Media Bangsa – Kebudayaan Nusantara menyimpan jejak peradaban purba yang amat bernilai tinggi. Lukisan Purba Pangkep di Situs Prasejarah Bulu Sipong 4 Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) memicu perhatian khusus pemerintah pusat. Sementara itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong penetapan kawasan cadas bersejarah tersebut menjadi Cagar Budaya Nasional. Selain itu, langkah penyelamatan ini mendesak lantaran tim menemukan gejala pengelupasan dinding batu di lokasi peninggalan.
Fadli Zon menyampaikan dorongan pelestarian tersebut saat mengunjungi area Taman Kehati Bulu Sipong, Sulawesi Selatan, pada Rabu (28/10/2026). Pasalnya, situs penting ini terintegrasi dalam kawasan Maros-Pangkep UNESCO Global Geopark. Dalam hal ini, peneliti menguji usia karya seni dinding gua menggunakan metode laser ablation uranium-series. Hasil uji laboratorium memperkirakan karya dinding batu tersebut berumur sekitar 48.000 tahun.
“Hari ini saya berkesempatan melihat langsung Situs Bulu Sipong 4 yang mempunyai satu bukti peradaban tua dari Nusantara. Telah diteliti dengan metodologi yang cukup mutakhir, yaitu laser ablation uranium-series, usianya 48.000 tahun,” ujar Fadly di lokasi situs.
Jejak Berburu dan Peradaban Manusia Purba
Saat mengamati ceruk dinding batu, Fadli memperhatikan detail gambar figur manusia beserta anoa. Selanjutnya, ia menilai gambar purba tersebut merekam kecerdasan visual manusia purba dalam mengabadikan aktivitas harian. Sebab, karya visual purba di kawasan Lukisan Purba Pangkep mendokumentasikan pola perburuan secara runtut.
“Ini merupakan bukti bahwa nenek moyang kita, paling tidak 48.000 tahun yang lalu sudah mengenal perburuan, dan juga bagaimana mereka tinggal di gua-gua purba ini yang menjadi rock shelter dan di situ mereka menggambarkan menceritakan kehidupan mereka termasuk mungkin kehidupan berburu dan sebagainya,” jelasnya.
Fadli menambahkan bahwa karakter naratif gambar cadas memperkuat posisi kawasan Maros-Pangkep dalam peta seni dunia. Namun, upaya perlindungan cagar budaya ini menghadapi ancaman iklim global. Sebab itu, kelembapan suhu serta perubahan iklim memicu pengelupasan material batuan.
Pelestarian dan Rencana Cagar Budaya Nasional
“Tantangannya adalah climate change dan kelembapan suhu udara. Kalau kita lihat di dinding-dinding itu, ada bagian yang mengelupas. Teman-teman dari Balai Pelestarian Kebudayaan dan PT Semen Tonasa juga ikut melakukan preservasi, termasuk memantau empat kali dalam setahun untuk melihat perubahan, terutama pengelupasan pada dinding-dinding gambar itu,” ungkap Fadly.
Pemantauan rutin empat kali setahun menjadi pijakan penting dalam menentukan strategi preservasi. Oleh sebab itu, pemerintah terus mengawal proses pemulihan dinding goa cadas. Di samping itu, penetapan status hukum cagar budaya bakal memperkuat keaslian situs. Bahkan, pengakuan negara akan memberikan perlindungan ekstra bagi Lukisan Purba Pangkep dari risiko kerusakan lingkungan.
“Mudah-mudahan kita bisa segera menetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional. Memang lebih muda dibandingkan Leang Karampuang di Maros yang berusia 51.200 tahun, tetapi Bulu Sipong 4 juga memiliki cerita naratif dengan usia 48.000 tahun,” tegasnya.
Di sisi lain, kolaborasi lintas instansi menjamin keberlanjutan pemeliharaan artefak bersejarah tersebut. Dengan demikian, pelindungan Lukisan Purba Pangkep sanggup menyelamatkan warisan peradaban bangsa bagi generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan