Media Bangsa – Malang, 5 Juli 2026 — Sekelompok mahasiswa semester 6 Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang yang tergabung dalam praktikum Public Relations 3 dengan fokus brand activation sukses menggelar rangkaian kampanye bertajuk Festival Srawung Kusumo 2026. Kampanye ini digagas sebagai upaya memperkenalkan Desa Wisata Poncokusumo kepada khalayak yang lebih luas, khususnya masyarakat di luar wilayah tersebut, dengan mengangkat kekayaan budaya, adat istiadat, serta potensi alam yang masih terjaga di desa tersebut.

Nama “Srawung Kusumo” diambil dari kata srawung dalam bahasa Jawa yang berarti bersosialisasi atau berbaur, dipadukan dengan “Kusumo” yang merujuk pada Poncokusumo. Filosofi ini merepresentasikan semangat kampanye untuk mempertemukan masyarakat urban dengan nilai-nilai kearifan lokal yang selama ini mulai jarang dijumpai di tengah kehidupan perkotaan.

Permainan Tradisional Gratis di Empat Titik Strategis

Sebagai bentuk aktivasi merek, tim penyelenggara menghadirkan permainan tradisional secara gratis kepada masyarakat, meliputi dengklik payung, dakon, lompat tali, bangkiak, dan tulupan. Kelima permainan ini digelar secara berpindah di empat lokasi strategis di Kota Malang, yaitu Alun-Alun Kota Malang, Taman Merjosari, kawasan Rampal, dan berakhir di area Car Free Day (CFD) Kota Malang.

Rangkaian kampanye ini mendapat sambutan yang sangat antusias dari masyarakat. Pengunjung yang datang tidak didominasi oleh satu kalangan usia saja, melainkan mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa turut memeriahkan setiap titik lokasi. Banyak pengunjung dari kalangan dewasa mengaku bahwa kegiatan ini berhasil membangkitkan kembali kenangan masa kecil mereka yang dulu akrab dengan permainan-permainan tersebut. Menariknya, tidak sedikit pula anak-anak dan remaja yang justru baru pertama kali mengenal dan memainkan beberapa jenis permainan tradisional ini, sehingga kampanye ini turut berperan sebagai media edukasi budaya lintas generasi.

Puncak Kegiatan di Car Free Day, Hadirkan Tester Teh Ashitaba

Pada titik terakhir di area Car Free Day, selain permainan tradisional, tim penyelenggara juga membagikan tester minuman teh ashitaba secara cuma-cuma kepada pengunjung. Teh ashitaba merupakan olahan khas yang diproduksi langsung oleh masyarakat Desa Wisata Poncokusumo, sekaligus menjadi salah satu produk unggulan yang ingin diperkenalkan kepada masyarakat luas melalui kampanye ini.

Salah satu momen berkesan datang dari rombongan reuni asal Surabaya yang kebetulan tengah berkunjung ke Kota Malang saat kegiatan berlangsung. Salah satu anggotanya menyampaikan kesannya kepada tim penyelenggara:

“Kebetulan sekali saya sedang berkunjung ke Malang mbak/mas, jadi saya bisa mencoba permainan tradisional, berasa nostalgia masa kecil,” ujarnya.

Testimoni tersebut mencerminkan keberhasilan kampanye dalam menghadirkan pengalaman emosional yang dekat dengan masyarakat, sekaligus membuka peluang bagi Desa Wisata Poncokusumo untuk dikenal lebih luas, bahkan oleh wisatawan dari luar Kota Malang.

Upaya Melestarikan Budaya Sekaligus Mendukung Pariwisata Desa

Ketua pelaksana kegiatan menyampaikan bahwa Festival Srawung Kusumo 2026 merupakan bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam mendukung promosi pariwisata berbasis komunitas, sekaligus melestarikan permainan tradisional yang mulai tergerus zaman.

Kami ingin masyarakat, khususnya generasi muda, tidak hanya mengenal permainan digital, tetapi juga tetap dekat dengan permainan tradisional yang penuh nilai kebersamaan. Selain itu, kami berharap kegiatan ini bisa membuka mata masyarakat luas bahwa Poncokusumo memiliki potensi budaya dan alam yang layak untuk dikunjungi,” ujar ketua pelaksana kegiatan.

Dengan berakhirnya rangkaian kegiatan di Car Free Day, tim penyelenggara berharap Festival Srawung Kusumo 2026 dapat menjadi pemantik ketertarikan masyarakat untuk berkunjung langsung ke Desa Wisata Poncokusumo, guna merasakan sendiri kekayaan budaya, keramahan warga, serta keindahan alam yang ditawarkan.