Media Bangsa – Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat transformasi sektor perkebunan nasional secara menyeluruh. Pemerintah mendorong penguatan pengolahan komoditas dan peningkatan produktivitas lahan demi mendongkrak nilai tambah serta kesejahteraan petani. Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Alim Setiawan Slamet menegaskan bahwa program Hilirisasi Perkebunan Kementan bakal menekan ketergantungan pada penjualan bahan mentah. Selain itu, sektor ini memegang peran strategis dalam Visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan swasembada pangan serta energi.

Sektor perkebunan memiliki potensi raksasa melalui komoditas unggulan seperti kelapa sawit, kakao, dan kelapa. “Perkebunan bukan hanya sumber devisa. Perkebunan juga menopang ekonomi, menciptakan lapangan kerja, menyejahterakan masyarakat, dan menjadi tumpuan energi terbarukan kita ke depan,” kata Wamentan Alim pada gelaran International Conference and Expo on Palm Oil and Others (ICExPO) 2026 di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Rabu (4/11/2026).

Program Hilirisasi Perkebunan Kementan untuk Komoditas Unggulan

Pemerintah mengawal pembentukan struktur industri baru sejak 2025 melalui pengolahan tujuh komoditas utama. Pasalnya, program ini fokus menggarap tebu, kelapa, kopi, kakao, jambu mete, lada, serta pala. Sebab, saat ini sekitar 20 hingga 30 persen ekspor pertanian Indonesia masih berupa komoditas mentah. “Target kita ke depan, mudah-mudahan kita bisa mencapai lebih dari 90 persen ekspor perkebunan sudah dalam bentuk produk turunan,” ungkapnya.

Selanjutnya, pemerintah menggarap aspek hulu melalui peremajaan, perluasan, dan rehabilitasi lahan seluas 870 ribu hektare. Bahkan, penataan ini mencakup penyiapan lahan, benih unggul bermutu, serta penerapan budidaya presisi. Misalnya, pemerintah mengembangkan kawasan kakao seluas 174.000 hektare dan kelapa seluas 151.554 hektare pada 2026. Dalam hal ini, pengolahan buah kelapa memberikan lonjakan harga yang sangat fantastis.

Kelapa butiran seharga Rp1.350 per kilogram sanggup menghasilkan minyak kelapa seharga Rp60.000 per liter. Bahkan, pengolahan kelapa menjadi virgin coconut oil (VCO) mendongkrak nilainya hingga Rp145.000 per liter. “Ini bukan sekadar hitungan di atas kertas. Pada Oktober tahun lalu, produk hilirisasi kelapa dari Maluku Utara juga sudah diekspor ke Tiongkok,” ungkap Alim.

Strategi Bioenergi dan Inovasi Hilirisasi Perkebunan Kementan

Selain itu, pemerintah memperkuat tanaman tebu demi mengejar swasembada gula konsumsi nasional. Sebab, ketergantungan impor gula nasional mencapai rata-rata Rp44 triliun per tahun. Oleh sebab itu, kementerian menggelar perluasan areal dan program bongkar ratoon sejak 2025. Di sisi lain, komoditas perkebunan menjadi pilar utama penyediaan energi terbarukan di tengah gejolak global.

Sebab itu, pemerintah menerapkan mandatori biodiesel B50 dan mengembangkan bioetanol E10 secara bertahap. Kemudian, pasokan bahan baku memanfaatkan tebu, ubi kayu, jagung, sorgum, hingga jambu mete. Bahkan, pemerintah menyiapkan kawasan kelapa sawit khusus bioenergi seluas 2 hingga 5 juta hektare secara terintegrasi.

Penguatan teknologi menjadi kunci utama percepatan produksi di lapangan. Sebab, kementerian mengadopsi kecerdasan artifisial, mekanisasi, serta pemanfaatan limbah menjadi coco fiber, coco peat, arang aktif, hingga pakan ternak. “Teknologi dan inovasi harus mengubah keunggulan komparatif yang kita miliki menjadi keunggulan kompetitif,” ujarnya.

Dengan demikian, ajang tahunan ICExPO 2026 sanggup mempererat kolaborasi antar pemangku kepentingan. “Kami berharap melalui ICExPO 2026 ini bisa menjadi ruang diskusi yang melahirkan terobosan tepat guna, bukan hanya untuk sawit, tetapi juga untuk kelapa dan kakao,” pungkasnya.

Sumber