Media Bangsa – BRIN perkuat sistem hotspot berbasis satelit untuk memangkas jeda waktu antara munculnya indikasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan respons petugas di lapangan. Sistem ini mengolah data satelit menjadi informasi hotspot dalam waktu sekitar 30 menit sehingga petugas dapat mengetahui potensi kebakaran lebih dini, terutama di wilayah yang sulit dijangkau secara manual.

Sistem Hotspot BRIN Menjangkau Wilayah Terpencil Indonesia

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Andy Indradjad, menyebut sistem yang tersedia melalui hotspot.brin.go.id menjadi salah satu instrumen penghubung wilayah Indonesia yang luas. Sistem ini turut menjangkau kawasan terpencil yang memiliki keterbatasan akses.

“Sistem deteksi dini ini memungkinkan kita mengetahui sedini mungkin adanya kebakaran di suatu wilayah di Indonesia,” kata Andy dalam keterangan tertulis kepada InfoPublik, Senin (7/9/2026).

Andy menjelaskan, kekuatan sistem ini bukan sekadar menghasilkan data lokasi kebakaran. Sistem hotspot BRIN menghadirkan informasi sebagai dasar untuk menentukan lokasi yang petugas lapangan perlu segera verifikasi dan tindak lanjuti.

Sensor Satelit Mendeteksi Anomali Suhu Kebakaran

Sistem hotspot BRIN memanfaatkan radiasi termal yang muncul dari objek di permukaan bumi. Kebakaran menghasilkan anomali suhu yang lebih tinggi dibandingkan kondisi lingkungan sekitarnya sehingga sensor satelit dapat mengenalinya.

“Kami memperkirakan suhu kebakaran sekitar 1.000 Kelvin sehingga sensor satelit dapat mendeteksinya dengan baik pada panjang gelombang sekitar 4 mikrometer,” jelas Andy Indradjad.

Saat ini, BRIN menggunakan data utama dari sensor Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) pada satelit Suomi NPP dan NOAA-20. Sensor ini menggantikan data MODIS dari satelit Terra dan Aqua, yang telah beroperasi lebih dari 20 tahun dan mengalami penurunan akurasi deteksi.

Proses Pengolahan Data Hotspot Berlangsung 30 Menit

Stasiun bumi menerima data satelit, lalu mengirimkannya ke pusat pengolahan Cloud BRIN. Sistem kemudian memproses data menjadi informasi titik panas dan menjalankan tahapan penyaringan untuk mengurangi kemungkinan kesalahan deteksi.

Penyaringan menjadi langkah penting karena tidak semua anomali suhu menunjukkan kebakaran. Aktivitas industri, pertambangan batu bara, hingga kawah gunung berapi, misalnya, dapat menghasilkan karakteristik panas yang menyerupai titik kebakaran.

Setelah proses penyaringan dan pengelompokan, sistem menampilkan informasi hotspot dalam dasbor untuk mendukung pemantauan dan menentukan wilayah yang memerlukan verifikasi lebih lanjut. “Keseluruhan proses ini memerlukan waktu sekitar 30 menit. Durasi tersebut bergantung pada kecepatan transfer data dari stasiun bumi ke Cloud BRIN,” tutur Andy Indradjad.

Ribuan Hotspot Muncul Harian di Sumatera dan Kalimantan

Andy mengungkapkan jumlah hotspot harian di Indonesia bisa mencapai ribuan, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Kondisi tersebut membuat pemantauan berbasis satelit menjadi penting karena kebakaran di satu wilayah dapat menghasilkan asap yang menyebar jauh, bahkan berpotensi melewati batas negara.

Untuk membantu menentukan prioritas verifikasi, sistem BRIN menyediakan indikator tingkat kepercayaan serta radius kemungkinan hasil pengelompokan (clustering). Indikator ini memberi informasi tambahan mengenai tingkat keyakinan atas keberadaan hotspot dan cakupan wilayah yang perlu petugas perhatikan. Semakin besar radius pengelompokan, semakin luas indikasi area yang berisiko mengalami kebakaran.

Sejumlah instansi telah memanfaatkan informasi hotspot BRIN untuk mendukung pemantauan dan penanganan karhutla, antara lain Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), kepolisian di wilayah Sumatera dan Kalimantan, Polri, serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai wali data.

Pola Karhutla Berbeda di Setiap Wilayah Indonesia

Petugas juga perlu mempertimbangkan karakteristik dan pola karhutla di setiap wilayah saat memantau. Andy menjelaskan, Sumatera bagian utara dan tengah umumnya mengalami peningkatan hotspot pada Januari–Februari dan Juni, sementara Sumatera bagian selatan cenderung mencapai puncak sekitar bulan September.

Di Kalimantan, kebakaran biasanya meningkat pada musim kemarau, terutama sekitar Juli–Oktober, ketika kondisi lahan, termasuk lahan gambut, menjadi lebih kering. Karena itu, petugas tidak bisa memperlakukan informasi titik api hanya sebagai data statistik pascakebakaran. Kecepatan informasi menjadi faktor penting agar petugas dapat segera memverifikasi dan mengonfirmasi indikasi kebakaran.

“Hotspot tidak hanya dilihat sebagai catatan setelah kebakaran terjadi. Sistem ini dapat memperpendek waktu antara terjadinya kebakaran dan respon cepat penanganannya,” ujar Andy.

Alasan BRIN Perkuat Sistem Hotspot Secara Berkelanjutan

BRIN masih mengembangkan sistem ini untuk meningkatkan pemantauan karhutla. Salah satu langkahnya adalah menjajaki pemanfaatan data satelit NOAA-21. Selain itu, BRIN memperkuat infrastruktur dengan menyiapkan stasiun bumi cadangan di Rancabungur sebagai penopang stasiun utama di Parepare, guna menjaga kelancaran penerimaan data ketika salah satu stasiun mengalami kendala.

Di sisi pengolahan data, BRIN menyempurnakan metode penyaringan berbasis data historis. Pengembangan ini menekan kesalahan deteksi sehingga informasi hotspot yang pengguna terima semakin akurat dan relevan untuk mendukung mitigasi karhutla.

Dengan terus memperkuat sisi satelit, infrastruktur stasiun bumi, dan metode pengolahan data, BRIN perkuat sistem hotspot ini bukan hanya untuk menunjukkan lokasi indikasi kebakaran, tetapi juga untuk mempercepat keputusan soal prioritas respons di lapangan.

SUMBER