Media Bangsa – SIDOARJO – Tumpukan daun yang selama ini identik dengan sampah dan pekerjaan tambahan bagi warga, kini justru menjadi sumber kehidupan baru di Perum Gading Fajar 2, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
Melalui inovasi pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular, Bank Sampah Gading Fajar 2 mengolah sampah daun menjadi kompos. Kompos tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menghijaukan lahan bantaran sungai yang sebelumnya kosong dan kurang terawat menjadi taman produktif sekaligus ruang edukasi lingkungan bagi masyarakat.
Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Pendampingan Komunitas (PPK) Universitas Surabaya (Ubaya) bertema “Optimalisasi Pengelolaan Bank Sampah Melalui Dukungan Peralatan dan Penguatan SDM di Perum Gading Fajar 2 Sidoarjo.”
Program ini berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi Bank Sampah Gading Fajar 2. Di tengah kebutuhan pengelolaan sampah yang terus berjalan, jumlah pengurus aktif semakin terbatas. Sebagian besar pengelola merupakan warga lanjut usia, sementara regenerasi dari kalangan generasi muda belum berjalan optimal.
Kondisi tersebut membuat beban kerja menjadi salah satu tantangan utama dalam menjaga keberlanjutan operasional bank sampah.
Tim PPK Ubaya kemudian melakukan analisis kebutuhan dan kelayakan teknologi sebelum menentukan peralatan yang paling sesuai dengan kondisi mitra. Salah satu opsi awal yang dipertimbangkan adalah mesin pencacah plastik.

Namun, hasil kajian menunjukkan penggunaan mesin pencacah plastik belum menjadi pilihan yang paling tepat. Sampah plastik, terutama botol PET dan plastik campur, dinilai lebih menguntungkan apabila langsung dijual kepada pengepul. Proses pencacahan justru membutuhkan tambahan tenaga, waktu, serta tahapan kerja.
Dari hasil kajian tersebut, strategi program kemudian diarahkan pada pengelolaan sampah organik.
Sampah daun dipilih karena tersedia dalam jumlah besar dan berkelanjutan di lingkungan perumahan. Mesin pencacah daun digunakan untuk mengurangi pekerjaan manual yang selama ini cukup melelahkan bagi pengurus sekaligus mempercepat proses pengomposan.
Selain menyediakan mesin, tim PPK Ubaya juga membangun beberapa unit tempat pengomposan dan memberikan pelatihan kepada pengurus mengenai pengoperasian dan perawatan mesin serta aspek keselamatan kerja.
Keberadaan beberapa unit komposter memungkinkan proses pengomposan dilakukan secara bergiliran. Dengan sistem tersebut, sampah organik dapat terus diterima dan diproses tanpa harus menunggu satu siklus pengomposan selesai.
Hasilnya tidak berhenti pada produksi kompos.
Kompos yang dihasilkan dimanfaatkan untuk menanam berbagai tanaman fungsional di lahan bantaran sungai. Area yang sebelumnya kosong dan tidak terurus perlahan disulap menjadi kawasan hijau yang produktif.
Setiap tanaman juga dilengkapi papan penanda. Selain memberikan informasi kepada warga, papan tersebut menjadi media edukasi lingkungan sekaligus penanda bahwa tanaman merupakan bagian dari sistem ekonomi sirkular yang dibangun di kawasan tersebut.
Sampah Diubah Menjadi Dana Lingkungan
Keberlanjutan Bank Sampah Gading Fajar 2 juga terus dijaga melalui pengelolaan hasil penjualan sampah yang dikumpulkan warga.
Koordinator Bank Sampah Gading Fajar 2, Sulistina, mengatakan kegiatan pengumpulan sampah tetap berjalan meskipun mekanisme pemanfaatan hasil penjualannya mengalami penyesuaian.
“Kelanjutan bank sampah saat ini tetap mengumpulkan sampah. Hanya saja, sampah yang terkumpul tidak lagi dimasukkan atau dijadikan rekening pribadi. Uang hasil penjualan sampah dijadikan dana kas lingkungan,” ujar Sulistina.
Menurut dia, dana tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Penggunaannya tidak hanya diarahkan untuk kebutuhan yang bersifat fisik, tetapi juga berbagai kebutuhan nonfisik yang mendukung kesejahteraan lingkungan.
“Insya Allah penggunaan dana ini tidak hanya digunakan untuk yang sifatnya fisik, tetapi juga untuk yang sifatnya nonfisik, terutama untuk kesejahteraan lingkungan yang membutuhkan,” katanya.
