Tim PKM Universitas Negeri Jakarta bersama mitra Kembang Mulia Racing dalam pelaksanaan program pemberdayaan bengkel berbasis 3D printing.

Media Bangsa – Jakarta Barat – Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melalui kolaborasi Fakultas Teknik (FT) dan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Kembang Mulia Racing (KMR), Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta Barat. Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas usaha bengkel melalui penerapan teknologi tepat guna dan penguatan manajemen usaha.

Program bertajuk “Pemberdayaan Bengkel Otomotif Berbasis 3D Printing Socket Aftermarket dan Transformasi Manajemen Bengkel untuk Efisiensi Biaya dan Daya Saing Usaha di Kembang Mulia Racing (KMR)”  tersebut dilaksanakan dengan dukungan hibah Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun Anggaran 2026. Program menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi dalam mendorong hilirisasi ilmu pengetahuan dan teknologi agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan dunia usaha.

Kembang Mulia Racing merupakan usaha jasa bengkel otomotif roda dua yang melayani perawatan, perbaikan, modifikasi performa, serta penanganan sistem injeksi dan kelistrikan kendaraan. Berdasarkan hasil observasi dan analisis kebutuhan, salah satu persoalan utama yang dihadapi mitra adalah tingginya kebutuhan terhadap socket dan alat khusus untuk pekerjaan servis. Sekitar 60–70 persen pekerjaan bengkel membutuhkan socket atau alat khusus, sementara dalam periode 12 bulan tercatat sebanyak 126 unit socket mengalami kerusakan atau membutuhkan penggantian, dengan pengeluaran sekitar Rp35 juta.

Kondisi tersebut menyebabkan ketergantungan terhadap produk socket aftermarket yang tersedia di pasar. Selain biaya pengadaan yang berulang, socket tertentu juga tidak selalu tersedia secara lokal sehingga waktu pengadaan dapat mencapai beberapa hari. Pada saat yang sama, sistem pembukuan dan penghitungan biaya produksi bengkel masih perlu diperkuat. Karena itu, program PkM tidak hanya diarahkan pada aspek teknologi, tetapi juga pada peningkatan kemampuan manajemen usaha melalui pembukuan, perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), pengelolaan arus kas, dan penyusunan SOP.

3D Printing Menjadi Solusi Produksi Socket Sesuai Kebutuhan Bengkel

Bagian utama dari program PKM ini adalah implementasi teknologi 3D printing untuk memproduksi socket aftermarket dan socket custom sesuai kebutuhan aktual bengkel. Teknologi tersebut dipilih karena memungkinkan pembuatan produk dengan variasi bentuk dan ukuran secara lebih fleksibel, terutama untuk komponen yang sulit diperoleh melalui produk komersial.

Implementasi dimulai dari identifikasi kebutuhan teknis yang dilakukan bersama pemilik dan mekanik KMR. Tim dan mitra mengidentifikasi jenis pekerjaan yang membutuhkan socket khusus, komponen yang sering mengalami kerusakan, serta kebutuhan alat yang belum tersedia di pasar. Tahap tersebut menjadi dasar dalam menentukan produk yang akan dikembangkan.

Selanjutnya dilakukan proses reverse engineering, yaitu menerjemahkan bentuk dan ukuran socket atau komponen referensi menjadi rancangan digital. Proses ini kemudian dilanjutkan dengan pembuatan desain menggunakan Computer-Aided Design (CAD).  Desain digital dibuat dalam skala yang sesuai dengan komponen target sehingga dapat dimodifikasi dan digunakan kembali untuk proses produksi berikutnya.

Setelah desain dinyatakan sesuai, file digital dipersiapkan untuk proses pencetakan melalui tahap slicing. Parameter pencetakan disesuaikan dengan karakteristik produk dan material yang digunakan. Teknologi yang diterapkan menggunakan metode Fused Deposition Modeling (FDM) dengan printer 3D, nozzle sekitar 0,4 mm, serta material seperti PLA+ dan PETG. Resolusi layer yang digunakan berada pada kisaran 0,1–0,3 mm dengan volume cetak sekitar 220 × 220 × 250 mm.

