Media Bangsa – Ketika seorang santri telah meninggalkan gerbang pondok selama puluhan tahun dan berbaur dengan kerasnya dunia profesional, apakah nilai-nilai pesantren masih mampu bertahan sebagai kompas moral utama

Nilai-nilai kepemimpinan, kesederhanaan, dan keikhlasan yang ditanamkan Gontor justru semakin relevan dan tajam saat dihadapkan pada realitas dunia kerja. Peringatan 100 Tahun Gontor adalah cermin untuk mengaudit sejauh mana alumni telah menerjemahkan nilai tersebut menjadi manfaat konkret bagi masyarakat, bukan sekadar bernostalgia.

Bagi kami, angkatan Ahmarian 62001 (Red Century), tahun ini menandai 25 tahun kiprah kami di luar pondok. Mendengarkan pidato K.H. Hasan Abdullah Sahal tempo hari membawa saya pada momen introspeksi yang mendalam. Di tengah kesibukan saya mengurus berbagai inisiatif asosiasi seperti AGMARI dan KOMISI, pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Kiai Hasan terasa menusuk. Apakah saya masih bersedia menerima kritik? Apakah pengabdian saya benar-benar dirasakan manfaatnya oleh para guru dan praktisi yang saya temui? Pidato itu bukan untuk orang lain, itu teguran untuk saya pribadi.

Refleksi satu abad institusi pendidikan ini mengajarkan bahwa kebanggaan sebagai alumni tidak boleh berhenti pada identitas masa lalu. Kebanggaan itu harus dikonversi menjadi karya (seperti yang disimbolkan melalui peluncuran Mushaf Gontor). Dalam konteks keseharian, karya ini terwujud dalam integritas kita saat berbisnis, cara kita mendidik generasi muda, dan kemampuan kita menjaga kesederhanaan di tengah dunia yang mendewakan status sosial. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kritis Kiai Hasan tidak bisa diberikan lewat orasi di podium, melainkan lewat keringat pengabdian di lapangan setiap harinya.

Peringatan 100 Tahun Gontor bukanlah garis akhir, melainkan titik tolak baru. Sejarah abad kedua Gontor tidak akan ditulis dengan tinta di atas kertas, melainkan melalui dedikasi, integritas, dan karya nyata setiap alumninya di berbagai medan pengabdian masing-masing.

Tentang Ahmad Madani

Ahmad Madani merupakan praktisi pemasaran dan vokasi, Alumni Gontor tahun 2001, Sekretaris Jenderal KOMISI, Co-Founder AGMARI, serta Juri LKS Digital Marketing Nasional 2026. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui ahmadmadani.id.