Media Bangsa – warga Desa berhasil mengubah limbah ternak menjadi sumber penghasilan baru. Mereka memanfaatkan kotoran kambing (kohe) sebagai bahan baku pupuk organik yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis. Inisiatif ini tidak hanya mengatasi masalah limbah, tetapi juga membuka peluang usaha produktif bagi masyarakat.
Melalui pelatihan dan kerja sama antar warga, masyarakat desa mulai mengumpulkan kohe kambing dari para peternak lokal. Mereka mencampur kohe tersebut dengan sekam, jerami, dan aktivator mikroorganisme (EM4), lalu memfermentasikannya selama 2 hingga 4 minggu. Proses ini menghasilkan pupuk organik siap pakai yang bisa langsung digunakan untuk pertanian atau dipasarkan ke luar desa.
Warga secara aktif memproduksi, mengemas, dan memasarkan pupuk ini. Beberapa kelompok tani dari desa tetangga mulai memesan pupuk karena terbukti meningkatkan kesuburan tanah dan hasil panen. Ibu-ibu PKK dan pemuda desa turut terlibat dalam proses produksi dan pemasaran, termasuk melalui media sosial dan pameran lokal.
Inovasi sederhana ini berdampak besar. Selain menambah penghasilan, warga juga merasa lebih berdaya dan percaya diri. “Dulu kotoran ini cuma jadi limbah. Sekarang kami bisa menjualnya dan hasilnya nyata. Ini jadi penghasilan tambahan buat keluarga,” ujar salah satu warga dengan bangga.
Program ini berhasil menciptakan ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan. Desa tidak hanya mengatasi limbah, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru berbasis potensi lokal. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa inovasi desa bisa berangkat dari hal sederhana, selama ada kemauan dan kerja sama.
Warga Desa membuktikan bahwa dari kotoran pun bisa lahir harapan. Dari limbah jadi peluang. Dari kotoran jadi cuan.

1 Komentar
Desa mana? lokasi percontohan dimana? bolehkan melihat untuk dicontoh untuk daerah lain?
Komentar ditutup.