Tahap berikutnya adalah proses pencetakan socket menggunakan 3D printer. Produk yang dihasilkan tidak langsung digunakan, tetapi melalui proses pemeriksaan untuk memastikan kesesuaian bentuk dan dimensi. Pemeriksaan dimensi dilakukan menggunakan vernier caliper untuk memastikan ukuran hasil cetak sesuai dengan kebutuhan komponen.

Proses validasi kemudian dilanjutkan melalui uji pemasangan pada sepeda motor. Pengujian ini penting untuk memastikan bahwa produk yang dihasilkan tidak hanya memiliki bentuk geometris yang sesuai, tetapi juga dapat digunakan pada kondisi kerja aktual. Dengan demikian, alur implementasi teknologi tidak berhenti pada proses mencetak produk, tetapi mencakup rangkaian identifikasi kebutuhan → pengukuran → reverse engineering → desain CAD → slicing → pencetakan FDM → pemeriksaan dimensi → uji pemasangan.

Hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa KMR telah menghasilkan beberapa socket konektor berbasis 3D printing. Dokumentasi program menunjukkan produk telah melalui pemeriksaan dimensi dan uji pemasangan. Tiga tipe socket konektor juga tercatat sebagai hasil produksi dengan status tercapai pada tahapan validasi.

Yang menjadi nilai penting dari implementasi tersebut bukan hanya keberhasilan menghasilkan produk fisik. Kegiatan juga menghasilkan file CAD dan STL yang dapat dimodifikasi dan dicetak kembali. File digital tersebut diarahkan menjadi library desain socket aftermarket KMR, sehingga ketika socket mengalami kerusakan atau diperlukan konfigurasi yang sama, mitra tidak perlu memulai proses desain dari awal.

Dengan pendekatan tersebut, teknologi 3D printing mulai mengubah posisi KMR dari pengguna produk socket aftermarket menjadi bengkel yang memiliki kapasitas produksi alat bantu secara mandiri. Teknologi digital memungkinkan produksi dilakukan secara lebih fleksibel dan berbasis kebutuhan atau _on-demand_. Desain dapat disimpan, dimodifikasi, dan diproduksi kembali sesuai kebutuhan pekerjaan bengkel.

Implementasi teknologi juga dilakukan secara partisipatif. Pemilik dan mekanik KMR tidak hanya menjadi penerima teknologi, tetapi terlibat dalam proses identifikasi kebutuhan, pengukuran komponen, pengembangan desain, pencetakan, pemeriksaan, hingga pengujian produk. Pendekatan _Participatory Action Research (PAR)_ dan _co-creation_ digunakan agar teknologi yang diterapkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan operasional mitra.

Selain menghasilkan produk, program juga diarahkan untuk membangun kemandirian teknologi. Tim PkM menyiapkan panduan teknis, SOP produksi, SOP manajemen usaha, serta library desain untuk dapat digunakan KMR setelah program selesai. Rencana keberlanjutan mencakup standardisasi kualitas, pengembangan socket custom dan adapter, penguatan library desain digital, pencatatan biaya produksi, perhitungan HPP, serta monitoring penggunaan teknologi secara berkelanjutan.

Kolaborasi antara Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNJ menjadi bagian penting dalam pendekatan tersebut. Kompetensi teknologi dan manufaktur dipadukan dengan penguatan aspek pengelolaan usaha sehingga solusi yang diberikan tidak hanya menghasilkan produk teknologi, tetapi juga mendukung keberlanjutan pemanfaatannya dalam aktivitas bisnis mitra.

Melalui program ini, penerapan 3D printing diharapkan berkembang dari sekadar teknologi pendukung menjadi bagian dari sistem produksi bengkel yang mandiri, fleksibel, dan berkelanjutan. Pengembangan selanjutnya diarahkan pada penambahan jenis socket, pengembangan adapter khusus, standardisasi kualitas produk, penguatan manajemen biaya, serta pengembangan model penerapan teknologi yang berpotensi direplikasi pada bengkel otomotif lainnya.

Program tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dan mitra usaha dapat mendorong pemanfaatan teknologi tepat guna untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Melalui dukungan hibah PkM Kemendiktisaintek dan kolaborasi lintas fakultas di UNJ, inovasi 3D printing diarahkan tidak hanya menjadi teknologi baru bagi mitra, tetapi menjadi kapasitas produksi dan aset pengetahuan yang dapat terus dikembangkan oleh Kembang Mulia Racing.