Skema tersebut membuat aktivitas bank sampah tidak hanya memberikan manfaat kepada warga yang menyetorkan sampah, tetapi juga berkontribusi terhadap kepentingan bersama. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diubah menjadi sumber pembiayaan bagi kebutuhan lingkungan.
Warga Apresiasi Pendampingan Ubaya
Dukungan terhadap pengembangan Bank Sampah Gading Fajar 2 juga mendapat apresiasi dari warga. Ketua RT 33 Perum Gading Fajar 2 Sidoarjo, Utomo, mengapresiasi dukungan dan pendampingan yang diberikan tim PPK Ubaya kepada para penggerak bank sampah.
Menurut Utomo, bantuan peralatan dan pendampingan yang diberikan memberikan dorongan bagi warga untuk terus mengembangkan pengelolaan sampah agar tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas.
“Kami mengapresiasi dukungan dari tim PPK Ubaya kepada para penggerak Bank Sampah Gading Fajar 2 Sidoarjo. Bantuan peralatan dan pendampingan yang diberikan sangat membantu warga dalam mengembangkan pengelolaan sampah agar lebih bermanfaat,” ujar Utomo.
Ia berharap kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat terus berlanjut sehingga program yang telah dibangun mampu berjalan secara berkelanjutan.
“Harapannya, kegiatan ini bisa terus berlanjut dan semakin banyak warga yang ikut terlibat. Bank sampah ini bukan hanya soal mengurangi sampah, tetapi juga bagaimana sampah bisa memberikan manfaat kembali untuk lingkungan dan masyarakat,” katanya.
Membangun Ekosistem Ekonomi Sirkular
Model yang dikembangkan Bank Sampah Gading Fajar 2 menciptakan siklus pengelolaan material yang sederhana, tetapi memiliki dampak berkelanjutan.
Sampah organik warga dikumpulkan dan diolah menjadi kompos. Kompos digunakan untuk menumbuhkan tanaman. Tanaman kemudian dapat dimanfaatkan warga, sementara biomassa tanaman yang sudah tidak terpakai kembali menjadi bahan baku kompos.
Di sisi lain, sampah anorganik memiliki nilai ekonomi yang dapat dikonversi menjadi dana untuk kepentingan lingkungan.
Dengan demikian, sampah tidak lagi dipandang semata-mata sebagai material yang harus segera dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai dan dapat dikembalikan kepada masyarakat maupun lingkungan.
Program tersebut sekaligus memperluas fungsi Bank Sampah Gading Fajar 2. Jika sebelumnya bank sampah lebih banyak berperan dalam menampung dan mengelola sampah anorganik, kini perannya berkembang menjadi simpul pengelolaan material kawasan yang mengintegrasikan pengelolaan sampah anorganik dan organik.
Ketua Tim PPK Ubaya, Dr. Erna Andajani, S.T., M.M., CRM., MPU., mengatakan pendekatan program dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi nyata yang dihadapi mitra. Teknologi yang dipilih bukan semata-mata berdasarkan kecanggihan peralatan, tetapi harus benar-benar mampu menjawab kebutuhan dan kapasitas pengelola.
Tim PPK Ubaya dari Fakultas Bisnis dan Ekonomika terdiri atas Dr. Erna Andajani, S.T., M.M., CRM., MPU. sebagai ketua, bersama anggota Sintia Farach Dhiba, S.E., MIB., dan Hanny Purnomo, S.Ak., M.A. Program ini juga melibatkan Tuani Lidiawati Simangunsong, S.T., M.T. dari Fakultas Teknik.
Dua mahasiswa Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Elizabeth Joanna Aer dan Jonathan Christopher Oetomo, turut dilibatkan dalam pelaksanaan program.
Program Pendampingan Komunitas tersebut mendapat dukungan pendanaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Surabaya.
Lewat inovasi sederhana berbasis kebutuhan warga, Bank Sampah Gading Fajar 2 menunjukkan bahwa solusi persoalan sampah tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang mahal dan kompleks.
Dari daun yang jatuh di lingkungan perumahan, lahir kompos. Dari kompos, tumbuh tanaman. Sementara dari sampah anorganik, lahir dana untuk lingkungan.
Pada akhirnya, program ini tidak sekadar mengubah sampah menjadi sesuatu yang berguna. Lebih dari itu, warga sedang membangun ekosistem baru: sampah menjadi sumber daya, lahan kosong menjadi taman produktif, dan bank sampah menjadi penggerak kesejahteraan lingkungan.

Tinggalkan Balasan