Menu

Mode Gelap
Djauzi dan Rafa Jadi Mojang Jajaka Kota Bandung 2023 *Pemilu 2024 Momentum Bagi Rakyat Indonesia Menentukan Masa Depan Negara dan Bangsa* Ini salah satu manfaat dari pajak yang Anda bayarkan… fasilitas kesehatan kepada seluruh masyarakat Indonesia, seperti @bpjskesehatan_ri. Ditjen pen pada rapat kerja HIMKI tahun 2023 Penandatanganan nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama antara badan pengawas keuangan dan pembangunan dengan provinsi Papua Selatan Papua tengah Papua pegunungan dan Papua barat daya

Bisnis · 11 Mar 2024 10:03 WIB ·

BRIN Ungkap Kriteria Baru MABIMS untuk Penetapan Awal Bulan Hijriah


 BRIN Ungkap Kriteria Baru MABIMS untuk Penetapan Awal Bulan Hijriah Perbesar

Media Bangsa –Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan kriteria baru penetapan awal bulan Hijriah didasarkan dari kesepakatan Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) pada 2021.

Dikutip dari keterangan Humas BRIN pada Minggu (10/9/2014), kriteria hilal berubah menjadi ketinggian hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Mulai diterapkan di Indonesia mulai 2022.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Astronomi, Thomas Djamaludin, menyampaikan bahwa perubahan hilal berpengaruh terhadap penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia yang menggunakan metode hisab dan rukiyat.

Ia mengatakan bahwa rukyat (pengamatan) dan hisab (perhitungan) secara astronomi dinilai setara dalam penentuan awal bulan Hijriah. Sehingga, tidak ada dikotomi antara rukyat dan hisab.

“Metode rukyat hilal diterapkan pada 29 Hijriah untuk melaksanakan contoh Rasul (ta’abudi). Agar rukyat akurat, arahnya dibantu dengan hasil hisab. Hisab bisa digunakan untuk membuat kalender sampai waktu yang panjang di masa depan. Agar hisab merujuk juga pada contoh Rasul, maka kriterianya dibuat sesuai dengan hasil rukyat jangka panjang, berupa data visibilitas hilal atau imkan rukyat (kemungkinan bisa dirukyat),” ungkap Thomas.

Ia juga menjelaskan terkait perhitungan tersebut akan berpotensi dalam perbedaan awal puasa tahun ini, namun diprediksi kesamaan dalam satu syawal. Hal itu menjadikan awal puasa diperkirakan dimulai pada 12 Maret 2024, dan Idulfitri atau 1 Syawal 1445 Hijriah akan jatuh bersamaan pada 10 April 2024.

“Terkait perbedaan yang terjadi lebih karena perbedaan kriteria dan perbedaan otoritas yang belum bisa disatukan, tetapi Kementerian Agama (Kemenag) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terus mengupayakan adanya persamaan. Perbedaan yang ada harus kita hormati namun upaya untuk mencari titik temu harus kita teruskan,” jelas Thomas.

Kepala Sub Direktorat Hisab Rukyat dan Pembinaan Syariah Kemenag, Ismail Fahmi, mengatakan bahwa penentuan awal bulan Hijriah dengan kriteria yang baru perhitungannya lebih scientific ketimbang kriteria yang terdahulu, namun pihaknya akan melakukan evaluasi terkait penetapan awal bulan Hijriah dengan kriteria baru itu jika terdapat koreksian dalam penerapannya.

“Semoga apa yang dimusyawarahkan bisa menjadi pedoman bagi masyarakat dan juga bisa menjadi ketenangan dalam menjalankan ibadah Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah” Ungkap Ismail.

Ismail berpesan supaya masyarakat tetap bersatu dari adanya perbedaan dari penetapan awal hijriah karena itu merupakan semuah rahmat bagi umat.

“Perbedaan itu adalah rahmat, tetapi kalau berbeda saja menjadi rahmat apalagi jika kita bisa bersatu” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

ID FOOD Sampaikan Inisiatif Strategis Peningkatan Akses Petani dan UMKM Perempuan di Sektor Pangan

17 April 2024 - 10:01 WIB

Budaya Halalbihalal Bisa Membangun Komunikasi Baik Antar-Stakeholders Pangan

17 April 2024 - 09:57 WIB

Satgas Yonif 133/YS Gelar Kuali Merah Putih di Zona Merah

16 April 2024 - 09:46 WIB

Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat Redam Dampak Konflik Timur Tengah

16 April 2024 - 09:36 WIB

Dukung Program Pompanisasi, Kementan Gencarkan Listrik Masuk Sawah

15 April 2024 - 08:12 WIB

Kementan dan Provinsi Banten Kembangkan Padi Varietas Biosalin

15 April 2024 - 08:03 WIB

Trending di Bisnis