berproduksi secara otodidak.
“Warga kami sudah pandai mengolah udang dan bandeng, itu keahlian turun-temurun. Tetapi mengemas dan menjual itu ilmu yang berbeda, dan tidak bisa dipelajari sendiri. Karena itu kami sangat berterima kasih ada kesempatan belajar langsung ke UPTI Mamin dan Kemasan, bukan sekadar mendengar teori di balai desa,” ujarnya.
Anik menambahkan bahwa pemerintah desa berkomitmen menindaklanjuti hasil kunjungan ini, antara lain dengan memfasilitasi pemesanan kemasan secara kolektif dan mendorong lebih banyak warga mengurus perizinan produk.
“Harapan kami produk Segoro Tambak tidak berhenti sebagai oleh-oleh warga sekitar. Desa kami ini hanya satu kilometer dari Bandara Juanda, posisinya sangat strategis. Kalau kemasannya sudah layak, produk warga bisa masuk ke gerai oleh-oleh dan pasar yang jauh lebih luas. Pemerintah desa siap mendukung dari sisi anggaran maupun pendampingan,” katanya.
Pendampingan Berkelanjutan
Ketua tim pengabdian, Dr.rer.nat. Sulistyo Emantoko, dosen Program Studi Magister Bioteknologi Universitas Surabaya, menyatakan kegiatan ini merupakan kelanjutan dari pendampingan yang telah berjalan sejak 2024.
“Pada tahap sebelumnya kami fokus pada legalitas. Hasilnya sudah terlihat, ada enam sertifikat SNI, sejumlah NIB, dan tambahan sertifikat PIRT yang terbit. Tetapi legalitas saja tidak cukup kalau kemasannya belum bicara. Karena itu kami bawa langsung ke ahlinya di UPTI Mamin dan Kemasan,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa masukan yang diperoleh hari ini tidak akan berhenti sebagai catatan.
“Setiap UMKM pulang membawa rekomendasi spesifik untuk produknya masing-masing. Tim kami bersama mahasiswa akan mengawal tindak lanjutnya sampai desain kemasan baru benar-benar tercetak dan dipakai.

Tinggalkan Balasan