Oleh : Ilyas Rozak Hanafi, M.Pd.I
Dosen STAI Ma`arif Kalirejo Lampung Tengah Lampung
Jika kita renungkan, ada sebuah ironi besar yang terjadi di kehidupan digital kita saat Ramadhan tiba. Esensi utama dari puasa adalah imsak, yang berarti menahan diri. Kita diajarkan untuk menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Namun anehnya, ketika berhadapan dengan layar ponsel, kita justru sering kali gagal menahan hasrat untuk “tampil”.
Budaya flexing ibadah mengubah Ramadhan yang seharusnya menjadi momen perenungan yang sunyi (spiritual retreat), menjadi sebuah reality show di mana setiap orang berlomba-lomba menjadi pemeran utama yang paling saleh.
Alibi “Syiar” yang Sering Kali Salah Kaprah
Banyak dari kita yang berlindung di balik kata “syiar” atau “menginspirasi orang lain” saat mengunggah foto sedekah ratusan porsi, video menangis saat salat tarawih, atau tangkapan layar sudah khatam Al-Qur’an di hari ke-15.
Namun, realitasnya, batas antara syiar dan pamer itu sangat tipis. Mari kita bedah mengapa budaya ini perlu digugat:
Pergeseran Fokus (Dari Allah SWT ke Penonton): Ketika kita menyiapkan kamera sebelum berdoa atau mengatur pencahayaan sebelum bersedekah, alam bawah sadar kita sedang bekerja untuk menyenangkan penonton di internet, bukan Sang Pencipta. Ibadah berubah menjadi “konten”, dan pahala diukur dari metrik likes dan shares.
Merampas Estetika Keikhlasan: Sedekah secara sembunyi-sembunyi ibarat karya seni kelas tinggi yang hanya bisa dinikmati oleh pembuatnya dan Allah SWT. Dengan memamerkannya, kita mungkin mendapat tepuk tangan manusia, tapi kita merampas keistimewaan dan rahasia antara kita dengan Allah SWT.
Menciptakan Insecure Spiritual: Flexing ibadah tanpa sadar menciptakan kompetisi yang tidak sehat. Teman di media sosial yang kebetulan sedang sibuk bekerja atau kesulitan secara finansial bisa merasa tertekan, merasa Ramadhannya “gagal” hanya karena tidak bisa berbuka puasa di restoran mewah atau tidak punya waktu luang sebanyak itu untuk itikaf berjam-jam.
Mengembalikan Ibadah ke Ruang Privat
Tidak semua hal baik dalam hidup kita harus menjadi konsumsi publik. Dalam dunia yang serba bising dan memaksa kita untuk terus membagikan segala hal, memilih untuk merahasiakan ibadah adalah sebuah bentuk pemberontakan yang indah. Menyembunyikan amal kebaikan di era media sosial membutuhkan kekuatan mental yang jauh lebih besar daripada sekadar menahan lapar dan haus.
Kesimpulan
Ramadhan bukanlah etalase pameran kesalehan, melainkan ruang privat untuk memperbaiki diri. Budaya flexing ibadah berisiko mengubah amalan mulia menjadi sekadar ajang mencari pengakuan duniawi. Membagikan kebaikan di media sosial boleh saja, namun kita harus selalu mengaudit niat di dalam hati. Pada akhirnya, keikhlasan yang sebenarnya sering kali bersemayam di tempat yang paling sunyi, jauh dari sorotan kamera dan tepuk tangan dunia maya.

Tinggalkan Balasan