Media Bangsa – CIREBON 28 september. Sebuah panggung dapat memiliki banyak makna tergantung dari sudut mana seseorang melihatnya. Hal tersebut tergambar dalam Darurrohmah Art Show 2026 yang mempertemukan kreativitas santri, proses pendidikan, dakwah, pendidikan vokasi, hingga komunikasi dan branding lembaga pendidikan dalam sebuah pertunjukan.

Bagi KH Warso Winata, Lc., M.A., Pengasuh Pesantren Darurrohmah, panggung tersebut merupakan salah satu ruang untuk menumbuhkan kreativitas santri. Ia melihat seni bukan sebagai sesuatu yang berdiri terpisah dari pendidikan pesantren, melainkan dapat menjadi media untuk membentuk karakter dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan.

Dalam dunia yang semakin dipenuhi berbagai bentuk komunikasi visual dan digital, dakwah juga dapat hadir melalui pendekatan kreatif. Pesan-pesan mengenai akhlak, disiplin, kerja sama, keberanian, tanggung jawab dan nilai kehidupan dapat dikemas melalui seni sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat, khususnya generasi muda.

Darurrohmah Art Show sekaligus memberikan ruang bagi santri untuk menemukan bakat dan potensinya. Tidak semua santri memiliki kemampuan yang sama. Ada yang memiliki kemampuan berbicara, bernyanyi, bermain musik, berorganisasi, membuat konsep, menangani teknis, ataupun bekerja di balik layar. Sebuah pertunjukan menjadi tempat berbagai kemampuan tersebut bertemu dan saling melengkapi.

Dari perspektif berbeda, Ruspandi, S.Pd., Kepala SMK Muhammadiyah Lemahabang, melihat proses tersebut sebagai bentuk pembelajaran yang mempunyai karakter kuat pendidikan vokasi. Dalam pendidikan vokasi, peserta didik dituntut tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengerjakan dan menghasilkan sesuatu.

Sebuah pertunjukan membutuhkan perencanaan, keterampilan teknis, kreativitas, koordinasi, kemampuan bekerja dalam tim, dan penyelesaian masalah. Semua kompetensi tersebut merupakan bagian dari soft skills maupun hard skills yang dibutuhkan oleh generasi muda ketika kelak memasuki dunia profesional.

Sementara itu, Ahmad Madani, praktisi pemasaran dan pendidikan vokasi, melihat Darurrohmah Art Show sebagai proses membangun reputasi pesantren secara organik. Menurutnya, branding tidak semata-mata dibangun melalui komunikasi yang dibuat oleh lembaga, tetapi juga melalui pengalaman nyata yang diterima masyarakat.

Malam ketika masyarakat hadir menyaksikan Darurrohmah Art Show, mereka tidak hanya menonton sebuah pertunjukan. Mereka sedang melihat bagaimana santri dididik, bagaimana pesantren memberikan ruang kreativitas, bagaimana para santri berinteraksi dan bekerja sama, serta bagaimana sebuah institusi pendidikan memberikan kesempatan kepada peserta didiknya untuk menunjukkan karya.

Pengalaman tersebut kemudian membentuk persepsi. Persepsi yang terus dibangun melalui pengalaman positif akan berkembang menjadi reputasi, sedangkan reputasi yang baik pada akhirnya akan menghasilkan kepercayaan.

Menurut Madani, inilah alasan sebuah lembaga pendidikan perlu mendokumentasikan dan menceritakan proses yang terjadi di dalamnya. Sebuah acara seharusnya tidak berhenti ketika panggung dibongkar. Dokumentasi, cerita para santri, pengalaman guru, proses latihan, dan berbagai cerita di balik sebuah kegiatan dapat terus hidup melalui media digital.

Darurrohmah Art Show 2026 akhirnya memperlihatkan bahwa seni, pendidikan, dakwah dan branding tidak selalu harus ditempatkan dalam ruang yang terpisah. Semuanya dapat saling bertemu ketika sebuah lembaga pendidikan memberikan ruang yang cukup kepada peserta didiknya untuk belajar, bereksperimen, berkarya, dan menunjukkan hasilnya kepada masyarakat.

Panggung Darurrohmah Art Show mungkin hanya berdiri selama beberapa waktu. Namun pengalaman para santri, cerita yang dihasilkan, dan persepsi masyarakat yang terbentuk dapat hidup jauh lebih lama daripada panggung tersebut.