Media Bangsa – SURABAYA, 30 Mei 2026 – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyambut bangga masuknya pecel khas Jawa Timur dalam daftar “100 Salad Terbaik di Dunia” versi TasteAtlas tahun 2026. Dalam daftar yang dirilis per 15 April 2026 itu, pecel berhasil menempati peringkat ke-7 dunia, bahkan mengungguli som tam asal Tailand yang selama ini dikenal sebagai salah satu salad paling populer di Asia.

Dilansir Good News From Indonesia, capaian tersebut menjadi bukti bahwa kuliner tradisional Indonesia semakin mendapat tempat di panggung internasional. Tidak hanya pecel, sejumlah hidangan Nusantara lain juga masuk daftar bergengsi tersebut, di antaranya ketoprak di posisi ke-18, gado-gado di urutan ke-30, hingga rujak cingur, asinan, dan karedok.

Gubernur Khofifah mengatakan, pengakuan dunia terhadap pecel bukan sekadar soal rasa, melainkan juga pengakuan atas kekayaan budaya, tradisi, dan filosofi hidup masyarakat Jawa Timur yang tercermin dalam setiap sajian. Menurutnya, pecel adalah simbol kesederhanaan yang sarat makna, namun mampu menghadirkan cita rasa yang begitu kuat dan berkelas dunia.

“Pecel bukan hanya makanan tradisional, tetapi identitas budaya masyarakat Jawa Timur. Dari sepincuk pecel, dunia bisa melihat bagaimana masyarakat Jawa hidup berdampingan dengan alam, memanfaatkan bahan-bahan lokal yang sehat, sederhana, namun kaya rasa,” ujar Gubernur Khofifah.

Ia menambahkan, keberhasilan pecel masuk jajaran salad terbaik dunia menjadi momentum penting untuk memperkuat promosi kuliner Nusantara, khususnya kuliner khas Jawa Timur, ke pasar internasional. Terlebih, Jawa Timur memiliki begitu banyak ragam pecel dengan karakter rasa dan keunikan masing-masing di berbagai daerah.

“Setiap daerah di Jawa Timur punya pecel dengan ciri khas tersendiri. Ini menunjukkan betapa kayanya warisan kuliner kita. Ada pecel yang gurih, pedas, manis, hingga berpadu dengan kuah khas daerah. Semua memiliki cerita budaya yang luar biasa,” katanya.

Di antara yang paling populer adalah Pecel Madiun dengan sambal kacang kental beraroma daun jeruk purut dan penyajian khas pincuk daun pisang lengkap dengan peyek kacang. Ada pula Pecel Tumpang Kediri yang memadukan sambal tumpang berbahan tempe fermentasi dengan santan dan rempah-rempah, menciptakan rasa gurih yang khas.

Sementara di Surabaya, masyarakat mengenal Pecel Semanggi dengan daun semanggi sebagai bahan utama dan siraman bumbu kacang bercampur petis yang menghadirkan perpaduan rasa manis dan gurih. Tulungagung memiliki Pecel Punten yang dipadukan dengan punten berbahan beras dan santan, sedangkan Banyuwangi terkenal dengan Pecel Rawon dan Pecel Pitik khas Suku Osing yang unik dan kaya rempah.

Gubernur Khofifah menilai, keberagaman jenis pecel tersebut menjadi kekuatan besar Jawa Timur dalam memperkenalkan kuliner lokal kepada wisatawan domestik maupun mancanegara. Ia juga berharap capaian ini dapat mendorong generasi muda untuk semakin bangga terhadap makanan tradisional Indonesia.

“Jangan sampai generasi muda justru lebih mengenal makanan luar dibandingkan kuliner daerahnya sendiri. Pecel adalah warisan budaya yang harus terus dilestarikan, dipromosikan, dan diwariskan lintas generasi,” tegasnya.

Nasi pecel sendiri merupakan salah satu kuliner tradisional khas Jawa Timur yang telah lama menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia. Hidangan ini terdiri dari nasi putih, aneka sayuran rebus seperti kacang panjang, tauge, daun singkong, dan bayam, yang kemudian disiram sambal kacang berbumbu cabai, gula merah, kencur, serta daun jeruk.

Selain lezat, nasi pecel juga dikenal sebagai makanan sehat dan bergizi karena kaya serat dan vitamin. Penyajiannya yang kerap menggunakan daun pisang pun mencerminkan filosofi masyarakat Jawa yang dekat dengan alam dan menjunjung nilai ramah lingkungan.

Bagi masyarakat Jawa Timur, pecel bukan sekadar makanan sehari-hari. Lebih dari itu, pecel adalah bagian dari identitas budaya, simbol kesederhanaan, sekaligus representasi kekayaan rasa Nusantara yang kini semakin mendapat pengakuan dunia.