Media Bangsa – SURABAYA, 20 JULI 2026 – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan optimisme bahwa kopi dan kakao akan menjadi dua komoditas strategis yang mampu memperkuat daya saing Jawa Timur di pasar global sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani melalui hilirisasi dan penguatan ekosistem agroindustri.
Hal tersebut disampaikan Khofifah saat menutup secara resmi Java Coffee & Flavor Festival (JCFF) 2026 bersama Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta di Alun-Alun Surabaya, Minggu (19/7) malam.
Penutupan JCFF ini turut dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Ibrahim, Anggota Komisi XI DPR RI Eric Hermawan, Thoriq Majiddanor, Ketua Dekranasda Jawa Timur Arumi Bachsin Emil Dardak, serta para pelaku usaha, eksportir, petani, UMKM, akademisi, dan komunitas kopi maupun kakao.
Mengusung tema “From Local Flavors to Global Horizon”, festival yang berlangsung sejak 17 – 19 Juli 2026 ini, menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat posisi komoditas perkebunan unggulan Jawa Timur di pasar nasional maupun internasional.
“JCFF bukan sekadar festival atau ajang promosi produk. Ini adalah ruang kolaborasi yang mempertemukan petani, UMKM, dunia usaha, perbankan, akademisi hingga buyer dari dalam dan luar negeri untuk bersama-sama membangun ekosistem kopi dan kakao Jawa Timur yang semakin berdaya saing,” ujar Khofifah.
Khofifah menegaskan, kekuatan Jawa Timur tidak hanya terletak pada besarnya produksi, tetapi juga pada kekayaan cita rasa yang lahir dari karakter geografis masing-masing daerah.
Maka, strategi pengembangan perkebunan saat ini tidak lagi cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi komoditas mentah. Yang jauh lebih penting adalah membangun nilai tambah melalui hilirisasi, pengolahan, branding, sertifikasi, serta perluasan akses pasar global.
“Saat ini, preferensi _lifestyle_ masyarakat global tengah bergeser ke arah produk yang berkelanjutan dan bercita rasa premium. Ini tentu jadi peluang besar bagi Jawa Timur untuk semakin memperkuat posisi sebagai salah satu sentra kopi unggulan Indonesia,” katanya.
Khofifah pun menjelaskan, Indonesia saat ini merupakan salah satu dari empat produsen kopi terbesar di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia dengan kontribusi sekitar tujuh persen terhadap produksi kopi dunia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kopi Indonesia memiliki reputasi yang semakin kuat di pasar internasional.
“Jawa Timur merupakan salah satu dari lima provinsi penghasil kopi terbesar di Indonesia. Volume produksi kita tercatat sebesar 80.895 ton yang ditopang oleh empat kabupaten yaitu Malang, Banyuwangi, Bondowoso dan Situbondo,” rincinya.
Angka tersebut juga didukung dengan fakta luas kebun kopi rakyat Jatim yang mencapai 123.720 hektare. Tersebar di berbagai sentra utama yakni Malang, Banyuwangi, Bondowoso, Jember, dan Situbondo.
Selain kopi, lanjut Khofifah, Jawa Timur juga tercatat berhasil meningkatkan produksi tanaman kakao. Melalui klasterisasi tanaman kakao di wilayah Blitar, Madiun, Trenggalek, hingga Pacitan, Khofifah menyebut bahwa akan terus mengintegrasikan diversifikasi tanaman perkebunan daerah.
“Kopi dan kakao adalah dua agrokomoditas unggulan yang siap terus ditingkatkan daya saingnya guna menjamin stabilitas pendapatan para petani,” ucap Khofifah.
Meski memiliki potensi besar, Khofifah mengingatkan bahwa tantangan pasar global juga semakin kompetitif. Oleh sebab itu, peningkatan produktivitas harus dibarengi dengan perbaikan kualitas, standardisasi produk, sertifikasi, inovasi pengolahan, hingga penguatan pemasaran berbasis digital.
Menurutnya, keberhasilan membangun daya saing kopi dan kakao tidak mungkin dilakukan oleh pemerintah sendiri. Dibutuhkan kolaborasi yang erat antara pemerintah, Bank Indonesia, pelaku usaha, akademisi, lembaga keuangan, hingga para petani.
Khofifah pun menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia, khususnya Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, yang selama ini konsisten mendorong korporatisasi petani, digitalisasi sistem pembayaran, penguatan pembiayaan, hingga membuka akses perdagangan menuju pasar ekspor melalui penyelenggaraan JCFF.
“Saya menyampaikan terima kasih kepada Bank Indonesia yang terus menjadi mitra strategis dalam memperkuat ekosistem kopi dan kakao Jawa Timur. Sinergi seperti inilah yang harus terus diperkuat agar petani memperoleh nilai tambah yang semakin besar,” katanya.
Khofifah berharap JCFF terus berkembang menjadi agenda strategis yang mampu mempercepat hilirisasi sektor perkebunan sekaligus memperluas jejaring perdagangan internasional.
“Bersama, kita jadikan JCFF 2026 sebagai momentum untuk memperkuat kolaborasi, meningkatkan daya saing kopi dan kakao Jawa Timur sekaligus memperluas akses pasar hingga ke tingkat global. Bersama-sama kita melangkah dari cita rasa lokal menuju cakrawala dunia,” tegasnya
Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan JCFF 2026 yang dinilai semakin memperkuat ekosistem kopi dan kakao nasional.
Ia menilai, tema “From Local Flavors to Global Horizon” mencerminkan tekad bersama untuk membawa komoditas unggulan Indonesia menembus pasar dunia melalui penguatan kualitas, inovasi, dan kolaborasi.
Ia juga menjelaskan bahwa secara umum produksi kopi, kakao, dan teh di Pulau Jawa pada 2024 tetap terjaga pada kisaran 220 ribu hingga 250 ribu ton, dengan Jawa Timur menjadi sentra utama produksi kopi dan kakao di Pulau Jawa.
Filianingsih berharap JCFF dapat terus berkembang menjadi katalis inovasi, hilirisasi, dan kolaborasi yang memperkuat ekosistem agroindustri hijau sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani serta UMKM.
“Semoga JCFF terus berperan dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan UMKM dan memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian Indonesia,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan