Media Bangsa – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan pentingnya pembangunan kesehatan secara komprehensif pada setiap siklus hidup manusia, mulai dari masa kehamilan hingga dewasa, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas modal manusia Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Staf Ahli Bidang Hukum Kesehatan Kemenkes, Indah Febrianti, dalam peluncuran Indeks Modal Manusia (IMM) 2025 dan Pedoman Penghitungan IMM 2025 bersama Kementerian PPN/Bappenas di Jakarta, Senin (31/8/2026).

Indah mengatakan, Kemenkes mengapresiasi peluncuran IMM 2025. Menurutnya, dimensi kesehatan memegang peran penting dalam meningkatkan kualitas modal manusia karena investasi kesehatan sejak dini akan berpengaruh terhadap produktivitas manusia.

“Dari arah pembangunan kesehatan pun kalau kami memang melihat tidak hanya kita fokus kepada penurunan stunting, tetapi memang lebih komprehensif berkenaan dengan penyelenggaraan upaya kesehatan di setiap siklus hidup,” ujar Indah.

Menurutnya, intervensi kesehatan perlu dimulai sejak manusia berada dalam kandungan dengan memastikan kesehatan ibu hamil. Upaya tersebut kemudian dilanjutkan melalui pelayanan kesehatan bagi bayi baru lahir, anak, remaja hingga dewasa.

Salah satu fokus utama pembangunan kesehatan adalah menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta memastikan bayi lahir, tumbuh, dan berkembang secara sehat. Upaya tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam membangun kualitas manusia sejak tahap awal kehidupan.

Dalam penanganan stunting, Indah menekankan perlunya pendekatan multidimensi. Upaya percepatan penurunan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi membutuhkan konvergensi program dengan memperhatikan faktor lingkungan dan kondisi kemiskinan di masing-masing daerah.

“Seluruh instansi pemerintah pusat dan daerah wajib menyelaraskan program guna mempercepat penurunan stunting,” ungkapnya.

Selain stunting, Kemenkes juga menaruh perhatian pada pencegahan penyakit dan penguatan imunisasi. Salah satu program dalam Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang dinilai penting adalah Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Indah mengatakan, CKG menjadi instrumen penting dalam memperkuat pencegahan dan deteksi dini penyakit. Hal ini penting karena sebagian kasus kematian di Indonesia berkaitan dengan kondisi yang sebenarnya dapat dicegah melalui intervensi kesehatan sejak awal.

“Dengan PHTC, program hasil terbaik cepat yang salah satunya berkaitan dengan cek kesehatan gratis ini menjadi salah satu langkah yang sangat penting untuk dilakukan dalam rangka pencegahan dan deteksi dini,” jelasnya.

Saat ini, pelaksanaan CKG telah diperluas melalui CKG Ulang Tahun, CKG Sekolah, dan CKG Khusus. Pemeriksaan tersebut diharapkan membantu masyarakat mengenali faktor risiko serta mendeteksi lebih awal berbagai penyakit, termasuk anemia, gangguan kesehatan jiwa, obesitas, hipertensi, dan masalah gula darah.

Indah menambahkan, Kemenkes berkomitmen mendukung penghitungan dan pemanfaatan IMM secara berkelanjutan. Salah satu aspek yang perlu diperkuat adalah ketersediaan data yang berkualitas, akurat, dan terintegrasi.

Menurutnya, penguatan integrasi data diperlukan agar penghitungan IMM dapat dilakukan secara tepat dan berkelanjutan sehingga mampu mendukung perumusan kebijakan pembangunan manusia berbasis bukti.

“IMM ini bisa menjadi alat untuk menentukan prioritas dan kemudian juga tentu bisa mengarahkan investasi, memperkuat kolaborasi dan mengukur keberhasilan pembangunan manusia,” pungkas Indah.

Kemenkes berharap IMM dapat menjadi pendekatan bersama lintas sektor, termasuk kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah, untuk menentukan program prioritas serta memperkuat sinergi pusat dan daerah. Dengan demikian, pembangunan manusia dapat diarahkan agar setiap anak Indonesia mampu mencapai potensi produktivitas terbaiknya.
Sumber