Media Bangsa – Pemerintah menyiapkan skema pembelajaran fleksibel bagi sekolah terdampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga 2 September 2026, sekitar 1,43 juta peserta didik di enam provinsi mengikuti pembelajaran dari rumah. Kebijakan ini bertujuan menjaga keselamatan siswa dan guru.
Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal/Informal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Gogot Suharwoto mengatakan keselamatan warga sekolah dan keberlangsungan pembelajaran harus berjalan bersama.
“Belajar di rumah bukan berarti libur. Ini memastikan anak tetap belajar karena kondisi tidak memungkinkan mereka belajar di sekolah,” ujar Gogot dalam konferensi pers penanganan karhutla secara daring, Rabu (2/9/2026).
Aturan untuk Sekolah Terdampak Asap
Kebijakan tersebut mengacu pada Surat Edaran Kemendikdasmen Nomor 20 Tahun 2026 tentang penyelenggaraan layanan pendidikan di daerah terdampak karhutla. Pemerintah menentukan pola pembelajaran berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dan kondisi setiap sekolah.
Saat kualitas udara masih baik, sekolah dapat menjalankan pembelajaran tatap muka. Pada kategori sedang, sekolah tetap dapat menggelar pembelajaran tatap muka. Namun, sekolah perlu membatasi aktivitas siswa di luar ruangan.
Ketika ISPU masuk kategori tidak sehat, sekolah perlu membatasi kegiatan tatap muka. Kebijakan ini terutama berlaku untuk melindungi kelompok rentan.
Kelompok tersebut meliputi anak PAUD, siswa SD kelas 1–3, dan peserta didik sekolah luar biasa (SLB). Jika ISPU mencapai lebih dari 200, sekolah mengarahkan pembelajaran sepenuhnya dari rumah atau jarak jauh.
“Yang perlu kita lindungi adalah anak-anak usia rentan, anak PAUD, SD kelas 1 sampai kelas 3, dan juga sekolah luar biasa. Mereka harus dipastikan belajar secara daring atau dari rumah,” kata Gogot.
Evaluasi Pembelajaran Secara Berkala
Pemerintah daerah perlu mengevaluasi kondisi udara secara berkala. Selanjutnya, pemerintah dapat menyesuaikan pola pembelajaran berdasarkan kondisi di lapangan.
Untuk pendidikan dasar hingga SMP, pemerintah kabupaten/kota menentukan kebijakan melalui kepala dinas pendidikan. Sementara itu, pemerintah provinsi menentukan kebijakan untuk SMA, SMK, dan SLB.
Pemerintah melakukan evaluasi paling lama setiap tiga hari. Sekolah juga perlu memeriksa kondisi udara setidaknya dua kali sehari. Pemeriksaan berlangsung pada pagi hari dan saat pembelajaran berjalan.
Dalam kondisi mendesak, kepala sekolah dapat mengambil langkah perlindungan. Kepala sekolah perlu berkonsultasi dengan pihak terkait di daerah sebelum mengambil keputusan.
“Jangan sampai anak terpapar. Pastikan keselamatan anak dan pelayanan pendidikan itu sangat penting, dua-duanya,” tegas Gogot.
Dari 12.874 satuan pendidikan yang menerapkan pembelajaran dari rumah, sebanyak 9.683 sekolah berada di Kalimantan Barat. Jumlah peserta didiknya mencapai lebih dari satu juta orang.
Sekolah lainnya tersebar di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Jambi.
Cegah Learning Loss pada Siswa
Besarnya jumlah siswa yang belajar dari rumah membuat pemerintah mengantisipasi risiko learning loss. Pengalaman selama pandemi COVID-19 menunjukkan pembatasan pembelajaran tatap muka dapat mengurangi waktu dan pengalaman belajar siswa.
Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi kegiatan praktik dan proyek. Karena itu, sekolah tetap perlu mencatat kehadiran dan aktivitas belajar siswa serta guru.
Pemerintah mendorong sekolah menggunakan berbagai metode pembelajaran. Pilihannya mencakup pembelajaran daring, modul cetak yang dapat dibawa pulang, hingga program guru kunjung untuk kondisi tertentu.
Dengan cara tersebut, sekolah tetap dapat menjaga aktivitas belajar meskipun siswa tidak datang ke sekolah.
Ruang Aman untuk Sekolah Terdampak Asap
Selain mengubah pola pembelajaran, Kemendikdasmen mendorong penyediaan sekolah aman asap. Setidaknya satu sekolah di setiap kecamatan diharapkan memiliki ruang kelas yang dapat digunakan untuk belajar sekaligus berlindung.
Konsep ruang aman asap pernah diterapkan pada 2019. Kini, pemerintah kembali menyiapkannya untuk menghadapi karhutla.
Sekolah dapat melengkapi ruang tersebut dengan penyekat, tirai, kipas, exhaust fan, dan perangkat pendukung lainnya. Perlengkapan itu membantu sekolah menjaga kualitas udara di dalam ruangan.
Kemendikdasmen akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mempercepat penerapan ruang aman asap. Sekolah juga dapat menggunakan Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) sesuai ketentuan.
Jika sekolah menghadapi kendala, Kemendikdasmen akan menurunkan tim ke daerah. Tim tersebut akan membantu sekolah menerapkan fasilitas perlindungan.
Dukung Pembelajaran dari Rumah
Pemerintah juga menyiapkan dukungan konektivitas dan modul pembelajaran luring. Peserta didik dapat memanfaatkan Rumah Pendidikan sebagai portal sumber belajar.
Portal tersebut menyediakan berbagai sumber belajar untuk guru dan siswa. Layanannya mencakup jenjang PAUD hingga pendidikan menengah.
Selain itu, Kemendikdasmen menerapkan protokol perlindungan melalui prinsip 6M dan 1S. Langkah tersebut mencakup pemeriksaan kualitas udara dan pengurangan aktivitas di luar ruangan.
Sekolah juga perlu menutup ventilasi serta menggunakan penjernih udara ketika diperlukan. Warga sekolah perlu menghindari sumber asap dan menggunakan masker yang mampu menyaring partikel PM2.5.
Masyarakat juga perlu menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Jika muncul keluhan pernapasan, warga perlu segera berkonsultasi dengan fasilitas kesehatan.
Peran Orang Tua
Orang tua juga memiliki peran penting ketika anak belajar dari rumah. Mereka perlu membatasi aktivitas anak di luar ruangan.
Selain itu, orang tua perlu memastikan anak menggunakan masker saat harus keluar rumah. Jika anak mengalami gangguan pernapasan, orang tua perlu segera membawanya ke fasilitas kesehatan.
Gogot menegaskan bahwa penghentian sementara pembelajaran tatap muka bukan berarti menghentikan proses pendidikan. Sekolah tetap harus menyediakan bahan belajar dan memastikan guru menjalankan pembelajaran sesuai skema.
“Jangan sampai anak-anak tidak belajar karena kita mengalami learning loss yang luar biasa. Kita sangat hati-hati memastikan anak-anak tidak akan kehilangan waktu dan materi belajar di kondisi seperti ini,” ujarnya.
Dengan pendekatan berbasis kualitas udara dan evaluasi berkala, pemerintah berupaya menjaga keberlangsungan pendidikan. Perlindungan kelompok rentan dan penyediaan alternatif pembelajaran juga menjadi bagian dari langkah tersebut.
Pemerintah berharap sekolah terdampak asap tetap mampu menjalankan proses pendidikan dengan aman selama kondisi karhutla berlangsung.

Tinggalkan Balasan