Media Bangsa – Desa Bahagia menjadi bagian dari pembinaan calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Rima Agristina menyebut Desa Bahagia sebagai miniatur Indonesia karena para peserta dari berbagai daerah hidup dan beraktivitas bersama selama menjalani pemusatan latihan.

Rima Agristina mengatakan, kehidupan bersama tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam memahami keberagaman Indonesia. Para peserta berasal dari berbagai provinsi dengan latar belakang daerah dan budaya yang berbeda.  “Desa Bahagia itu miniatur Indonesia,” ujar Rima dalam kegiatan latihan Paskibraka HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kantor Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Depok, Jawa Barat, Sabtu (8/8/2026).

Menurut Rima, para peserta ditempatkan dan beraktivitas bersama dengan peserta dari daerah lain. Kondisi tersebut menjadi ruang pembelajaran untuk mengenal perbedaan, membangun sikap saling menghormati, serta menumbuhkan toleransi. “Dari daerah ini gabung satu kamar dengan daerah itu, mereka belajar memahami Indonesia. Belajar respect, belajar toleransi,” katanya.

Selama berada di Desa Bahagia, peserta tidak hanya mengikuti pembelajaran formal, tetapi juga menjalani aktivitas sehari-hari secara bersama. Mereka beribadah sesuai agama masing-masing, makan bersama, berolahraga, menjaga kebersihan, serta merapikan tempat tinggal.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembiasaan agar peserta memiliki sikap disiplin, tertib, mandiri, dan bertanggung jawab. Peserta juga dibiasakan mengikuti jadwal kegiatan dan menjaga lingkungan tempat tinggal selama pemusatan latihan.  “Mereka belajar bagaimana hidup dengan disiplin, rapi, tepat waktu,” ujar Rima.

Selain pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari, peserta mendapatkan pembelajaran mengenai sejarah, keindonesiaan, kebangsaan, dan Pancasila. Nilai-nilai yang dipelajari kemudian diaktualisasikan melalui berbagai aktivitas selama berada di lingkungan pembinaan.

Rima menjelaskan, proses tersebut merupakan bagian dari pembentukan karakter Paskibraka. Peserta tidak hanya dipersiapkan untuk menjalankan tugas dalam upacara kenegaraan, tetapi juga dibentuk agar memahami posisinya sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang beragam. “Yang dilakukan di sini adalah habituasi menjadi warga negara Indonesia dengan nilai-nilai Pancasila,” kata Wakil Kepala BPIP.

Melalui kehidupan bersama di Desa Bahagia, peserta juga diperkenalkan pada nilai persatuan dalam keberagaman. Perbedaan daerah, budaya, dan kebiasaan tidak menjadi sekat, tetapi menjadi bagian dari pengalaman peserta dalam memahami Indonesia secara langsung.

Rangkaian pembinaan tersebut menjadi bagian dari proses panjang Paskibraka yang tidak berhenti setelah pelaksanaan tugas pengibaran dan penurunan bendera pada 17 Agustus. Peserta akan mendapatkan pembekalan dan pembinaan nilai-nilai Pancasila hingga 1 Juni 2027 sebelum kemudian menjadi Purnapaskibraka.

Setelah menjadi Purnapaskibraka, mereka diarahkan untuk tetap berkontribusi melalui wadah organisasi di daerah masing-masing. Kegiatan tersebut mencakup peningkatan kompetensi dan penerapan kemampuan melalui kegiatan kemasyarakatan. “Mereka diturunkan di dalam wadah itu dua hal, peningkatan kompetensi dan juga hasil peningkatan kompetensi itu dilatih di masyarakat,” ujar Rima Agristina.

Dengan demikian, pembinaan Paskibraka melalui Desa Bahagia tidak hanya menjadi bagian dari persiapan menjalankan tugas kenegaraan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran untuk menanamkan nilai Pancasila, memperkuat persatuan, serta membangun kepedulian dan kemampuan peserta untuk berkontribusi di tengah masyarakat.

Sumber