Media Bangsa – LEBAK, 26 September 2026 – Tim Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menerapkan teknologi pengeringan untuk meningkatkan mutu gula aren cetak yang diproduksi masyarakat di Kampung Kadu Ketug, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kompetensi petani sekaligus meningkatkan daya saing produk gula aren lokal. Kegiatan bertajuk “Penguatan Kompetensi melalui Optimalisasi Pengolahan Gula Organik Aren Cetak untuk Mendukung Ketahanan Ekonomi Masyarakat di Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak, Banten” dilaksanakan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026. Program ini didukung pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Tim pelaksana diketuai Dr. Imam Mahir, M.Pd., dengan anggota Akhmad Saufan, MT, Ph.D dan Imam Arif Rahardjo, MT dari Universitas Negeri Jakarta.

Mitra kegiatan adalah Kelompok Petani Aren Kanekes Sejahtera yang beranggotakan 11 orang. Kelompok ini memanfaatkan potensi pohon aren yang tumbuh di wilayah Kanekes sebagai sumber bahan baku gula aren cetak. Potensi tersebut cukup besar dimana gula cetak dapat diolah menjadi gula serbu (gula semut). Hasil observasi tim menunjukkan pohon aren tumbuh tersebar di wilayah setempat dengan populasi diperkirakan mencapai 3.000–5.000 pohon. Bagi sebagian masyarakat, pengolahan nira menjadi gula aren merupakan kegiatan ekonomi yang telah dilakukan secara turun-temurun.

Namun, besarnya potensi bahan baku belum sepenuhnya didukung teknologi produksi yang memadai. Proses produksi masih didominasi metode tradisional, terutama pada tahap pengeringan gula setelah pencetakan. Pengeringan yang mengandalkan udara terbuka dan panas matahari membuat kualitas produk sangat bergantung pada kondisi cuaca. Sebelum program dilaksanakan, proses pengeringan membutuhkan waktu sekitar 2–3 hari, sementara kadar air gula dapat berada di atas 15 persen. Kondisi tersebut membuat gula lebih mudah lembek, menyerap kelembapan, dan berisiko mengalami penurunan mutu selama penyimpanan. Masa simpan produk sebelumnya juga relatif pendek, sekitar 1–2 minggu.

Untuk menjawab persoalan tersebut, tim menerapkan teknologi Oven Pengering Gas. Teknologi ini menggunakan material stainless steel, memiliki kapasitas 16 loyang, dilengkapi sistem pengontrol suhu digital, burner berbahan bakar LPG, serta sirkulasi udara untuk membantu pemerataan panas. Proses pengeringan dilakukan pada kisaran suhu 70–80 derajat Celsius. Dengan teknologi ini, waktu pengeringan yang sebelumnya membutuhkan beberapa hari dapat dipersingkat menjadi sekitar 4–6 jam tanpa bergantung pada panas matahari. Penerapan teknologi ini dapat menghasilkan kadar air gula aren sampai 2 persen. Kadar air yang lebih rendah dapat membantu memperpanjang masa simpannya dan bernilai tinggi sesuai standar ekspor.

Ketua tim pelaksana, Dr. Imam Mahir, M.Pd. dari Program Studi Pendidikan Teknik Mesin Universitas Negeri Jakarta, menjelaskan bahwa penerapan teknologi diarahkan pada percepatan proses produksi dan intervensi teknologi untuk membantu petani menjaga konsistensi mutu, meningkatkan higienitas produk, serta memungkinkan produksi tetap berlangsung ketika kondisi cuaca tidak mendukung pengeringan secara konvensional. Program ini meliputi hibah penyerahan peralatan, memberikan penguatan kompetensi kepada mitra dalam aspek produksi dan pengelolaan usaha. Dari sisi manajemen usaha, kelompok mitra mulai diarahkan menggunakan pembukuan. Jangkauan pemasaran yang sebelumnya didominasi pasar lokal dikembangkan menuju pasar regional serta pemasaran digital. Melalui integrasi antara teknologi pengeringan, peningkatan keterampilan produksi, pengemasan, serta penguatan manajemen usaha, gula aren Kanekes mempunyai peluang lebih besar untuk dipasarkan sebagai produk bernilai tambah. Salah seorang petani gula aren bernama Jaya mengungkapkan bahwa selama ini proses produksi mengalami kesulitan dikarenakan prosesnya membutuhkan waktu 2 atau 3 hari, dan dengan adanya teknologi ini menjadi lebih lancar dan mendapatkan dukungan teknologi tepat guna. Terima kasih juga disampaikan kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi atas dukungan terhadap kegiatan penerapan teknologi tepat guna yang mampu memperkuat kapasitas usaha serta mendukung ketahanan ekonomi masyarakat penghasil gula aren di Kabupaten Lebak.