Media Bangsa – Setiap kali seorang ibu menyiapkan menu makan untuk keluarganya, sebenarnya ia sedang mengambil keputusan penting bagi tumbuh kembang anaknya. Namun tidak semua ibu memiliki akses yang cukup pada informasi gizi yang tepat, mudah dipahami, dan bisa diterapkan sehari-hari. Padahal, pilihan menu yang keliru, terutama yang minim protein, bisa berkontribusi pada salah satu masalah gizi paling serius di Indonesia: stunting.
Berdasarkan data WHO tahun 2024, sekitar 23,2 persen atau 150,2 juta anak di dunia masih mengalami stunting. Indonesia sendiri pernah tercatat sebagai negara dengan angka stunting tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Timor Leste, yaitu mencapai 31,4 persen pada tahun 2020. Kabar baiknya, angka ini terus menurun. Survei Status Gizi Indonesia mencatat prevalensi stunting nasional turun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024, setara dengan 377.000 kasus balita stunting baru yang berhasil dicegah. Meski begitu, angka tersebut masih berada di atas target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional sebesar 14,2 persen pada 2029.
Menariknya, stunting bukan hanya persoalan daerah pedesaan. DKI Jakarta sebagai wilayah perkotaan pun masih mencatat prevalensi 17,3 persen, dengan Jakarta Utara menyentuh angka 19,7 persen. Kondisi ini menegaskan bahwa upaya pencegahan stunting perlu menjangkau semua kalangan, termasuk keluarga di tengah kota.
Ketika Ibu Kesulitan Mengakses Informasi Gizi yang Tepat
Salah satu akar masalah stunting yang sering luput dari perhatian adalah rendahnya literasi nutrisi ibu. Pengetahuan ibu tentang gizi sangat menentukan bagaimana ia memilih dan menyusun menu untuk keluarga, terutama dalam memastikan asupan protein tercukupi. Protein, khususnya protein hewani, berperan besar dalam mendukung pertumbuhan tinggi badan anak karena mengandung asam amino esensial serta zat gizi mikro penting seperti zat besi, zinc, dan vitamin B12. Sayangnya, di lapangan, akses terhadap informasi gizi yang berkualitas masih menjadi tantangan tersendiri bagi banyak ibu rumah tangga.
Suara Ibu-Ibu di Posyandu: Butuh Media Edukasi yang Lebih Baik
Untuk memahami persoalan ini lebih dalam, tim peneliti dari Universitas Negeri Jakarta melakukan analisis kebutuhan kepada 20 ibu usia produktif di Posyandu. Hasilnya cukup mengungkap: seluruh responden (100 persen) sebenarnya sudah mengetahui pentingnya pencegahan stunting. Namun, 30 persen di antaranya masih kesulitan mengakses informasi terkait stunting, sementara 70 persen mengaku tidak mengalami kesulitan tersebut.
Dari sisi sumber informasi, 60 persen responden mengandalkan kombinasi internet dan penyuluhan Posyandu/PKK, sedangkan 40 persen sisanya hanya bergantung pada penyuluhan Posyandu/PKK saja.
Yang lebih menarik, meski mayoritas sudah pernah mendapat informasi, kualitasnya dinilai belum memadai. Sebanyak 90 persen responden menyatakan media yang mereka akses belum mencakup materi stunting secara menyeluruh, 95 persen merasa informasi yang diperoleh belum cukup memenuhi kebutuhan mereka, dan 95 persen menilai media yang selama ini digunakan kurang menarik.
Temuan ini semakin kuat ketika seluruh responden (100 persen) menyatakan membutuhkan media edukasi pendukung. Uniknya, seluruh responden (100 persen) juga mengaku belum pernah menggunakan Meal Planning Card atau Kartu Perencanaan Menu sebagai media edukasi pencegahan stunting, namun seluruhnya (100 persen) menyatakan tertarik untuk menggunakannya dan meyakini media tersebut dapat membantu meningkatkan pemahaman mereka soal pencegahan stunting.
Dari sinilah ide pengembangan Digital Meal Planning Card Berbasis Protein Lokal bermula.
Mengenal Digital Meal Planning Card Berbasis Protein Lokal
Digital Meal Planning Card Berbasis Protein Lokal adalah media edukasi visual yang dirancang untuk membantu ibu rumah tangga merencanakan menu harian yang bergizi seimbang, dengan memanfaatkan sumber protein lokal yang mudah dijangkau. Media ini disusun berdasarkan kebutuhan nyata yang ditemukan dari hasil survei di atas, bukan sekadar asumsi peneliti.
Secara isi, media ini memuat materi seputar stunting, contoh perencanaan menu, resep berbasis bahan pangan sumber protein lokal, informasi kandungan gizi, tips pemilihan bahan pangan, serta petunjuk penggunaan media dalam format digital. Dengan format digital, kartu ini diharapkan lebih praktis diakses kapan saja, tidak lagi bergantung sepenuhnya pada jadwal penyuluhan Posyandu yang bersifat berkala.
Bagaimana Media Ini Dikembangkan?
Pengembangan Digital Meal Planning Card dilakukan melalui pendekatan penelitian dan pengembangan (Research and Development) dengan model 4D, yaitu Define (pendefinisian kebutuhan), Design (perancangan), Develop (pengembangan dan validasi), serta Disseminate (penyebarluasan). Sederhananya, sebelum mendesain kartu ini, tim peneliti terlebih dahulu menggali apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh ibu-ibu di lapangan lewat survei dan analisis kebutuhan. Barulah dari temuan itu, rancangan visual, alur cerita, dan konten menu disusun agar benar-benar relevan dengan keseharian pengguna.
Berpotensi Jadi Alternatif Edukasi yang Lebih Dekat dengan Keseharian Ibu
Dengan hasil validasi yang menjanjikan, Digital Meal Planning Card Berbasis Protein Lokal berpotensi menjadi alternatif media edukasi yang lebih praktis, menarik, dan mudah diakses dibanding media konvensional yang selama ini digunakan. Media ini bisa menjadi pelengkap penyuluhan gizi di Posyandu, sekaligus memberi ruang bagi ibu untuk belajar secara mandiri kapan pun dibutuhkan.
Tentu, potensi ini masih perlu dibuktikan lebih jauh melalui tahap uji coba langsung kepada pengguna sasaran, yang menjadi agenda lanjutan dari penelitian ini. Dengan kata lain, apa yang sudah dicapai saat ini adalah fondasi yang kuat, bukan garis akhir.
Penutup
Pengembangan Digital Meal Planning Card Berbasis Protein Lokal menjadi salah satu contoh bagaimana penelitian dapat lahir dari kebutuhan nyata masyarakat, bukan sekadar teori di atas kertas. Dengan mendengar langsung suara ibu-ibu di Posyandu, tim peneliti dari Universitas Negeri Jakarta berupaya menghadirkan media edukasi yang lebih relevan dengan keseharian keluarga Indonesia, sekaligus turut mendukung pemanfaatan protein lokal dalam upaya pencegahan stunting.
Tim peneliti:
Dra. Sachriani, M.Kes. (Ketua), Dra. Mariani, M.Si., Dra. Mutiara Dahlia, M.Kes., Wisnu Riyanto, S.Pd., M.Par. (Anggota), dengan mahasiswa peneliti Amira Thifalli dan Grandis Tsaniya Aesthetica — Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta.
Gambar Produk Penelitian:








Tinggalkan Balasan