Media Bangsa – Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Inggris memperkuat kolaborasi strategis sektor pertanian ramah lingkungan. Petani Desa Sibonor Ompu Ratus Kecamatan Nainggolan Kabupaten Samosir kini memperoleh fasilitas pengairan modern. Saat ini, pengoperasian Pompa Air Tenaga Surya di Samosir menjadi wujud nyata pemanfaatan energi terbarukan di tingkat tapak. Langkah ini mendukung penuh agenda pembangunan nasional yang berorientasi rendah karbon.
Peluncuran teknologi ramah lingkungan ini berlangsung resmi pada Sabtu (3/10/2026). Kementerian PPN/Bappenas menggandeng Pemprov Sumatra Utara, Pemkab Samosir, serta Pemerintah Inggris melalui UK FCDO. Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Bappenas, Leonardo A.A. Teguh Sambodo, menegaskan urgensi proyek tersebut. “Pembangunan rendah karbon menjadi nyata ketika manfaatnya sampai ke tingkat tapak dan dirasakan langsung oleh masyarakat. PATS di Samosir menunjukkan bagaimana energi bersih dapat dimanfaatkan untuk memperkuat produksi pangan, mengurangi biaya usaha tani, sekaligus mendukung pengurangan emisi. Pembelajaran dari Samosir ini penting untuk memastikan bahwa inovasi pembangunan tidak berhenti pada percontohan, tetapi dapat dikembangkan dan direplikasi di daerah lain,” ujar Leonardo. Oleh karena itu, integrasi teknologi bersih menjadi pilar utama ketahanan pangan lokal.
Dampak Positif Pompa Air Tenaga Surya di Samosir
Fasilitas infrastruktur pengairan ini mengairi sawah tadah hujan seluas 82 hektare. Lahan seluas itu menjadi sumber penghidupan utama bagi 749 petani setempat. Selain itu, penggunaan pompa surya ini terbukti mampu mendongkrak volume panen padi secara signifikan. Proyeksi produksi beras melonjak pesat dari 50 ton menjadi 150 ton per tahun.
Pengalihan teknologi ini juga menggantikan penggunaan mesin pompa berbahan bakar minyak jenis Pertalite. Skema pemanfaatan energi terbarukan ini efektif memangkas emisi gas rumah kaca sebesar 10,18 ton CO2eq saban tahun. UK Minister-Counsellor (Development) to Indonesia, Timor-Leste, and ASEAN, Peter Rajadiston, memaparkan pentingnya aksi adaptasi iklim. “Perubahan iklim menghadirkan tantangan yang semakin besar bagi sektor pertanian di banyak negara, termasuk Indonesia, seiring dengan meningkatnya risiko kekeringan dan dampak fenomena El Niño terhadap ketersediaan air,” ujar Peter.
Peter menggarisbawahi bahwa program Low Carbon Development Initiative Phase II (LCDI2) ini membawa dampak langsung bagi warga desa. “Inisiatif ini merupakan contoh nyata dari Kemitraan Strategis Inggris-Indonesia dalam mendorong aksi iklim, transisi energi, dan pembangunan berkelanjutan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” jelas Peter Rajadiston. Sebab, ketersediaan air secara stabil merupakan kunci keberhasilan sektor pertanian.
Perluasan Jangkauan Energi Terbarukan
Pemerintah melanjutkan agenda pembangunan melalui peletakan batu pertama fasilitas baru di Desa Pakpahan Kecamatan Onan Runggu. Lokasi pengembangan berikutnya ini bakal melayani area persawahan seluas 73 hektare milik 903 petani. Sebagai contoh, penerapan teknologi surya di lokasi kedua ini berpotensi mereduksi emisi karbon hingga 7,34 ton CO2e tiap tahun.
Bupati Samosir Vandiko Timotius Gultom mengapresiasi tinggi atas dukungan Bappenas dan Pemerintah Inggris. Pemkab Samosir berkomitmen penuh menjaga keberlanjutan operasional mesin irigasi ramah lingkungan tersebut bersama masyarakat. Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Nizhar Marizi menyampaikan penutup terkait keberhasilan proyek ini. “Pengalaman di Samosir ini diharapkan menjadi pembelajaran bagi pelaksanaan pembangunan rendah karbon di daerah lain, sekaligus menunjukkan manfaat nyata kerja sama Indonesia dan Inggris,” ujar Nizhar. Pada akhirnya, kemitraan bilateral ini sukses mendorong kesejahteraan petani sekaligus melestarikan lingkungan.

Tinggalkan Balasan