Media Bangsa – Desa Adipuro, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang merupakan desa agraris yang berada di lereng Gunung Sumbing dengan kondisi tanah vulkanik subur, sumber air melimpah, dan iklim pegunungan yang mendukung produktivitas pertanian. Komoditas utama pertanian dan perkebunan menjadi penopang utama perekonomian masyarakat. Tingginya aktivitas pertanian menghasilkan limbah organik berupa jerami, batang tanaman, daun kering, dan sisa panen. Di sisi lain, rumah tangga juga menghasilkan sampah organik dapur dalam jumlah yang cukup besar. Meskipun kedua jenis limbah tersebut berpotensi diolah menjadi kompos, pengelolaannya masih didominasi cara konvensional seperti dibakar atau dibuang tanpa proses pemilahan sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dan menghilangkan nilai ekonomi limbah organik.

Tim Departemen Geografi Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang didukung pendanaan DPA UNNES sukses menyelenggarakan pelatihan bertema “Penguatan Manajemen Pengelolaan Sampah Hasil Sisa Pertanian Berbasis Teknologi Komposter” di Desa Adipuro, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang pada 24 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi wujud nyata kontribusi akademik dalam menjawab persoalan pengelolaan limbah organik di kawasan agraris.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber dan pendamping yang membawa perspektif keilmuan dan praktik yang mendukung keberlangsungan kegiatan. M. Fikri Amrullah, S.Pd., M.Pd. membuka kegiatan dengan memaparkan urgensi pengabdian ini bagi manfaat ekonomi dan konservasi lingkungan masyarakat. “Pengabdian ini tidak hanya berfokus pada pelatihan pengelolaan sampah organik, tetapi juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 12 tentang konsumsi dan produksi berkelanjutan, serta SDG 13 tentang aksi iklim dan SDG 11 tentang permukiman berkelanjutan,” ujar Prof. Dr. Tjaturahono Budi Sanjoto, M.Si. Menurutnya, pelibatan kelompok Ibu PKK juga berkontribusi pada pencapaian SDG 5 tentang kesetaraan gender   melalui pemberdayaan perempuan, SDG 4 tentang pendidikan berkualitas melalui peningkatan kapasitas masyarakat, serta SDG 1 tentang tanpa kemiskinan melalui pemanfaatan kompos yang memberikan nilai tambah ekonomi dari pemanfaatan kompos berbasis limbah pertanian dan sampah rumah tangga.

Memasuki sesi inti, peserta mendapatkan materi “Penguatan Manajemen Pengelolaan Sampah Hasil Sisa Pertanian Berbasis Teknologi Komposter” yang disampaikan oleh Pradika Adi Wijayanto, S.Pd, M.Pd. Dalam pemaparannya, menegaskan bahwa sampah organik tidak seharusnya dipandang sebagai limbah semata, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan baik.”Sampah akan menjadi masalah ketika tidak dikelola secara tepat. Namun, jika diolah dengan benar, sampah organik dapat diubah menjadi kompos yang bermanfaat bagi lahan pertanian sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan,”. Beliau menjelaskan prinsip dasar pengelolaan sampah yang efektif melalui tahapan pilah, kumpulkan, olah, dan manfaatkan. Peserta juga dibekali pengetahuan mengenai manfaat kompos, teknologi komposter, serta alat dan bahan yang diperlukan agar proses pengomposan dapat diterapkan secara mudah di tingkat rumah tangga maupun kelompok tani.

Kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan kompos yang dipandu oleh Pradika Adi Wijayanto, S.Pd, M.Pd praktik pembuatan kompos bersama Nabila Nurul Hawa, S.Pd., M.Pd., Ph.D., Eni Rahmawati S.Pd, M.Pd, Wafda Nailal Izza, Rafa Faiq Fauzi, dan Nisrina Husnul Khotimah. Perpaduan pemaparan materi dan praktik lapangan ini menegaskan bahwa sampah organik, baik yang berasal dari sisa pertanian seperti jerami, batang tanaman, dan daun kering, maupun sampah dapur rumah tangga, bukan semata persoalan lingkungan melainkan sumber daya bernilai ekonomi apabila dikelola melalui tahapan pilah, kumpulkan, olah, dan manfaatkan. Peserta pelatihan, yang terdiri atas petani dan ibu rumah tangga.

Sesi praktik peserta mempraktikkan secara langsung seluruh tahapan pembuatan kompos, mulai dari menyiapkan bahan organik, menyusun bahan ke dalam komposter, hingga teknik perawatan untuk menghasilkan kompos yang berkualitas. Suasana pelatihan berlangsung interaktif dan antusias. Para peserta tidak hanya menyimak penjelasan, tetapi juga aktif bertanya, berdiskusi, dan mencoba langsung setiap tahapan pembuatan kompos. Antusiasme tersebut terlihat dari tingginya partisipasi selama praktik serta berbagai tanggapan positif yang disampaikan peserta terhadap materi maupun pendampingan yang diberikan tim pengabdian. Sebagai bentuk dukungan keberlanjutan program, tim pengabdian turut menyerahkan alat komposter kepada warga Desa Adipuro agar dimanfaatkan secara mandiri dalam mengelola sampah organik rumah tangga dan sisa pertanian pascapelatihan. Melalui kegiatan ini, tim pengabdian berharap teknologi komposter dapat menjadi solusi sederhana yang mudah diterapkan masyarakat dalam mengelola sampah organik rumah tangga dan sisa pertanian. Selain menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat, pemanfaatan kompos juga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus membuka peluang nilai tambah ekonomi bagi masyarakat Desa Adipuro.

 Tim Departemen Geografi UNNES berharap teknologi komposter dapat menjadi solusi sederhana yang mudah diterapkan masyarakat Desa Adipuro dalam mengelola sampah organik secara berkelanjutan. Sinergi antara pendidikan, riset, dan pengabdian ini diharapkan terus berkembang dan membentuk kerja sama yang lebih erat dalam pengembangan program pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan baik di Desa Adipuro maupun di wilayah agraris lainnya di Indonesia.