Media Bangsa – SURABAYA, Bagi siswa berkebutuhan khusus, memahami pelajaran tidak selalu cukup hanya dengan membaca buku atau melihat gambar. Proses belajar dapat menjadi lebih konkret ketika siswa dapat melihat, mendengar, menyentuh, dan mencoba secara langsung.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Universitas Surabaya (UBAYA) bersama SLB Bakti Asih Surabaya mengembangkan media pembelajaran yang memadukan teknologi digital, benda nyata, aktivitas multisensori, keterampilan hidup, serta pendekatan psikologi.

Inovasi ini dikembangkan melalui Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat bertajuk “Inovasi Pembelajaran Inklusif: Adopsi Alat Edukasi Multi-Tuna yang Integratif pada SLB Bakti Asih Surabaya.”

Ketua tim, Dr. Rosita Meitha Surjani, S.T., M.T., mengatakan bahwa media dirancang untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih konkret.

“Kami ingin teknologi tidak hanya menarik untuk dilihat, tetapi benar-benar membantu siswa memahami materi. Karena itu, teknologi digital kami padukan dengan benda nyata dan aktivitas yang dapat dicoba secara langsung,” ujarnya.

Guru Dilibatkan Sejak Awal

Pengembangan media diawali dengan sosialisasi dan Focus Group Discussion (FGD) bersama guru SLB Bakti Asih. Guru dilibatkan untuk memetakan karakteristik siswa, kebutuhan materi, kemudahan penggunaan alat, serta aktivitas yang sesuai dengan kemampuan siswa.

“Kami tidak ingin merancang alat hanya berdasarkan asumsi tim pengembang. Guru paling memahami bagaimana siswa belajar sehari-hari sehingga masukan mereka menjadi dasar penting dalam pengembangan media,” jelas Rosita.

Dari Hewan Virtual menuju Miniatur Nyata

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Gemoni AR (Gerbang Edukasi Modern Interaktif) yang memanfaatkan augmented reality. Melalui flashcard dan QR Code, siswa dapat melihat 16 jenis hewan dalam bentuk tiga dimensi, lengkap dengan suara serta informasi tentang habitat, makanan, jumlah kaki, dan karakteristiknya.

Pembelajaran kemudian dilanjutkan menggunakan Gemoni Mine (Miniature Nature Adventure for Kids) berupa maket habitat, miniatur hewan, huruf, dan angka. Siswa dapat mencocokkan hewan dengan habitat, mengeja nama hewan, mengenali makanan, dan menghitung jumlah kaki.

“AR kami gunakan sebagai pintu masuk untuk menarik perhatian siswa. Setelah melihat objek secara digital, siswa kemudian berinteraksi dengan miniatur fisik agar pengalaman belajar menjadi lebih nyata,” terang tim.

Belajar dengan Berbagai Indera

Pendekatan multisensori juga diterapkan melalui Modul Pembelajaran IPA Interaktif tentang tubuh manusia, hewan, dan tumbuhan.

Pada materi tubuh manusia, siswa menggunakan apron interaktif dengan replika organ tiga dimensi. Materi hewan menggunakan buku multisensori, video pembelajaran, papan habitat, serta miniatur hewan. Sementara materi tumbuhan memanfaatkan buku panduan menanam dan layer puzzle untuk mengenali bagian serta tahapan pertumbuhan tumbuhan.

“Setiap siswa memiliki cara merespons pembelajaran yang berbeda. Karena itu, kami mencoba menyediakan pengalaman belajar melalui beberapa indera sekaligus,” ungkapnya.

Melatih Kemandirian Siswa

Selain materi akademik, tim UBAYA mengembangkan Activity Board SENZO untuk melatih kemampuan motorik dan kemandirian siswa. Media ini dilengkapi activity board, tool box, buku cerita interaktif, serta QR Code yang terhubung dengan video pembelajaran.

Melalui aktivitas seperti menggunakan alat perkakas sederhana dan berkebun, siswa dapat melatih koordinasi, motorik halus, serta keterampilan hidup sehari-hari. Tujuan pembelajaran tidak hanya memahami materi pelajaran, tetapi juga melatih kemampuan siswa melakukan aktivitas sehari-hari secara lebih mandiri.

Dicoba Langsung oleh Guru dan Siswa

Pada 22 Mei 2026, guru dan siswa SLB Bakti Asih mengikuti pelatihan sekaligus mencoba berbagai media yang telah dikembangkan. Guru memberikan masukan mengenai fungsi, kenyamanan penggunaan, penyajian materi, serta kesesuaian aktivitas dengan karakteristik siswa.

“Uji coba penting agar produk yang dihasilkan bukan hanya menarik secara konsep, tetapi juga nyaman dan efektif digunakan,” kata Rosita.

Masukan tersebut kemudian digunakan untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan media.

Dukungan Psikologis bagi Orang Tua

Program ini juga mencakup pendampingan keluarga. Pada 17 dan 24 Juli 2026, tim memberikan pelatihan psikologi pembelajaran inklusif kepada orang tua dengan tema “Ruang Tenang Pengasuhan: Strategi Regulasi Emosi, Teknik Pernapasan dan Relaksasi Fisik.”

Anggota tim dari bidang Psikologi, Dr. Frikson Christian Sinambela, S.Psi., M.T., Psikolog, menjelaskan bahwa dukungan keluarga berperan penting dalam proses perkembangan anak.

“Orang tua perlu dibekali strategi sederhana untuk mengelola emosi, baik emosi anak maupun respons orang tua ketika menghadapi situasi yang menantang,” jelas Frikson.

Digunakan Secara Berkelanjutan

Setelah melalui pemetaan kebutuhan, pengembangan, pelatihan, uji coba, dan penyempurnaan, berbagai media edukasi tersebut diserahkan kepada SLB Bakti Asih Surabaya pada 7 Agustus 2026.

“Harapan kami, alat-alat ini dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh guru sebagai bagian dari proses belajar siswa sehari-hari,” ujar Rosita.

Program ini didanai melalui Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) 2026 Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Program dilaksanakan oleh tim UBAYA yang melibatkan dosen Teknik Industri dan Psikologi serta mahasiswa. Tim diketuai Dr. Rosita Meitha Surjani, S.T., M.T., dengan anggota Dr. Frikson Christian Sinambela, S.Psi., M.T., Psikolog dan Argo Hadi Kusumo, S.T., M.B.A.

Melalui program ini, teknologi augmented reality dipadukan dengan benda nyata, aktivitas multisensori, keterampilan hidup, dan dukungan psikologis untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih inklusif.

“Bagi kami, inovasi bukan sekadar menghadirkan teknologi baru, tetapi bagaimana teknologi tersebut dapat diterapkan secara tepat dan memberi manfaat nyata bagi proses belajar siswa,” pungkas Rosita. (*)