Media Bangsa – Kementerian Transmigrasi (Kementrans) menyiapkan sebanyak 1.458 Tim Ekspedisi Patriot untuk diterjunkan ke 53 kawasan transmigrasi di berbagai wilayah Indonesia pada 2026. Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pembangunan kawasan transmigrasi sekaligus meningkatkan kehadiran negara di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, menegaskan pembangunan nasional harus menjangkau seluruh pelosok negeri, termasuk kawasan yang masih menghadapi kesenjangan pembangunan.

“Indonesia terlalu besar untuk hanya didiskusikan dari ruang kelas dan ruang ekspresi. Di banyak tempat, tanahnya subur, lautnya kaya, masa depannya besar. Tetapi, kemiskinan masih tinggal di sana. Bangsa ini membutuhkan lebih dari sekadar wacana. Bangsa ini membutuhkan kehadiran,” kata Menteri Iftitah dalam keterangannya, Minggu (3/5/2026).

Program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) dirancang untuk mendukung transformasi transmigrasi melalui kegiatan riset, kajian, dan pendampingan masyarakat secara langsung di kawasan transmigrasi.

Para peserta yang merupakan lulusan D4 dan S1 akan mendampingi masyarakat di berbagai sektor, mulai dari pertanian, perikanan, pendidikan, kesehatan, hingga penguatan ekonomi lokal dan pembangunan infrastruktur dasar.

Masa pengabdian dibagi menjadi dua skema, yakni empat bulan untuk penugasan non-Papua dan satu tahun untuk wilayah Papua.

“Transmigrasi Patriot adalah panggilan. Satu tahun pengabdian untuk turun langsung ke lapangan, menghadirkan harapan baru, membuka peluang kerja, dan membangun ekonomi masyarakat. Karena Indonesia tidak dibangun oleh para penonton, tetapi oleh mereka yang memilih hadir bersama rakyatnya di garis depan pembangunan,” tegas Menteri Iftitah.

Program ini juga melibatkan kolaborasi dengan sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, IPB University, Universitas Diponegoro, Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin.

Namun demikian, Kementerian Transmigrasi menegaskan program tersebut juga terbuka bagi lulusan perguruan tinggi lain di seluruh Indonesia.

“Jika bukan sarjana dari 10 universitas tadi, masih dimungkinkan untuk mendaftar. Ada kolom kesebelasnya, itu adalah kolom perguruan tinggi lainnya, kampus swasta, kampus di manapun di seluruh Indonesia, boleh berpartisipasi dalam program ini,” ujar Menteri Iftitah.

Seluruh peserta akan melalui proses seleksi yang hasilnya diumumkan pada Juni 2026. Selanjutnya, peserta akan mengikuti pembekalan pada Juli sebelum diberangkatkan ke lokasi penugasan masing-masing.

Menteri Iftitah menekankan bahwa semangat pengabdian dalam program Transmigrasi Patriot bukan semata tentang kemampuan individu, tetapi komitmen untuk hadir dan bekerja bersama masyarakat.

“Transmigrasi bukan tentang siapa yang paling hebat. Ini tentang siapa yang tetap tinggal ketika yang lain memilih pergi. Siapa yang bekerja ketika yang lain hanya berbicara. Siapa yang menjawab ketika bangsanya memanggil,” tegasnya.

Melalui program Tim Ekspedisi Patriot, Kementerian Transmigrasi berharap lahir generasi muda pelopor pembangunan yang mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat pembangunan kawasan transmigrasi secara berkelanjutan.

Sumber