Media Bangsa – masyarakat semakin sadar akan pentingnya pola hidup sehat, sehingga mereka terus meningkatkan permintaan terhadap daging ayam kampung. Kondisi ini membuka peluang besar bagi warga untuk menjalankan usaha ternak ayam kampung dari rumah, bahkan dengan modal dan lahan terbatas.
Banyak pelaku usaha membangun kandang sederhana dari bambu dan kawat di halaman atau pekarangan mereka. Meski hanya memelihara dalam jumlah kecil, mereka tetap berhasil meraih keuntungan yang menjanjikan.
“Saya mulai dengan 50 ekor ayam. Saya hanya butuh modal sekitar Rp3 juta untuk kandang dan bibit awal. Setelah tiga bulan, saya bisa panen dan meraih omzet sekitar Rp6 juta,” kata Rudi Hartono, peternak rumahan di Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Para pembeli biasanya mencari ayam kampung karena mereka menyukai rasanya yang gurih dan percaya bahwa ayam kampung lebih sehat karena bebas dari antibiotik. Para penjual memasarkan ayam ini dengan harga Rp50.000 hingga Rp75.000 per ekor di pasar tradisional, tergantung bobot dan wilayah.
Selain menjual daging, para peternak juga membudidayakan ayam betina untuk menghasilkan telur kampung. Banyak konsumen mencari telur ini untuk konsumsi harian karena kandungan gizinya.
Pakar peternakan dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Bambang Subekti, juga mendorong masyarakat agar memulai budidaya ayam kampung dari rumah.
“Masyarakat bisa memberi pakan alternatif seperti dedak, bekatul, atau sisa dapur. Karena ayam kampung tahan penyakit, mereka bisa memeliharanya dengan mudah di lingkungan rumah,” ujarnya.
Warga perkotaan kini ikut menjalankan usaha ini. Mereka memanfaatkan media sosial untuk menjual ayam hidup, ayam potong, hingga olahan seperti ayam ungkep dan sate ke komunitas sekitar.
Pemerintah daerah pun aktif meluncurkan program ternak mandiri. Mereka mengadakan pelatihan budidaya dan membagikan bibit ayam kampung kepada masyarakat agar mereka bisa meningkatkan pendapatan dari rumah.
Dengan menjalankan usaha ayam kampung dari rumah, masyarakat tidak hanya meningkatkan pendapatan keluarga, tetapi juga ikut memperkuat ketahanan pangan nasional. Karena itu, peluang usaha ini patut dipertimbangkan di tahun 2025.
