Media Bangsa – Pamekasan, 21 Juli 2025 — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Madura (UIM) Posko 06 menghadirkan inovasi pertanian berbasis teknologi ramah lingkungan melalui Workshop Pertanian Cerdas yang berlangsung di Balai Desa Samiran, Kecamatan Proppo, Pamekasan, Senin (21/7/2025). Acara ini dipandu langsung oleh Syaroful Anam, mahasiswa KKN UIM Posko 06, dan membahas tiga materi utama: pemanfaatan limbah dapur menjadi Pupuk Organik Cair (POC), pembuatan Photosyntetic Bacteria (PSB), serta pembibitan konvensional.

Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB ini dihadiri oleh puluhan warga, di antaranya Ibu-ibu PKK yang diketuai langsung oleh Ibu Kepala Desa, masyarakat umum, dan anggota kelompok tani. Kehadiran mereka menunjukkan tingginya minat terhadap pengetahuan baru di bidang pertanian, khususnya yang bisa diaplikasikan dengan mudah dan biaya rendah.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Samiran mengapresiasi langkah mahasiswa KKN UIM Posko 06 yang berhasil mengemas materi teknis pertanian menjadi mudah dipahami masyarakat. “Ilmu seperti ini sangat bermanfaat. Kita bisa memanfaatkan bahan-bahan di sekitar rumah untuk meningkatkan hasil pertanian, mengurangi biaya, bahkan mengurangi sampah rumah tangga,” ungkapnya.

Syaroful Anam dalam pemaparannya menjelaskan bahwa Hybrid Farming adalah metode yang menggabungkan teknik pertanian modern dan kearifan lokal untuk menciptakan sistem yang produktif, efisien, dan berkelanjutan. “POC dari limbah dapur adalah solusi praktis dan murah untuk meningkatkan kesuburan tanah. PSB berfungsi membantu proses fotosintesis tanaman dan memperbaiki kualitas tanah. Sementara pembibitan konvensional tetap relevan karena bibit yang dipilih secara manual lebih adaptif terhadap kondisi lokal,” jelasnya.

Sesi pertama membahas pembuatan POC. Anam menjelaskan bahwa bahan-bahan seperti sisa sayuran, kulit buah, dan limbah dapur lainnya dapat difermentasi menggunakan larutan gula merah atau molase sebagai aktivator. Proses ini memerlukan waktu fermentasi sekitar 7–14 hari, tergantung suhu dan kelembapan. Peserta terlihat antusias mencatat resep dan langkah pembuatannya. Beberapa bahkan langsung bertanya tentang takaran yang tepat agar pupuk cair yang dihasilkan memiliki kandungan nutrisi optimal.

Memasuki sesi kedua, Anam memperkenalkan pembuatan PSB. Mikroba ini, kata Anam, berperan penting dalam membantu tanaman memaksimalkan proses fotosintesis. Ia mempraktikkan cara membuat larutan PSB menggunakan bahan lokal seperti air kolam, susu, dan molase, yang kemudian difermentasi selama beberapa hari. “PSB ini bisa diaplikasikan pada semua jenis tanaman, mulai dari padi, jagung, hingga sayuran, untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan terhadap penyakit,” ujarnya.

Sesi terakhir adalah pembibitan konvensional. Peserta diperlihatkan cara memilih benih berkualitas dengan metode perendaman, di mana benih yang tenggelam umumnya memiliki kualitas terbaik. Benih kemudian direndam dalam larutan organik untuk memperkuat daya tumbuh, sebelum dipindahkan ke lahan atau polybag. Anam menekankan pentingnya teknik pemindahan bibit agar akar tidak rusak dan tanaman tidak mengalami stres.

Sepanjang kegiatan, suasana berjalan interaktif. Anggota PKK bertanya bagaimana mengaplikasikan POC pada tanaman hias dan sayuran di pekarangan rumah. Anggota kelompok tani menanyakan cara mengombinasikan PSB dengan pupuk organik padat. Bahkan ada diskusi tentang cara mengurangi hama tanpa menggunakan pestisida kimia. Anam menjawab seluruh pertanyaan dengan rinci, disertai demonstrasi langsung di lahan percontohan di samping balai desa.

Husen, seorang petani jagung, mengaku sangat terbantu dengan pelatihan ini. “Selama ini limbah dapur di rumah hanya dibuang. Ternyata bisa diubah menjadi pupuk cair yang sangat berguna. Ditambah PSB, hasil tanaman pasti lebih bagus,” katanya. Sementara itu, Ibu Siti, anggota PKK, berencana mempraktikkan pembuatan POC bersama kelompoknya dan membagikannya kepada warga yang belum sempat hadir.

Workshop ditutup dengan penyerahan paket bibit, larutan starter POC, dan PSB kepada perwakilan kelompok tani dan PKK. Kepala Desa berharap agar pengetahuan ini diterapkan secara konsisten dan disebarluaskan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh warga desa.

Program ini menjadi bukti bahwa mahasiswa KKN UIM Posko 06 tidak hanya berperan sebagai pelaku pengabdian masyarakat, tetapi juga sebagai agen perubahan yang menjembatani inovasi teknologi dan kearifan lokal. Dengan penerapan Hybrid Farming, Desa Samiran diharapkan mampu menjadi model pertanian berkelanjutan yang meningkatkan produktivitas, menjaga kelestarian lingkungan, dan memperkuat ketahanan pangan masyarakat.

Penulis : HANAFI

Sekretaris KKN UIM Posko 06