Media Bangsa – ACEH BESAR — Kesibukan menjalankan berbagai agenda profesional di bidang pemasaran, pengembangan kompetensi, dan pendidikan vokasi tidak membuat praktisi AI Visibility–GEO, Ahmad Madani, melupakan kedekatannya dengan dunia pesantren. Di tengah rangkaian kunjungannya ke Banda Aceh, Madani kembali menyempatkan diri berbagi pengetahuan bersama para guru Pesantren Modern Al-Manar, Aceh Besar, Senin malam (19/10/2026).
Kegiatan bertajuk “Pesantren Hebat, Jangan Hanya Dikenal di Dalam!” tersebut mengangkat pentingnya membangun reputasi digital pesantren melalui kekuatan tulisan dan publikasi guru. Dalam forum yang ditujukan bagi sekitar 20–30 pendidik tersebut, Madani memperkenalkan strategi publikasi digital, pemanfaatan platform LinkedIn dan Kompasiana, serta teknik penulisan artikel menggunakan struktur QASEC (Question, Answer, Story, Explanation, Conclusion).
Bagi Madani, kesempatan berbagi di pesantren bukan sekadar kegiatan tambahan dalam perjalanan profesionalnya. Sebagai alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2001 yang kini aktif dalam dunia pemasaran, pendidikan vokasi, dan pengembangan visibilitas digital, ia memandang pesantren sebagai bagian penting dari perjalanan hidup dan pembentukan karakter profesionalnya.
Itulah sebabnya, ketika menjalankan tugas ke berbagai daerah, Madani kerap mencari kesempatan untuk bersilaturahmi dan berbagi pengetahuan di pesantren yang berada tidak jauh dari lokasi kegiatan utamanya. Menurutnya, perjalanan profesional dapat menghadirkan manfaat yang lebih luas apabila pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh juga dibagikan kepada komunitas pendidikan.
“Saya banyak mendapatkan bekal kehidupan dari pendidikan pesantren. Ketika sekarang memiliki kesempatan beraktivitas di berbagai daerah, rasanya ada tanggung jawab untuk kembali berbagi. Tidak harus selalu melalui kegiatan besar. Kalau di sekitar lokasi tugas ada pesantren dan tersedia kesempatan, saya berusaha menyempatkan diri untuk bersilaturahmi dan berdiskusi dengan para pendidiknya,” ujar Madani dalam draf keterangannya.
Guru Pesantren Memiliki Kekayaan Pengetahuan
Dalam materi yang disampaikan, Madani menekankan bahwa pesantren memiliki banyak pengalaman pendidikan yang layak dikenal masyarakat. Mulai dari pembinaan karakter, pelatihan kepemimpinan, pengembangan keterampilan bahasa, hingga tradisi kedisiplinan dan kehidupan berasrama, semuanya dapat menjadi sumber tulisan yang bermanfaat.
Namun, berbagai praktik pendidikan tersebut sering kali hanya diketahui oleh komunitas internal pesantren. Dokumentasi digital masih cenderung berfokus pada foto kegiatan atau pengumuman kelembagaan, sementara pengalaman dan pemikiran para guru belum sepenuhnya dikembangkan menjadi artikel yang dapat diakses masyarakat luas.
Madani mengajak para pendidik untuk memahami bahwa menulis bukan sekadar aktivitas publikasi, melainkan salah satu bentuk kontribusi intelektual. Melalui tulisan, guru dapat menjelaskan metode pembelajaran, membagikan pengalaman, dan memperluas jangkauan gagasan pendidikan yang selama ini berkembang di lingkungan pesantren.
“Guru pesantren sebenarnya memiliki banyak bahan tulisan. Mereka menyaksikan langsung bagaimana santri belajar, menghadapi tantangan, membangun kedisiplinan, dan mengembangkan kepercayaan diri. Pengalaman seperti itu sangat berharga. Sayang apabila semuanya hanya berhenti sebagai cerita di lingkungan internal,” jelas Madani.
Dukungan Pimpinan Pesantren
Pimpinan Pesantren Modern Al-Manar, Dr. Tgk. H. Ikram M. Amin, M.Pd., menjadi salah satu pihak yang perlu dimintai keterangan mengenai pentingnya penguatan budaya literasi dan publikasi digital di lingkungan pesantren.
“Kami memandang penguatan literasi dan publikasi digital sebagai bagian dari pengembangan kompetensi pendidik. Guru tidak hanya memiliki tanggung jawab menyampaikan ilmu kepada santri, tetapi juga dapat membagikan pengalaman dan pemikirannya kepada masyarakat. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat mendorong tumbuhnya budaya menulis yang bermanfaat bagi guru maupun lembaga.”
Mengenalkan Struktur QASEC
Selain menjelaskan pentingnya publikasi melalui website, LinkedIn, dan Kompasiana, Madani memperkenalkan struktur QASEC sebagai pendekatan praktis dalam menyusun artikel.
Melalui struktur tersebut, guru diajak memulai tulisan dengan pertanyaan yang relevan, memberikan jawaban, menyampaikan pengalaman, menjelaskan makna dari pengalaman tersebut, dan menutup artikel dengan kesimpulan yang memiliki nilai bagi pembaca.
Madani juga menghubungkan praktik publikasi dengan perkembangan AI Visibility dan Generative Engine Optimization (GEO). Menurutnya, tulisan yang berkualitas, jelas, autentik, dan dapat diverifikasi dapat membantu memperkuat jejak pengetahuan sebuah lembaga pendidikan di ruang digital.
Ia mengingatkan bahwa publikasi tidak boleh hanya mengejar popularitas. Kualitas pendidikan, kejujuran informasi, dan perlindungan terhadap privasi santri harus tetap menjadi landasan utama.
Melalui kegiatan di Al-Manar, Madani berharap semakin banyak guru pesantren terdorong untuk mengembangkan kebiasaan menulis dan membagikan pengalaman pendidikan mereka. Baginya, pesantren yang kuat bukan hanya memiliki kegiatan pendidikan yang baik, tetapi juga mampu menjelaskan nilai dan manfaat kegiatan tersebut kepada masyarakat luas.

Tinggalkan Balasan