Media Bangsa – BANTUL, 3 November 2026 — Persiapan menghadapi Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Digital Marketing 2027 tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan membuat konten promosi, mengelola media sosial, atau melakukan live selling. Peserta juga perlu memahami strategi pemasaran secara menyeluruh, termasuk kemampuan membaca performa konten, mendatangkan prospek penjualan (leads), dan membangun portofolio profesional.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam kegiatan MGMP Pemasaran SMK se-Daerah Istimewa Yogyakarta yang diselenggarakan pada Selasa (3/11/2026) di Ruang Wijayakusuma, SMK Negeri 1 Bantul, DI Yogyakarta.
Mengangkat tema “Roadmap Kompetensi LKS Digital Marketing 2027: Strategi Pembimbingan, Praktik Digital Selling, Analisis Performa, dan AI Visibility”, kegiatan ini menghadirkan Ahmad Madani, praktisi pemasaran dan vokasi sekaligus juri LKS Digital Marketing tingkat nasional, bersama Agus Setiawan dari Yamaha Academy–Customer Community Satisfaction Area Direct Distribution System 3.
Dalam pemaparannya, Ahmad Madani menekankan pentingnya mengubah orientasi pembimbingan peserta. Menurutnya, kreativitas konten harus dihubungkan dengan tujuan bisnis yang dapat diukur. Peserta tidak cukup hanya menghasilkan video menarik, tetapi juga harus memahami target konsumen, menyusun komunikasi yang tepat, dan mengevaluasi apakah aktivitas pemasaran menghasilkan ketertarikan calon pembeli.
“Konten yang memperoleh banyak penayangan belum tentu menghasilkan prospek penjualan. Siswa perlu memahami bagaimana perhatian audiens dapat berkembang menjadi ketertarikan, permintaan informasi, hingga peluang transaksi yang bisa ditindaklanjuti oleh tenaga penjual,” jelas Ahmad Madani.
Kepala SMK Negeri 1 Bantul, Raharjo, S.IP., M.Pd., menyampaikan bahwa penguatan kompetensi digital marketing menjadi bagian penting dalam menyiapkan lulusan pendidikan vokasi. Menurutnya, sekolah perlu memberikan pengalaman belajar yang mendekati proses kerja industri, bukan sekadar membekali siswa dengan keterampilan mengoperasikan aplikasi.
“Kegiatan seperti ini memberikan kesempatan kepada guru untuk menyelaraskan proses pembelajaran dengan perkembangan industri. Kami berharap penguatan kompetensi tidak hanya dirasakan oleh calon peserta lomba, tetapi juga dapat diterapkan dalam pembelajaran pemasaran yang lebih luas,” ujar Raharjo.
Sementara itu, Ketua MGMP Pemasaran Provinsi DI Yogyakarta, Windu Mahmud, S.Pd., M.Eng., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi ruang penyamaan persepsi antarguru mengenai arah pembimbingan peserta LKS Digital Marketing 2027. Guru perlu memahami kompetensi yang harus dikembangkan sejak awal agar siswa tidak hanya berlatih ketika kompetisi sudah semakin dekat.
“Kami ingin guru mempunyai gambaran yang jelas mengenai kompetensi yang perlu dipersiapkan, mulai dari riset, perencanaan, pengelolaan akun, produksi konten, hingga analisis hasil. Dengan demikian, pembimbingan bisa dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan,” ungkap Windu.
Dari perspektif industri, Andri Fistulariyanto, Supervisor Yamaha Academy PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), menilai bahwa aktivitas pemasaran digital semakin membutuhkan keterampilan yang terintegrasi dengan proses penjualan. Pemasar dituntut tidak hanya mampu memperkenalkan produk, tetapi juga memahami kebutuhan pelanggan dan membangun komunikasi yang relevan.
“Penguasaan teknologi perlu diimbangi pemahaman konsumen dan kemampuan menciptakan peluang bisnis. Melalui penguatan pendidikan vokasi, kami berharap siswa semakin memahami keterkaitan antara aktivitas pemasaran digital, pelayanan pelanggan, dan proses penjualan di industri,” terangnya.
Hal senada disampaikan Agus Setiawan, Yamaha Academy–Customer Community Satisfaction Area Direct Distribution System 3. Menurutnya, pemasaran sepeda motor membutuhkan pemahaman produk, komunikasi yang tepat, dan kemampuan mendampingi calon konsumen dalam mengambil keputusan pembelian.
“Calon pembeli tidak selalu langsung mengambil keputusan setelah menonton konten. Mereka bisa membutuhkan penjelasan fitur, informasi harga, pilihan produk, atau konsultasi lanjutan. Karena itu, kemampuan menghasilkan leads harus diikuti kemampuan memahami kualitas prospek dan proses tindak lanjutnya,” jelas Agus.
Selain digital selling dan lead generation, kegiatan ini juga membahas pentingnya dokumentasi proses kerja siswa melalui portofolio profesional, termasuk pemanfaatan LinkedIn serta pengenalan AI Visibility dan Generative Engine Optimization (GEO).
Melalui kegiatan MGMP tersebut, para guru diharapkan dapat menyiapkan pola pembinaan yang lebih terarah dan relevan dengan kebutuhan industri. Penguatan ini menjadi bagian dari persiapan menuju LKS Digital Marketing 2027, dengan tetap menyesuaikan pelaksanaannya terhadap ketentuan resmi kompetisi.
Persiapan LKS tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan peserta yang berprestasi, tetapi juga calon tenaga pemasaran yang mampu membuktikan kompetensinya dalam situasi kerja nyata.

Tinggalkan Balasan