Media Bangsa — Gandrung Sewu 2026 digelar malam hari pada 24 Oktober 2026 di Banyuwangi, Jawa Timur. Sebanyak 1.300 penari memadukan seni tradisi, tata cahaya, dan teknologi panggung dalam pertunjukan kolosal ini. Konsep baru tersebut menghadirkan pengalaman segar bagi salah satu atraksi budaya unggulan Banyuwangi.

PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney memperkuat kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Kerja sama ini bertujuan mendorong wisatawan mengunjungi destinasi lain. Selain itu, wisatawan dapat menginap lebih lama, menikmati kuliner lokal, dan membeli produk UMKM.

Gandrung Sewu 2026 Digelar Malam, Herdy Harman Tekankan Ekosistem Pariwisata

Direktur Sumber Daya Manusia dan Digital InJourney, Herdy Harman, menjelaskan bahwa pariwisata membutuhkan keterhubungan antara transportasi, atraksi, akomodasi, layanan, promosi, dan masyarakat. Ia juga menilai keberhasilan pariwisata tidak cukup diukur dari jumlah kunjungan.

“Keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan yang datang, tetapi juga dari berapa lama mereka tinggal, aktivitas yang mereka lakukan, dan seberapa besar manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat setempat,” ujar Herdy pada 14 Oktober 2026.

Menurut Herdy, Banyuwangi memiliki modal kuat berupa kekayaan alam dan budaya. Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor dapat mengubah potensi tersebut menjadi pengalaman wisata yang lebih lengkap.

Gandrung Sewu 2026 Digelar Malam dengan Tata Cahaya Modern

Gandrung Sewu menjadi fokus pengembangan atraksi budaya Banyuwangi. Pada 2026, pertunjukan ini untuk pertama kalinya tampil malam hari. Selain itu, tata cahaya dan teknologi panggung menghadirkan suasana baru.

Sebanyak 1.300 penari tampil dalam pergelaran tersebut. Keterlibatan mereka membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan menjaga Tari Gandrung. Dengan begitu, tari ini tetap menjadi identitas budaya Banyuwangi.

Bupati Ipuk Dorong Pembaruan Gandrung Sewu Tanpa Menghilangkan Tradisi

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menilai pembaruan konsep perlu agar Gandrung Sewu tetap menarik lintas generasi. Ia menegaskan tradisi harus tetap menjaga karakternya. Oleh sebab itu, pemerintah daerah berhati-hati dalam menyusun pembaruan ini.

“Gandrung Sewu merupakan kebanggaan masyarakat Banyuwangi dan bagian penting dari identitas budaya daerah. Kami ingin tradisi ini terus berkembang dan menjangkau lebih banyak generasi, tanpa kehilangan jati dirinya,” kata Ipuk.

Budayawan dan Penari Sambut Konsep Baru Gandrung Sewu

Budayawan sekaligus pelatih penari, Suko Prayitno, memandang konsep baru sebagai tantangan sekaligus peluang memperkenalkan budaya Banyuwangi. Ia mengingatkan para kreator untuk tetap menghormati pakem Tari Gandrung. Sementara itu, penari Puspa Ayu merasakan pengalaman berbeda saat tampil di malam hari.

Suasana baru itu juga memberi kesan segar bagi penonton. Antusiasme publik pun terus tumbuh menjelang pertunjukan Gandrung Sewu 2026.

InJourney Hubungkan Gandrung Sewu dengan Akses Perjalanan dan Promosi

InJourney mendorong ekosistem pariwisata yang menghubungkan atraksi budaya dengan akses perjalanan, akomodasi, layanan wisata, dan promosi. Tujuannya membuat dampak festival melampaui satu malam pertunjukan. Oleh karena itu, koordinasi lintas pihak menjadi kunci.

Direktur Komersial InJourney Airports, Very Y. Setiady, menyatakan konektivitas udara dan daya tarik destinasi perlu tumbuh beriringan. Event seperti Gandrung Sewu mampu menjadi stimulus bagi wisatawan. Karena itu, kolaborasi dengan pemerintah daerah, maskapai, dan pelaku industri sangat penting.

InJourney Airports dapat berkoordinasi dengan maskapai untuk memetakan potensi permintaan perjalanan. Mereka juga mengevaluasi kebutuhan kapasitas penerbangan dan menjajaki penyesuaian frekuensi sesuai kondisi pasar. Selain itu, promosi Banyuwangi dapat menjangkau lebih banyak kanal komunikasi. Pendekatan ini membuat wisatawan tertarik menjelajahi destinasi alam dan budaya lain di Banyuwangi.

UMKM Banyuwangi Ikut Menangkap Peluang Ekonomi Festival

Pengembangan festival budaya memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat. Peningkatan kunjungan wisatawan mendorong aktivitas transportasi, perhotelan, kuliner, perdagangan, dan industri kreatif. Dengan begitu, roda ekonomi lokal ikut berputar.

Pelaku UMKM memegang peran penting dalam pariwisata terintegrasi ini. Penguatan kapasitas sumber daya manusia, peningkatan kompetensi layanan, kurasi produk, dan perluasan promosi membantu usaha lokal menangkap peluang. Akhirnya, usaha kecil ikut merasakan dampak positif.

Bagi InJourney, keberhasilan atraksi budaya tidak semata bergantung pada skala pertunjukan. Manfaat berkelanjutan bagi daerah justru menjadi ukuran utama. Oleh sebab itu, setiap program menyusun rencana jangka panjang.

“Budaya harus tetap menjadi jiwa pengembangan destinasi, sementara konektivitas, hospitality, promosi, dan pemberdayaan ekonomi menjadi pengungkit agar manfaat pariwisata dapat dirasakan oleh masyarakat,” ujar Herdy.

Melalui kolaborasi dengan Pemkab Banyuwangi, InJourney berharap Gandrung Sewu 2026 memperkuat daya tarik wisata budaya. Perpaduan inovasi dan pelestarian tradisi memperluas jangkauan wisatawan. Pada akhirnya, kegiatan budaya ini menjadi penggerak ekonomi lokal yang berkelanjutan.

SUMBER